Sabtu, 18 Juni 2022

Sedikit demi sedikit

Saya berpikiran membawa blog ini untuk sesuatu yang lebih menguntungkan. 

Bukan hanya untuk mental saya, mungkin saja untuk Keumala nantinya. 

Rabu, 16 Juni 2021

Sebuah energi patah hati

Kadang kita selalu fokus memikirkan bagaimana nanti. Padahal, pernah saya dengar ceramah; semua yang ada di dunia ini udah Allah yang atur, bahkan ketika kita memegang pipi, itu sudah Allah yang atur. 

Ya manusiawi emang, mengkhawatirkan nanti. Tapi kalo rungsing dan overthinking tentang apa yang belum terjadi, menurut saya keterlaluan, sih. 

Setelah serangkaian panjang – kejadian demi kejadian yang hadir di hidup saya, saya tiba pada titik tidak memiliki ketakutan apa pun di depan. Kondisi saya saat ini; banyak yang memperhatikan, tentu dalam arti yang baik. Keluarga fully supported. Banyak teman-teman yang peduli, paling penting adalah support untuk mental saya.
“Do whatever you wanna do. Make yourself happy first, then Keumala will follow.” Itu yang selalu seperti diingatkan oleh lingkungan saya. Alhamdulillah, Allah kembaliin lingkungan yang hilang ketika saya menikah. 

Saat ini saya menikmati masa-masa saya sebagai single working mom. Saya sibuk. Saya produktif dan menghasilkan. Beberapa laki-laki tentunya juga datang ke hidup saya, dan beberapa menarik, memang. Tapi, ternyata memang nggak semudah itu buat saya membuka kesempatan lagi untuk berkomitmen. Komitmen itu identik dengan tanggung jawab. Ketika saya pada akhirnya memilih, saya yakin bisa bertanggung jawab atas pilihan saya. Tapi, apakah value itu juga dipegang oleh mereka? 
Pengalaman saya memang membawa trauma, jadi ketidak percayaan terhadap orang kadang menjadi blokade dan border yang kokoh untuk laki-laki yang ingin masuk ke hidup saya dan Keumala. Mungkin nanti, nanti, saya yakin nanti ada waktunya untuk sembuh dan bisa menerima kembali seorang laki-laki. 

Selebihnya, saya sempat hidup dari bekal sebuah energi bernama patah hati. Energi yang pada akhirnya juga membuat saya bisa menjelaskan beberapa hal tersebut secara clear. Mereka harus tau, sampai di mana saya memegang teguh prinsip bertanggung jawab atas perasaan seseorang. Dan tentunya, itu yang saya juga harapkan dari mereka. Tentunya, saya juga menyampaikan value itu secara jelas. 

Patah hati bisa menjadi energi. Kembali ke kita; mau terus uring-uringan dan kehilangan banyak hal, padahal waktu terus berjalan. Atau gunakan energi patah hati sebagai kekuatan untuk terus mencari dan memaknai segala sesuatu yang lebih baik. 

Menurut kamu, saya tim yang mana? Tentu, saya tim bubur diaduk, #ehh πŸ˜†

Selasa, 25 Mei 2021

Sebuah Standar Kebahagiaan Baru(?)

Sadar nggak, media sosial, terlebih Instagram, membuat standar baru untuk kita? 

Melihat banyaknya temen-temen kita yang upload tentang kemewahan, tempat2 fancy, makanan mahal, branded fashion, dan yang sebagainya, kadang mempengaruhi kita untuk "nggak mau kalah". Hmm, kita bisa aja nggak ngaku, lho, kalo dibilang begitu. Padahal, coba liat lagi, deh, apa kita nyaman ngupload makanan warteg atau warsun atau rumah makan Manado pas kita makan di belakang kantor? 

Misalnya ada, tapi kayaknya ngga banyak deh. Standar kita untuk ngupload sesuatu di medsos itu jadi lebih tinggi. Padahal, akun juga akun kita. Itu baliknya ke mana? 
Jaga image dan personal branding. 
_

Dulu saya pake Facebook buat simpen foto2 karena hard disk penuh. Karena di FB bisa masuk ribuan foto dan bisa dipisahkan berdasarkan albumnya. Tapi karena Instagram awalnya hanya bisa upload satu foto, akhirnya kita jadi sibuk milih foto yang paling bagus versi kita. Dan, kebiasaan itu secara nggak langsung menjadi persaingan dan lomba foto paling estetik. 
_
Kadang saya udah engap sama Instagram, tapi saya butuh buat kerja. Walaupun ada di Linkedin, tapi kan temen-temen lebih interaktif ketika di Instagram. 

Saya cuma lagi mikir, apakah standar-standar itu mempengaruhi kebahagiaan kita? 
_

Apa kita akan tambah bahagia atau terlihat bahagia ketika semua moment yang luar biasa yang terekam kamera, dan siap kita upload di sana? 
Semacam harus luar biasa gitu. Padahal nggak papa kan kalo nggak ada yang istimewa dan biasa aja?  
_

Hehe

Rabu, 19 Mei 2021

See you when i see you

Kalian pernah nggak, ada di titik nggak pengen apa-apa, cuma lagi jalan aja ngikutin arah takdir? 

Saya lagi mengalami itu dan mikir, kok bisa gitu ya? 
_

Dua bulan ke belakang, saya lagi penuh eager untuk kerja. Lalu, hal besar terjadi dan itu cukup mempengaruhi mood saya. 
_

Tapi lagi-lagi, saya memutuskan untuk keep fighting. 
Saya siap menghadapi hal besar itu di kantor. 
Kita liat ya, takdir membawa kita untuk bersikap gimana nanti di kantor. 
_

See you when I see you
:)

Sabtu, 17 April 2021

Apa Rasanya Viral?

Jadi, teman-teman. Saya nggak bermaksud dan nggak expect bahwa twit saya yang ini bisa viral. Aktivitas saya malam itu ditutup dengan makan Umaku Sushi. Ini sushi enak banget yaa Allah, sashimi-nya gede-gede banget 😍😭
Lalu saya pulang agak malam, mandi, dan setelah itu malah segar. 

Akhirnya di tengah malam itu saya ngetwit. Karena memang twitter saya adalah akun lama, jadi banyak mutual saya yang memang followersnya banyak. Dan malam itu, Mas Erwin Arnada, yang kebetulan mutual saya dan followersnya banyak, meng-quote twit saya. 



Ya abis ngetwit, saya tidur, sih. Pagi-pagi kaget, karena mulai ramai. Di-quote sana sini sama akun yang followersnya banyak. Di-reply sama komika-komika yang biasanya, saya yg nyamber mereka. Sampe 2 hari itu notif full, nggak berenti. Saya kan bukan siapa-siapa, ya. Tiba-tiba viral itu bikin saya deg-deg-an. Tau sendiri kan kekuatan jari netizen kita, kalo udah pro, pro banget, kalo udah kontra, kontra banget. 

Saya berulang kali baca twit saya, memastikan dan meyakinkan diri sendiri, nggak ada maksud nyinggung siapa-siapa. Kan ini pengalaman saya. Hanya, memang ada beberapa penggunaan kalimat/kata yang kurang pas. Tapi temen saya bilang, itu kan twitter, bukan disertasi.


Memang buat orang yang bacanya dengan kepala jernih, pasti ngerasanya twit saya ya gitu aja--bukan yang ada maksud untuk membuat orang nggak punya standar dalam mencari pasangan. Balik lagi, kalo bacanya dengan pikiran jernih, ya. Tapi kan, keadaan orang saat baca sesuatu itu di luar kendali saya, ya. 

Pada dasarnya, itu saya lagi monolog. Karena saya sendiri lagi berpikir, untuk kesempatan ke dua dalam memilih pasangan, saya harus gimana, sih? Masa iya mau nyari yang sempurna? Kan saya sendiri jauh dari kata sempurna. Sesimple itu, teman-teman. 

Segitu banyaknya likes dan RT, disusul juga sahut-menyahutnya temen2 yang kontra. Ada yang akhirnya mereka ribut sendiri. Saya soalnya takut salah ngomong, jadi yaudah, sebagai yang punya rumah nonton keributan aja. Kalo kata temen saya, rem saya masih bagus. Wkwkwk. Cakram, bosssss. 

Lalu apa rasanya, viral? 
Shocked, seneng karena banyak yang setuju, banyak juga yang berterima kasih dan dapet insight (nah yang adem2, bisa cek di quote twit). Nggak lupa, saya juga takut sama yang ngegas padahal nggak paham twit saya 🌝

Di sinilah saya akhirnya tau, menjadi viral, yang harus tebal bukan hanya lemak #ehkok, tapi juga telinga. Karena tanggapan mereka-mereka yang kontra, terdengar seperti teriak-teriakan di kuping saya. 

Tapi rasanya saya hanya ingin balas, "Cobain aja dulu, nikah, kak. Testimony later" 
Karena yang ngegas banyak yang belom nikaaaah πŸ˜‘ 

Hanya berbeda jam, beberapa teman saya menemukan twit saya sudah lintas platform.
Di Quora, di beberapa akun Instagram, sampai di portal online. 

Begitulah, mungkin saya pernah gibah, jadi saat ini dibalas tuntas sama Allah, ribuan pasang mata komenin twit saya, walaupun banyakan yang setuju, sih, wkwk 😢😢

10 hari pasca twit saya viral, saya masih tiap hari terima notifnya 😢😢

Selasa, 17 November 2020

Stress WFH Sampe ke Psikolog? Ada? Ada!

Ternyata menulis adalah salah satu metode healing yang dipakai psikolog. Saya juga baru tau karena seumur hidup, akhirnya baru kali ini saya merasa luber dan nggak tau mau ngapain, jadi saya coba konsul ke psikolog. 

WFH ini mungkin bagi sebagian orang menjadi sesuatu yang menyenangkan. Awalnya saya juga begitu, tapi setelah 8 bulan dijalanin, ternyata kepala saya mau meledak. Kerjaan kadang nggak kenal waktu. Di samping itu, di waktu yang sama saya harus dampingin Keumala. 

Dalam mindset Keumala, ketika Ibu di rumah ya berarti itu waktu untuk main sama dia. Tapi sayangnya, dia harus ngeliat ibunya dari pagi sampe sore di depan laptop. Ini laptop udah berapa kali tiba-tiba ditutup sama dia kalo saya kerja. Kebayang nggak, kalo saya lagi ngerjain deadline, atau meeting, atau udah ngerjain banyak hal dan belom di-save? Emosi-emosi itu nggak sadar membawa saya untuk menjadi seseorang yang amburadul. 

Saya bisa marah banget sama Keumala. 
Dan di sini saya secara sadar minta maaf sama Keumala karena saya marah dan kasar sama dia. 

It's hard, De. Untuk menyadari bahwa yang Ibu lakuin adalah salah. 
Salah satu kesalahan orang tua adalah berat mengaku salah dan minta maaf. Saya nggak mau itu terjadi di antara saya dan Keumala. 

Maka rantai ini harus saya putus. Diawali dengan pendekatan rohani sama Allah. Lalu saya coba memilih konsul ke psikolog dari Yayasan Pulih. Salah satu yayasan yang ngebantu pemulihan trauma. Seperti yang saya sampein di awal, ini adalah pertama kalinya saya konsul ke psikolog. Saya di sini mau cerita sedikit gimana pengalaman pertama kali ke psikolog. 

Intinya, mereka para Psikolog akan dengerin curhat kamu dari A-Z. Mereka akan klasifikasiin kondisi cerita berdasarkan emosi yang kamu keluarin ketika cerita. Misal, kamu nangis kejer pas cerita topik apa. Setelah semua sampah yang ada di kepala kamu udah kamu buang, mereka akan jabarin, tarik garis-garis kemungkinan dan asal muasal kenapa kamu pada akhirnya luber. 

Akan ada metode yang diberikan untuk heal your soul. Ada juga pertanyaan, dulu-dulu/ sebelum di kondisi ini, misal 5tahun ke belakang, biasanya ngapain kalo stress? Lalu ditanya jadwal/ aktivitas apa aja setiap harinya saat ini, untuk menentukan mana stress healing yang bisa di-suggest. 

Pada akhirnya, saya dikasih PR untuk menulis lagi. Awalnya disuruh nulis "daily emotion" yang harus dikasih skala- untuk menentukan mana masalah paling gede yang paling urgent untuk diselesaikan. 
Misal, 17-11-2020, kerja - jam 9 - emosi seneng karena kerjaannya saya suka - skala 8.5/ 10.
Jam 10 - Keumala udah mulai ganggu kerjaan karena ngajak main - emosi mulai marah - skala 8.5/ 10, dsb. Nanti akan diklasifikasiin sama psikolognya apa masalah yang paling ganggu dan paling besar di hidup kamu saat ini. 

So far, psikolog membantu kamu untuk mengurai benang kusut di pikiran kamu. Satu-satu dijelasin, efeknya apa ke diri kamu, pro kontranya, benefitnya. Selama kamu merasa butuh bantuan mereka, silakan. Setiap dari kita punya titik lemah yang kadar toleransinya berbeda. 

Selain merangkai jurnal emosi itu, sedikit-sedikit, saya kembali menulis dan bercerita di sini. 
Karena ternyata, nggak ada temen cerita itu bikin kotak sampah di dalam diri orang itu bisa penuh dan luber. 
Udah dulu ya, saya mau tidur karena besok harus bangun subuh, mau coba lagi rutinin olahraga. 
Salah satu me time yang saya udah lama nggak lakuin, dan itu diingetin sama psikolog juga. 

At the end, yang bisa nyembuhin kamu ya diri kamu sendiri. 
Orang lain, bahkan ahli sekalipun, hanya bantu ngingetin. 
Good luck para pejuang!

Senin, 06 Januari 2020

Keumala Masuk Sekolah

Sebagai seorang ibu dari seorang toddler, akhirnya saya tiba pada sebuah debar yang lain. Sungguh menjadi ibu adalah perjalanan dengan sejumlah debar. Setiap hari.

Hari ini Keumala sudah mulai masuk sekolah. Kelas playground. Enam hari lagi, umurnya insyaa Allah 3 tahun. Orang tua saya takut dan cemas. "Masih kekecilan", kata mereka.

Saya memiliki keyakinan yang lain. Bagi saya, Keumala memiliki energi yang harus disalurkan. Saya terus menerus mengafirmasi Keumala, bahwa sekolah itu menyenangkan. Keumala bisa bermain dengan teman-temannya. Melakukan banyak hal. Dan dia excited.

Beberapa waktu ke belakang, Keumala sedang sangat agresif dan galak. Mungkin dia bosan melakukan kegiatan yang itu-itu saja setiap hari. Setelah masuk ke sekolah hari ini, yang ternyata saya tidak bisa antar (hiks 😭😭😭), saya dapat kabar baik dari orang tua saya dan gurunya. Semua bilang, "aman".

Am a proud mom, Dek!!!! 😭

Saya ambil cuti akhir tahun selama dua minggu, hari pertama saya kembali kerja dengan jadwal meeting yang sudah menanti, adalah hari pertama Keumala masuk sekolah. Sungguh jika ada ibu yang membaca ini, kalian tentu tau rasanya. Debar yang tak lagi bisa diungkapkan. Tapi alhamdulillah, Allah Maha Penolong.

Bapak saya menelpon, "Si Keumala udah di sekolah, anaknya langsung mau sama Bu Guru, utinya ga boleh masuk kelas, tapi Keumala nggak nangis".
Dari balik telepon, saya merasakan debar yang berbeda lagi. Senyum-senyum sambil bersyukur.
Alhamdulillah, terima kasih yaa Allah.

Situasi itu bertahan sampai selesai kelas dan Keumala bisa mengikuti kelas dengan baik. Meskipun, di foto masih terlihat belum senyum. Hahaha.
Semua guru juga bilang, kalau Keumala anak yang mandiri. Yah, memang tuntutan sebagai anak yang orang tuanya pisah, mungkin mandiri adalah hal yang tidak bisa ditawar. Saya percaya Keumala sudah memenuhi kemampuan dasar untuk berada di lingkungan lain selain keluarga saya.

Keumala harus belajar bersosialisasi. Tangki dalam dirinya yang kosong, harus diisi sedini mungkin. Kalau tidak dengan sosok ayah, semoga sosok guru dan teman-teman bisa menjadi sedikit penawarnya.

Semoga ini adalah keputusan tepat sebelum saya akhirnya bisa memilih siapa yang akan menjadi ayah sambungnya.

Selamat datang di langkah selanjutnya, Dek.
Terima kasih sudah menjadi Keumala yang baik hati.
Ibu sayang Keumala.

Bangga πŸ’ž

*abaikan tulisan tangan yang gemetar.

Minggu, 01 Desember 2019

Sabtu, 30 November 2019

Kalau Bukan Kalau Terus Apa?

Tadi mau posting dengan kalimat awal "kalau bla bla". Tapi diapus karena inget, paling males memulai postingan dengan kata "kalau".
Kayak ga ada kata lain aja buat memulai?

Segala sesuatu yang diawali "kalau" itu selalu melahirkan harapan. 
"Kalau kamu jadi istri aku, aku akan perlakukan kamu bla bla bla" 
Duhh, untuk orang yang sudah kenyang dikasih harapan manis, terus diabetes, mungkin kamu harus memilih cara lain selain banjir "kalau". 

"Kalau bulan bisa ngomong, tentu bulan tak akan bohong" 
Tau dari mana wey kalo bulan ga punya bakat bohong? 

Wkwkwk ini gue lagi nulis apa si? 🀣

Nulis "kalau bukan kalau terus apa?" πŸ˜†πŸ˜†

Kamis, 14 November 2019

Mendung dan Pikiran Setelahnya

Cuaca mendung memang sering kali mengaduk perasaan. Khususnya buat saya yang jalan ninjanya sebagai anak melankolis. 

Raga di kantor, jiwa dan pikiran di kamar. 
Nonton film. 
Selimutan.
Minum coklat hangat. 
Untuk makan, pesan di ojek online. 

Tapi itu dulu. Jaman masih single. Setelah ada Keumala? 
"Ibu, ayo main playdough" 

"Iya, ayok."

Assalamualaikum, mendung. 




Jangan ketawa kalian para single fighter. Can relate, ya? Ayo mutualan. 
#anaktwitter :))

Jumat, 28 Juni 2019

Menemukan Tulisan yang Seharusnya Sudah Di-post


Menua bersama.

Pada sebuah waktu, saya terpantik oleh kalimat itu. 
Terdengar indah ya? Ya, segala sesuatu yang dilakukan bersama-sama memang terkesan lebih menyenangkan. Tapi bagaimana bila, kalau janji itu harus direlakan dan tidak sanggup ditepati? 

Manusia bisa punya banyak rencana. 

Lalu, tentang kesendirian memang menyimpan banyak komentar. Padahal belum tentu dengan sendiri, hidup jadi lebih tidak menyenangkan.


Pernikahan yang tidak bisa diteruskan.
Tak ada yang pernah bersiap untuk perceraian. Bahkan sampai saat ini, di mana saya harus mengalaminya sendiri. Peristiwa ini masih tabu, apalagi di keluarga saya. Tapi, bukan berarti hal ini menjadi hal yang tak bisa terjadi.
Betapa sebuah hubungan dan komunikasi bisa seberantakan itu. Dan muara dari segala permasalahan, tak pernah bisa terlihat di mana. Tidak pernah bertemu. Singkatnya, kami hanya sanggup bilang, kalau jalan kami tidak cocok.

Lalu, bagaimana dengan tulisan saya di bawah, mengenai-- bagaimana kami bisa memutuskan bersama, dan lain-lain sebagainya?

Itu masa lalu. 

Apa pun bisa berubah. Bahkan cuaca yang sudah ada prediksinya pun bisa dengan mudah berubah. Bila dapat diterima dengan mudah melalui bahasa keislaman, semua sudah kehendak Allah.
Apakah Allah menghendaki kebersamaan dan/ untuk/ juga perpisahan? Pasti salah satu dari kalian akan bertanya ini setelah baca kehendak Allah.

Saya bilang sekali lagi, sudah takdir. 

Saya mempunyai takdir sendiri jika menikah dengan A, saya punya takdir sendiri jika menikah dengan B, dan saya juga punya takdir sendiri jika menikah dengan C. Saya hanya menjalani garis takdir. 

Pasti berat alasan ini diterima nalar. Tapi saya yang tau dan merasakan sendiri, perjuangan untuk mempertahankan yang sama sekali tidak lagi cocok, adalah sebuah kesia-siaan yang mutlak.

Hidup harus berjalan. Sampai nanti waktunya berhenti, sampai masing-masing dari kita mati.

Dan perceraian, hanyalah sebuah chapter. 

Masih banyak halaman-halaman lain yang lebih menarik untuk dikunjungi.

Keumala, fasten your seatbelt.

___





- Draft on 26 Juli, 2018
Saya memang tidak harus menceritakan semua hal tentang kegagalan ini. Dan tulisan-tulisan yang saya unggah, semua itu bukan untuk drama, apalagi untuk membuktikan bahwa saya tidak move on. Come on, open your mind. Saya rasa ini justru menjadi waktu dan babak baru kehidupan saya. Saya sudah rela tinggalkan semuanya di belakang. 

Saya rasa, saat saya masih sulit menerima keadaan dan berdarah-darah, saya tidak dapat menulis kisah perpisahan. Atau tidak bisa mengunggah apa-apa. Tapi, saat saya tetiba membaca kembali draft ini, saya merasa sudah baik-baik saja. Makanya saya bisa unggah tanpa perasaan yang aneh. Hihihi. 

Semua orang punya cara masing-masing untuk sembuh, kan? 
Alhamdulillah, i'm okay 




Rabu, 08 Mei 2019

Sementara Itu Saya Harus Tetap Sadar


Bagi seseorang, mungkin butuh ratusan kali jatuh, untuk membuat dia mencintai dirinya sendiri. Menerima secara sadar, bahwa ketidakmampuan diri untuk menerima segala hal yang tak sesuai dengan keinginan, adalah proses jatuh bangun yang panjang.

Saya, mewakili jiwa-jiwa yang masih berproses untuk menerima. Saya rasa tak apa untuk berjalan lebih lambat dari orang-orang di sekeliling. Saya rasa juga tak apa, ada hal-hal yang tak bisa saya dapat, sementara orang-orang di sekeliling saya sudah (merasa) memilikinya.

Kadang saya berjalan terlalu lamban. Kadang saya mampu berlari. Kadang saya juga bisa terjatuh. Lagi, dan lagi.

Saya rasa tak apa. Iya, jelas saya sedang menyemangati diri sendiri. Kalau bukan saya, siapa lagi?


***


Ketika saya pada akhirnya memutuskan untuk bercerai, sudah tidak ada lagi hal yang sanggup saya perbaiki, kecuali diri saya. Sudah tidak ada lagi hal yang bisa saya selamatkan, kecuali menyelamatkan diri saya sendiri. Ya, tentunya dengan Keumala. Keumala adalah satu paket dengan diri saya sejak saya menjadi Ibu. Di mana ada Keumala, saya akan terus ada di dalamnya.

Saya dengan sadar mengambil langkah ini, karena saya sudah cukup sadar bahwa selama pernikahan, saya mencoba tetap sadar. Saya sebisa mungkin harus sadar bahwa tujuan saya dalam pernikahan adalah untuk ibadah. Saya harus sadar bahwa saya adalah seorang istri dan ibu, yang mau tak mau harus bisa kuat dalam senyap. Saya harus tetap sadar bahwa kapasitas saya sebagai manusia, perempuan, dan istri adalah tetap di bawah kendali dan ridho suami.

Saya harus sadar akan itu semua.

Menjaga kesadaran selama itu, rasanya saya juga harus sadar; kalau ternyata jalan yang kami pilih sudah berbeda untuk meraih tujuan pernikahan.


***
Saya bersatu karena Allah, saya berpisah, insyaa Allah juga saya niatkan karena Allah.

Selasa, 07 Mei 2019

Yang Terjadi Adalah

Pelan-pelan ya, saya coba kembali- dengan hati-hati memilih bagian mana yang harus saya tuliskan. Bagi sebagian orang yang biasa menulis tentang apa saja, menjadi terbungkam dan dibungkam, berarti bisa saja hidupnya berhenti.

Saya mencoba hidup kembali, setelah beberapa kali mati.
Banyak yang mengira, saya menghilang. Mungkin iya, saya pernah menghilang. Dan sesungguhnya saat itu, saya sedang dalam medan perang yang lain. Berperang yang bukan untuk menang atau kalah. Tapi untuk tetap bertahan- tetap sama-sama hidup- dan tetap sama-sama selamat.

Saya memulai perjalanan rumah tangga dengan seseorang yang menakjubkan. Saya tidak lagi punya simpanan kata untuk menggambarkannya. Hanya mungkin, perasaan dan waktu-waktu itu dipenuhi dengan rasa takjub.

Butuh serangkaian waktu untuk berpikir, apakah saya akan menulis atau tidak. Karena jari-jari saya juga sudah kelu.

Sejak 2016 dan menikah, kehidupan saya berubah total. Saya mulai belajar menyerahkan hidup saya, tentunya dengan keyakinan awal bahwa saya menikah dengan orang yang memiliki satu visi, misi, dan tujuan yang sama dengan saya.
Tak butuh waktu lama, banyak komitmen yang tidak terpenuhi. Betapa pernikahan bisa sesulit itu.

Saya sudah resmi berpisah dengan lelaki yang pernah saya pilih.

Tidak mudah untuk mengakui kegagalan ini. Tidak mudah pula untuk berjuang dan mempertahankan kami. Tidak mudah pula setelahnya, untuk menjalani kehidupan sebagai single working mom. Tapi semua ini hanya tidak mudah. Bukan tidak mungkin.

Saya mengenal diri saya. Saya hanya butuh waktu untuk sembuh. Saya tidak trauma meskipun pernah patah, atau (mungkin) depresi.

Pasti ada pintu lain yang akan saya temui. Seperti rejeki, ada yang hilang dan pasti ada yang akan datang. Selama masih ada usia, Allah akan menetapkan rejeki dalam bentuk apa pun, demi bisa terus berusia.  

Note: Saat ini saya sudah baik-baik saja. Kabar ini mungkin sesuai perkiraan kalian, atau mungkin malah meledak di mata kalian saat kalian baca tulisan ini. Intinya saat ini saya hanya berusaha kembali hidup dan berjalan sebagaimana saya pernah bangkit dan terus berjalan dari jatuh-jatuh sebelumnya. 
Saya mencoba hidup kembali, setelah beberapa kali mati.

Senin, 05 November 2018

Kisah Sapih Menyapih Keumala


Masyaa Allaah.. Alhamdulillaah.. Allahu Akbar… Subhanallaah…
Keumala, makasih ya, Dek. Kamu sangat-sangat-sangat koperatif dalam bab persapihan.

Jadi ceritanya, hampir setiap masuk weekend, saya disandera sama Keumala. Ga boleh ngapa-ngapain, kecuali nyusuin dia (direct breastfeeding dari lahir). Semakin tambah umurnya, semakin amburadul gaya menyusunya, ditambah kayak makin jago nyari celah minta nyusu terus. Singkat cerita, Sabtu kemaren, Keumala lagi iseng ngerjain Ibu dan Utinya. Ga mau makan dari sore. Maunya nyusuuuuu terus. Nangisnya serius banget udah kayak diomel-omelin.

Sepanjang malem juga tidurnya jadi ga tenang, mungkin laper. Jadi cranky dan balik minta nyusu terus—lagi.  Yha, ga kelar-kelar tuh, gitu aja teros. Sampe Ibunya kelaperan. Bangun kliyengan karena tidur kebangun terus.

Di Minggu subuh, dia bangun langsung turun dari kasur, “Mbu, minum”. Dengan mata zombie dan kliyengan saya turun sama dia ambil minum. Abis dia minum sempet main, tapi saya tinggal tidur (saya lagi period ya, ga usah perhatiin udah solat subuh apa belom, hfft). Akhirnya dia nyusul ke kasur minta tidur lagi. Dan bener, dia tidur lagi. Tapi setelah beberapa jam, saya bangun dan ngebiarin dia tidur, tadinya yaa—maunya gitu. Tapi baru berdiri, Keumala langsung teriak, “Mbuuu, nyen” dan langsung kejer. Wow. Super wow.

Sampe pindah kamar dan tetep minta nyusu. Wow. Semua rencana hari Minggu pagi ketunda.

Akhirnya Uti bawain pasta gigi dan dioles ke dada saya. “Liat tuh, Ibu pake obat”.
Keumala mematung di perut saya. Bener-bener mematung. Dia melotot sambil menggigit jarinya. Saya masih diam mengamati, “Apakah tangisnya akan pecah?”. 
Lalu Uti datang lagi bawa Cerelac Puff. “De, mau ini, nggak?”
Keumala langsung turun dari perut saya. Mengejar Cerelac Puff. Saya melongo dan segera bangun.

Sungguh saya belum berniat nyapih Keumala. 

Walaupun sudah beberapa bulan lalu saya sounding di setiap saat dia menyusu, saya bilang tanpa bosan, “Dek, nanti kalo udah 2 tahun, udah gede, jadi udah nggak nyen lagi ya,” Biasanya isapannya terhenti, lalu menatap mata saya, tapi setelah saya senyumin, pasti dia angguk-angguk. Saya kira, dia cuma mau membuat saya senang aja gitu.

Waktu berjalan, sudah hampir jam 2 siang, Keumala belum mau tidur siang. Mungkin dia bingung, gimana caranya tidur sama Ibu selain dengan nyen? Kita nonton TV bareng-bareng, ada kakak sepupunya Tante, Oomnya. Keumala sudah makan siang, saya suruh dia tiduran di kasur sambil saya kipas-kipas. Dan ga lama kemudian, amazingly, belum pernah terjadi sama saya, dia tidur. Yaa Allaah, alhamdulillah.

Saat dia tidur, saya bilang ke Tantenya, “Nanti kalo dia ngelilir minta nyen gimana?”
“Udah lanjut aja (sapihnya), anaknya ga rewel ga teriak2” Kata Tantenya.
Sebenernya saya masih 50:50 niat menyapih dadakan ini, mengingat usia Keumala belum genap 2 tahun. Masih kurang 2 bulan setengah. Saya juga nanya ke Kakak saya, “Gue dosa ga? Kan, Keumala belom 2 tahun?”
“Ya enggaklah. Tapi tersetah kalo masih mau disusuin. Ini mah anaknya ga drama, biasanya nyapih itu diulur-ulur. Misalnya hari ini gagal, besok ulang lagi, ulang lagi, sampe 2 tahun bener-bener berenti. Lah, ini hari pertama aja udah nerima anaknya.” Jelas Kakak saya yang anak-anaknya sudah SD.

Bener juga, sih, Kesempatan emas, ya.

Menjelang malam, saya dag-dig-dug. Gimana yaa, nanti kalo dia rewel? Saat sudah siap tidur dan masuk kamar, biasanya baru matiin lampu atau nyalain AC, Keumala udah ngerengek, “Mbuu, nyeen”. Andalan. Udah apal Ibunya. 

Tapi malam tadi, setelah saya nyalain AC dan matiin lampu kamar, dia naik kasur, dan saya bilang mau ke kamar mandi dulu. Refill oles pasta gigi- HAHAHA. Saya masuk dan keluar kamar mandi dengan harap-harap cemas. Nangis nggak, ya ini anak?

Nggak nangis. Alhamdulillah.

Cuma kita kayak orang baru kenal. Hmmm, ngapain ya ini? Hmmmmmm, mau tidur sih, tapi ngapain dulu yaa ini? YES, AWKWARD BGT HAHA.

Saya memutuskan nyalain lampu lagi dan bacain Keumala buku Halo Balita. Dia bener-bener udah ngerti semua yang diceritain. Lalu dia mengantuk, yawn. Sekali lagi, saya kira kejadian ini hanya ada di TV. Anak belom 2 tahun, didongengin bisa menguap. 
“Nah, Dede udah ngantuk, kita bobo, ya..”

Saya mematikan lampu dan membacakan beberapa ayat yang masuk dalam bacaan sunnah sebelum tidur. Nggak lupa dengan doanya. Seraya saya selipkan doa saya yang keras banget dalam hati, “Yaa Allah tolong berikan kemudahan dalam proses ini, mala mini, dan setelahnya. Aamiiiiiiiiiiin”

Setelah itu, Keumala hanya guling-guling nyari posisi. Guling-guling peluk guling. Guling-guling ambil bantal ditaro di badannya. Serba guling-guling salah tingkah, lah. Saya masih deg-degan. “Apakah tangisnya akan pecah?”(2). Dan ga lama kemudian, amazingly, belum pernah terjadi sama saya (selain tadi siang) dia tidur. Yaa Allaah, alhamdulillah (2). 

Dalam tidurnya, beberapa kali Keumala bangun, tapi cuma merengek. Kebangun pertama mau dikasih minum, ditawarin UHT nggak mau. Kebangun ke-dua, ke-tiga, ke-empat, nangis di kasur, nggak mau digendong, nggak mau dielus-elus, nggak mau sama Ibu. Marah kayaknya sama Ibu. Hiks. 
Tapi saya mengerti sekali, buat dia, nenen is life. Ketika saya harus konsisten untuk berhenti menyusui, tega nggak tega, saya harus siap dengan risikonya. Awalnya saya pikir, saya harus gendong2 Keumala sampe tidur lagi, muter-muter keliling rumah sambil menenangkan nangisnya, ternyata Maha Besar Allah dan kehendak-Nya. Alhamdulillah semua sangat wajar, jauh di bawah kekhawatiran saya sebelumnya.

Pagi ini, Keumala bangun saat saya mandi. Dan dia panggil, 
“Mbu… Minum”

Masyaa Allaah.. Alhamdulillaah.. Allahu Akbar… Subhanallaah…
Keumala, makasih ya, Dek. Kamu sangat-sangat-sangat koperatif dalam bab persapihan.

Sebelumnya saya pernah baca-baca cara menyapih, WWL (Weaning With Love), dll, dll. Tapi ternyata anak saya harus disapih dadakan, dan Alhamdulillah lancar. Saya rasa, ketika seorang Ibu normal yang menyayangi anaknya dan tiba di masa menyapih, harus menyapih, metode apa pun pasti dilakukan dengan Love. Weaning With Love itu hanya teori, praktiknya, seorang Ibu dan anak yang lebih tau.

Happy Weaning, Mommies!!

Jumat, 08 Juni 2018

Pantry Sore Ini

Saya datang ke tengah tiga orang wanita yang sedang ngemil sambil ngobrol di pantry. Ini bulan puasa, hari masih sore. Iya, mereka non islam dan ada yang sedang menstruasi. 

Lalu saya berjalan menuju kulkas. 

Enam pasang mata melihat saya. 

"Lagi mau ngambil susu, buat buka puasa, kemaren aku taro freezer, hihihi" sambil nyengir dan memegang susu kotak coklat dingin saya membalas tatapan mereka. 

"Eh, itu punya siapa sih, bolu udah dipotong2 dari kemaren ngilerin banget?" tanya salah seorang wanita manis, Mba Ratna

"Ngga tauuu" ketiga dari kami menjawab kompak 

"Bukannya yang udah di sini milik umum?" tanya saya polos 

"Eeee, kalo yang ditaro sini (meja), terus ditinggalin sama orangnya, iya milik umum. Kalo yang di kulkas kan disimpen. Kita kan punya adat istiadat ya masa ambil-ambil aja? Jangan dong, kecuali laper banget" sambil senyum manis yang buat Mba Ratna tambah manis

"Iyaya" jawab saya 

"Paling kalo udah laper banget ya diambil dua potong. Hahahaha. Terus pake note, 'ini harganya berapa? Saya ambil dua potong, soalnya mau mati, kelaperan' Hahahaha" Kembali Mba Ratna berkelakar. 

Lalu kata-kata adat istiadat menyangkut di otak saya. Betapa manusia sungguh harus memiliki rem untuk setiap yang dilakukannya. Dengan pegangan adat istiadat tersebut, sesuatu milik seseorang tetap terjaga. 

Keumala, baik-baik lah, Nak. Dalam belajar segala akhlak baik dan mulia. Serta norma, apalagi adat istiadat.

- Cikini, 8 Juni 2018

Rabu, 17 Februari 2016

Pada Satu Lelaki

Rasanya kami tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal lain selain masa depan kami. 

Semalam kamu mengirimi saya foto lewat LINE dengan tangan berlumuran oli. Beberapa jam sebelumnya kamu bilang akan pergi ke bengkel untuk melihat progress motor yang kamu titipkan di sana. Saya sendiri sedang sibuk mencari barang-barang seserahan sampai counter Watson di Margo City menunda waktu tutupnya. "Badan aku bau bensin" pesan itu masuk lewat LINE diikuti foto-foto yang kamu kirim terkait aktivitas di bengkel. Saya baru tahu, kalau mesin motor benar-benar bisa dibelah. Lalu kamu memastikan semua rencana kamu untuk menyiapkan motor untuk kebutuhan saya sehari-hari nanti setelah menikah, berjalan sesuai dengan harapan kamu. Sampai kamu sendiri yang ikut membelah mesin motor. 


Rencana dan tujuan, itulah yang sibuk kami siapkan dan lakukan. 

Beberapa bulan lalu, saya pernah sakit karena seharian hunting dan janjian dengan beberapa vendor catering untuk test food. Saat itu kerjaan saya di kantor lagi super duper padat. Iya, saya tahu, pekerjaan kamu pun. Hingga kamu harus stay di Solo sekian hari. Saya lupa berapa hari. Karena yang saya ingat selama kamu di sana, kamu mengejar kabar dari saya, memastikan segala urusan terkait pernikahan kita yang kamu serahkan ke saya, aman terkendali setelah ter-pending satu minggu karena kesibukan saya di kantor. Sepulang dari Solo, kamu langsung gegap gempita menagih jadwal meeting dengan vendor-vendor catering yang saya temui sebelumnya. Pertengkaran kerap terjadi. Tapi saya dan kamu memutuskan untuk stay, mengingat apa yang sedang kita siapkan, apa yang sedang kita lakukan adalah hal-hal yang berhubungan dengan tujuan kita; menikah, dan bermasa depan bersama. 


Sebuah perasaan tak terlupakan yang hadir pada pertemuan ke-empat. 

Pada pertemuan kita ke-empat, saat segala sesuatu yang kita siapkan untuk rencana menikah, belum ada yang fiks saat itu. Tapi diam-diam, kamu sudah sibuk mencari rumah demi mengamankan hidup saya dan kamu nanti setelah menikah. Sepulang dari rumah kamu, setelah perkenalan saya dengan keluarga kamu, kamu mengajak saya melihat kondisi rumah yang kamu cari di OLX.  Pada saat itu, benar-benar hati saya terjun bebas entah seberapa jauh jaraknya. Saya mungkin baru saja membuat keputusan akan terus jatuh cinta berkali-kali kepada kamu. Bukan karena rumah hasil pencarian OLX, tapi karena rencana (matang) kamu satu demi satu kamu wujudkan, kamu buktikan, tentunya saya menjadi alasan dan orang yang ada dalam usaha kamu membuat rencana (se)besar; menikah. 


Kalimat sakti di penghujung pertemuan pertama kami.

31 September 2015, adalah pertama kalinya kita bertemu. Untuk sebuah alasan yang sama-sama tidak masuk dalam plan kita. Di akhir pertemuan pertama yang berlangsung selama kurang lebih satu jam setengah itu, kita terlibat dalam arus topik yang deras. Kamu bukan orang yang basa-basi dan suka membuai. Pada saat itu saya juga sedang tidak mood untuk dibuai. Di penghujung pertemuan yang bisa disimpulkan, kamu bilang "Semua yang saya cari ada di kamu. Dan semua yang kamu cari ada di saya." Kamu berhasil membuat saya mengingat betapa pertemuan kita benar-benar bermakna di samping "niat karena Allah" yang selalu terngiang sepanjang pembicaraan kita saat itu. Saya pikir, mungkin plan-plan selanjutnya seperti yang sudah kamu wujudkan di atas, adalah buah pemikiran saat kamu berjalan pulang setelah pertemuan pertama kita. Hingga ada pertemuan ke dua, kamu dan saya sama-sama kembali meyakinkan diri. Dan kamu bilang, "tugas kamu sekarang tunggu saya ketemu Bapak kamu." 


Satu hal yang hanya kamu yang melakukannya. Dan saya tak punya alasan untuk bilang "tidak".

Hari itu dipilih, karena weekend. 11 Oktober 2015, kamu berhasil menemukan jalan ke rumah saya. Meskipun kamu harus main jemput-jemputan dengan kakak saya di depan gang. Hari itu merupakan pertemuan ke-tiga antara saya dan kamu. Saya tidak terlalu tahu persis kalimat pamungkas apa yang kamu sampaikan ke Bapak saya. Karena saya sibuk meracik cocktail untuk kamu di dapur. Dan kamu bilang, saya tidak perlu tahu sekarang. Nanti setelah menikah, baru kamu akan beritahu. 
Pada akhir acara makan siang, kepada Bapak, kamu meminta izin untuk berkomunikasi dengan saya. Iya, untuk chatting. "Silakan" adalah kata yang akhirnya keluar dari bibir Bapak yang tersenyum. Karena sejak pertama bertemu, kita sama-sama tidak pernah berhubungan lewat media apa pun. Mungkin hanya lewat doa. Dari situ, dengan restu Bapak saya, kamu mulai menghubungi saya lewat telepon. Dan kita selalu membahas rencana kita; menikah. Saya tidak pernah bisa bilang tidak untuk semua yang kamu rencanakan untuk kita. Saya setuju dengan kalimat yang kamu ucapkan di pertemuan pertama kita, "Semua yang saya cari ada di kamu. Dan semua yang kamu cari ada di saya".


Perjalanan kita begitu singkat untuk sampai di hari ini. Hari yang sungguh disibukkan oleh rencana kita; menikah. 

Pada satu lelaki, 
Saya memilih, menerima, bersedia, dan siap untuk menikah dengan kamu, Yusuf Kharisma Putra. Mari tetap berdoa untuk kelancaran seluruh rencana kita. 

Senin, 21 Desember 2015

draft

Sedang tidak mempersiapkan apa-apa selain masa depan bersama Yusuf Kharisma

Minggu, 22 Maret 2015

Kepada Diyan



Jari-jarimu itu sedang menulis tentang kisah dari sebuah nama. Aku duduk di depanmu sambil sesekali pura-pura tak tau kalau matamu hampir meneteskan air mata. Air mata yang kali ini tak hanya turun dari matamu, tetapi juga turun dari mata langit di atas kafe hitam putih tempat kau menghabiskan Kopi Toraja kesukaanmu. 
Kenapa kau takut menangis? 
Menangislah, adik kecil. Kau akan tetap menjadi adik kecil bagi kakak-kakakmu walau mereka begitu jauh. Kau tak pernah boleh dewasa kalau takut menangis hanya karena dibilang umurmu sudah berkepala dua dengan angka lima di belakangnya. 

Dari aku; bayanganmu. 

Senin, 24 Maret 2014

Bahagia Itu...

Ulang taun kemarin, saya dapet banyak cinta. Berupa ucapan, doa, dan kejutan. Yap, kejutan. Karena itu tadi, saya nggak ekspek apa-apa. Alhamdulillahirabbil alamin saya dikelilingi orang-orang yang sayang sama saya. Mereka gila! Saya cinta! :* 

Foto seadanya yah, diambil serabutan sama entah siapa, yang ulang taunnya masih jetlag.
Terima kasih, Malam Puisi Depok. Saya jatuh cinta sama kalian :) 
Terharunya nggak karuan. Apalagi pake ada typo :') Coba dicari mana typonya #yaelahdiyan

Ternyata, saya baru ngeh, mereka ini, sahabat-sahabat saya dari jaman di kampus, yang bikin dunia kampus berwarna dengan traveling ke mana-mana, mulai dari main ayunan, ngalay di jembatan video klip Cakra Khan di kampus, sampai nyasar-nyasar di Bandung, dari nonton Payung Teduh menuju senja, sampai ngopi cantik ala sosialita, sama merekaaa!! Saya punya hutang sebanyak dosa saya karena belum pernah ngomongin mereka di blog ini. Ya, karena kami terbiasa bersama. :) 

Hana, Vindy, Viena. Mereka tauk saya suka blueberry. Yang asem-asem. Soalnya kalo sama mereka, dunia saya udah manis. Jadi saya butuh penyeimbang rasa supaya nggak diabetes penuh kemanisan. #eaaaa. Hahaha. Tapi katanya, yang blueberry-nya abis, jadi dibawain yang stroberi. Saya merasa sangat princess dikasih kue seunyu itu. Hanya mereka yang bikin saya merasa begitu. Hahak. Butuh waktu lama buat akhirnya itu kue dipotong. Sayang, maunya dipajang ajaaaaaa.
Liat nggak? Mereka udah bisa ketawa setelah saya memutuskan "Oke, kita potong kuenya!!!" *one of the hardest thing, yesterday* Wkwkwkwk.

Yap. Alhamdulillahirabbil alamiin. 

Terakhir, saya hanya mau bilang makasih atas kasih sayang yang melimpah dari kalian. Kegeeran yah? Hihi. Saya bisa ngerasain kasih sayang itu di mata kalian, loh. Sungguh! 
Semoga kebahagiaan ini bukan hanya milik saya, tapi mereka. Mereka yang berusaha menjadi sumber kebahagiaan saya. Terima kasih sebanyak dosa-dosa saya. :')

I think i'm in love with surprise. Hahaha. 

Kamis, 20 Maret 2014

Dua Puluh Empat

Ternyata, semakin sederhana (perayaan) ulang tahun, semakin terasa di dalam hati maknanya.

Selamat ulang tahun, Diyan. 

Terima kasih kepada semua yang bersedia mengucapkan dan mendoakan. Semoga semua doa yang baik-baik, akan berbalik ke kalian juga.

Saya orangnya gampang terharu. lho. Lain kali hati-hati, yah, kalo mau bikin surprise. Hehehe