Saya berpikiran membawa blog ini untuk sesuatu yang lebih menguntungkan.
Bukan hanya untuk mental saya, mungkin saja untuk Keumala nantinya.
Saya berpikiran membawa blog ini untuk sesuatu yang lebih menguntungkan.
Bukan hanya untuk mental saya, mungkin saja untuk Keumala nantinya.
Sadar nggak, media sosial, terlebih Instagram, membuat standar baru untuk kita?
Melihat banyaknya temen-temen kita yang upload tentang kemewahan, tempat2 fancy, makanan mahal, branded fashion, dan yang sebagainya, kadang mempengaruhi kita untuk "nggak mau kalah". Hmm, kita bisa aja nggak ngaku, lho, kalo dibilang begitu. Padahal, coba liat lagi, deh, apa kita nyaman ngupload makanan warteg atau warsun atau rumah makan Manado pas kita makan di belakang kantor?
Misalnya ada, tapi kayaknya ngga banyak deh. Standar kita untuk ngupload sesuatu di medsos itu jadi lebih tinggi. Padahal, akun juga akun kita. Itu baliknya ke mana?
Jaga image dan personal branding.
_
Dulu saya pake Facebook buat simpen foto2 karena hard disk penuh. Karena di FB bisa masuk ribuan foto dan bisa dipisahkan berdasarkan albumnya. Tapi karena Instagram awalnya hanya bisa upload satu foto, akhirnya kita jadi sibuk milih foto yang paling bagus versi kita. Dan, kebiasaan itu secara nggak langsung menjadi persaingan dan lomba foto paling estetik.
_
Kadang saya udah engap sama Instagram, tapi saya butuh buat kerja. Walaupun ada di Linkedin, tapi kan temen-temen lebih interaktif ketika di Instagram.
Saya cuma lagi mikir, apakah standar-standar itu mempengaruhi kebahagiaan kita?
_
Apa kita akan tambah bahagia atau terlihat bahagia ketika semua moment yang luar biasa yang terekam kamera, dan siap kita upload di sana?
Semacam harus luar biasa gitu. Padahal nggak papa kan kalo nggak ada yang istimewa dan biasa aja?
_
![]() |
| Hehe |
Kalian pernah nggak, ada di titik nggak pengen apa-apa, cuma lagi jalan aja ngikutin arah takdir?
Saya lagi mengalami itu dan mikir, kok bisa gitu ya?
_
Dua bulan ke belakang, saya lagi penuh eager untuk kerja. Lalu, hal besar terjadi dan itu cukup mempengaruhi mood saya.
_
Tapi lagi-lagi, saya memutuskan untuk keep fighting.
Saya siap menghadapi hal besar itu di kantor.
Kita liat ya, takdir membawa kita untuk bersikap gimana nanti di kantor.
_
See you when I see you
:)
Jadi, teman-teman. Saya nggak bermaksud dan nggak expect bahwa twit saya yang ini bisa viral. Aktivitas saya malam itu ditutup dengan makan Umaku Sushi. Ini sushi enak banget yaa Allah, sashimi-nya gede-gede banget ππ
Lalu saya pulang agak malam, mandi, dan setelah itu malah segar.
Akhirnya di tengah malam itu saya ngetwit. Karena memang twitter saya adalah akun lama, jadi banyak mutual saya yang memang followersnya banyak. Dan malam itu, Mas Erwin Arnada, yang kebetulan mutual saya dan followersnya banyak, meng-quote twit saya.
Tapi rasanya saya hanya ingin balas, "Cobain aja dulu, nikah, kak. Testimony later"
Karena yang ngegas banyak yang belom nikaaaah π
Hanya berbeda jam, beberapa teman saya menemukan twit saya sudah lintas platform.
Di Quora, di beberapa akun Instagram, sampai di portal online.
Begitulah, mungkin saya pernah gibah, jadi saat ini dibalas tuntas sama Allah, ribuan pasang mata komenin twit saya, walaupun banyakan yang setuju, sih, wkwk πΆπΆ
10 hari pasca twit saya viral, saya masih tiap hari terima notifnya πΆπΆ
![]() |
| Foto seadanya yah, diambil serabutan sama entah siapa, yang ulang taunnya masih jetlag. |
![]() |
| Terharunya nggak karuan. Apalagi pake ada typo :') Coba dicari mana typonya #yaelahdiyan |