WFH ini mungkin bagi sebagian orang menjadi sesuatu yang menyenangkan. Awalnya saya juga begitu, tapi setelah 8 bulan dijalanin, ternyata kepala saya mau meledak. Kerjaan kadang nggak kenal waktu. Di samping itu, di waktu yang sama saya harus dampingin Keumala.
Dalam mindset Keumala, ketika Ibu di rumah ya berarti itu waktu untuk main sama dia. Tapi sayangnya, dia harus ngeliat ibunya dari pagi sampe sore di depan laptop. Ini laptop udah berapa kali tiba-tiba ditutup sama dia kalo saya kerja. Kebayang nggak, kalo saya lagi ngerjain deadline, atau meeting, atau udah ngerjain banyak hal dan belom di-save? Emosi-emosi itu nggak sadar membawa saya untuk menjadi seseorang yang amburadul.
Saya bisa marah banget sama Keumala.
Dan di sini saya secara sadar minta maaf sama Keumala karena saya marah dan kasar sama dia.
It's hard, De. Untuk menyadari bahwa yang Ibu lakuin adalah salah.
Salah satu kesalahan orang tua adalah berat mengaku salah dan minta maaf. Saya nggak mau itu terjadi di antara saya dan Keumala.
Maka rantai ini harus saya putus. Diawali dengan pendekatan rohani sama Allah. Lalu saya coba memilih konsul ke psikolog dari Yayasan Pulih. Salah satu yayasan yang ngebantu pemulihan trauma. Seperti yang saya sampein di awal, ini adalah pertama kalinya saya konsul ke psikolog. Saya di sini mau cerita sedikit gimana pengalaman pertama kali ke psikolog.
Intinya, mereka para Psikolog akan dengerin curhat kamu dari A-Z. Mereka akan klasifikasiin kondisi cerita berdasarkan emosi yang kamu keluarin ketika cerita. Misal, kamu nangis kejer pas cerita topik apa. Setelah semua sampah yang ada di kepala kamu udah kamu buang, mereka akan jabarin, tarik garis-garis kemungkinan dan asal muasal kenapa kamu pada akhirnya luber.
Akan ada metode yang diberikan untuk heal your soul. Ada juga pertanyaan, dulu-dulu/ sebelum di kondisi ini, misal 5tahun ke belakang, biasanya ngapain kalo stress? Lalu ditanya jadwal/ aktivitas apa aja setiap harinya saat ini, untuk menentukan mana stress healing yang bisa di-suggest.
Pada akhirnya, saya dikasih PR untuk menulis lagi. Awalnya disuruh nulis "daily emotion" yang harus dikasih skala- untuk menentukan mana masalah paling gede yang paling urgent untuk diselesaikan.
Misal, 17-11-2020, kerja - jam 9 - emosi seneng karena kerjaannya saya suka - skala 8.5/ 10.
Jam 10 - Keumala udah mulai ganggu kerjaan karena ngajak main - emosi mulai marah - skala 8.5/ 10, dsb. Nanti akan diklasifikasiin sama psikolognya apa masalah yang paling ganggu dan paling besar di hidup kamu saat ini.
So far, psikolog membantu kamu untuk mengurai benang kusut di pikiran kamu. Satu-satu dijelasin, efeknya apa ke diri kamu, pro kontranya, benefitnya. Selama kamu merasa butuh bantuan mereka, silakan. Setiap dari kita punya titik lemah yang kadar toleransinya berbeda.
Selain merangkai jurnal emosi itu, sedikit-sedikit, saya kembali menulis dan bercerita di sini.
Karena ternyata, nggak ada temen cerita itu bikin kotak sampah di dalam diri orang itu bisa penuh dan luber.
Udah dulu ya, saya mau tidur karena besok harus bangun subuh, mau coba lagi rutinin olahraga.
Salah satu me time yang saya udah lama nggak lakuin, dan itu diingetin sama psikolog juga.
At the end, yang bisa nyembuhin kamu ya diri kamu sendiri.
Orang lain, bahkan ahli sekalipun, hanya bantu ngingetin.
Good luck para pejuang!