Senin, 19 Agustus 2013

Sampai di Surga Kecil, Sawarna

Baru saja mendarat keren dari Sawarna. Kalau orang bilang ini liburan, ya, ini sungguh-sungguh liburan. Perjalanan yang panjang sekali, baru saja saya tempuh. Janjian di KFC Depok pukul 07.00, tapi karena satu dan lain hal, kami baru berkumpul pukul 09.00 di McD Sawangan. Kemudian siap menempuh perjalanan ke Sawarna. Meskipun ngaret, tidak ada raut kusut dan gelisah. Di malam sebelumnya, kami sudah membulatkan tekad, bahwa perjalanan ini diniatkan liburan. Full of adventure! Sisa liburan tinggal 5hari. Kami akan menghabiskan waktu 4hari 3malam. Maka waktu yang kami habiskan untuk melihat-lihat sebuah pulau -minimal desa, kami rasa cukup.

Beberapa accident memang terjadi saat kami dalam perjalanan menuju Sawarna. Karena jalur yang kami tempuh sangat-sangat juara. Kami melewati tiga buah gunung.
Gunung pertama, Jasinga - Bogor
Ada gunung dengan pemandangan memukau, ada gunung dengan jalan berbatu, ngebul, dan kanan-kiri jurang, ada juga gunung yang kanan kirinya hutan, berbatu, ngebul, dan dilewati maghrib-maghrib. Dua kali, ban belakang Cebong (nama aslinya Rafi, sih) mengalami masalah. Tapi, kami semua sepakat, back to niat. 'Full of adventure' kali ini sudah menjadi tagline yang kami kukuhkan di dada kami. Tidak ada saling menyalahkan, tidak ada saling menggerutu. Bahkan ketika dua belas jam perjalanan yang kami tempuh (seharusnya Depok-Sawarna hanya sekitar 7 sampai 8 jam), wajah-wajah kami masih bisa ditakar. Tidak melebihi takaran kegundahan atau wajah penuh murka karena nggak sampe-sampe Sawarna. Sawarna adalah salah satu nama desa di Pulau Bayah, Banten, memiliki nama pantai yang sama seperti nama desanya.
Longway to heaven, -kamera Android, edit Instagram

Pulau Bayah, adalah pulau yang memiliki beberapa desa dan masing-masing desa memiliki pantai. Jadi sepanjang Pulau Bayah, kami kenyang dengan suara ombak besar yang bergulung-gulung, pasir putih, pasir coklat, pasir krem, pasir hitam, dan karang-karang. Namun jangan salah, kami juga kenyang dengan pepohonan hijau, pohon menjulang-pohon kelapa, jalanan kecil berkelok menuju gunung-gunung dan perbukitan. Bahkan di pesisir pantai kami menemui hamparan sawah.

Pukul setengah sebelas malam waktu setempat, dengan kanan-kiri sawah, bukit, dan suara ombak (baca; gelap gulita, jarang rumah penduduk), ditemani bintang-bintang (kami semua melihat sebuah bintang jatuh! akkkk!) dan bulan sabit yang memanjakan mata kami, akhirnya kami sampai di Pulau Bayah. Namun, karena sudah larut, kami berpikir, sepertinya home stay, room, villa, atau lain-lain yang sejenis, sepertinya sudah pada tutup. Tidak enak mengganggu dan mengetuk-ngetuk pintu Pak/Ibu Owner. Akhirnya kami memutuskan untuk menepi dan menginap di masjid atau musholla setempat. Sampai akhirnya kami melihat sebuah masjid (juga melihat dua ekor ular di tengah jalan, yang satu mati terlindas, yang satu masih melongo tengah malem) dan memastikan bahwa kami akan bermalam di pelataran masjid tersebut. Banyak orang yang sudah lebih dulu uncang-uncang kaki di pelataran masjid itu. Untungnya masih ada space untuk kami. Saya dengan sigap, mencari posisi untuk meluruskan kaki, karena kondisi mata dan (maaf) bokong, sudah berpapasan dengan usia, mungkin harus secepatnya diperjuangkan agar selamat. Hahak. 
Bermalam, minjem sleeping bag Jadran, numpang solat, serta beres-beres muka (dan yang harus dibereskan -bukan kenangan, lho- HAHAK, di masjid ini)
Saya baru sempat foto pagi-pagi. Ngeri juga kalo ngeluarin kamera tengah malem gitu, niat foto masjid, tau-tau kepatok uler. Hih. Lalu, karena saya orangnya polos, saya berjalan terus ke belakang masjid, sambil nunggu yang lain bangun dan siap-siap melanjutkan perjalanan. Saya kira batu di belakang masjid adalah karang, dan ke sanaan dikit adalah laut atau pantai, ternyata, itu makam. Jeng jeng jeng jeng. Jadi semalam saya tidur sebelahan sama makam, itu juga ga sadar kalo nggak ngezoom hasil foto dan dikasih tau sama Faisal. Untung taunya pas udah pagi, pas udah mau cabut dari situ. *kabur*
Saya kira itu cuma semacam batu prasasti, see? Polos kan? *kalem*
Lalu, setelah semuanya siap, kami melanjutkan perjalanan, tujuan kami adalah mencari penginapan, menaruh barang bawaan, lalu menyusuri pantai. Feeling saya kuat sekali untuk mencari penginapan Villa Suma. Suma merupakan nama owner-nya. Harga sewa villanya dipatok permalam satu juta-karena katanya, sedang musim liburan-lebaran. Akhirnya setelah tiga jam tidur-tiduran di rumah bambu menunggu Pak Suma pulang dari bank, kami mendapatkan harga yang cocok. Lantas saya langsung guling-guling di halaman rumah Villa Suma yang isinya adalah puluhan pohon kelapa, lalu ke sanaan dikit, sudah bibir pantai. I called it 'Pintu Surga'

Pondok Bambu di belakang Villa Suma -kamera Android, edit Instagram

Guling-guling dan memotret pakai self timer, tanpa mandi. Siapa peduli? ;)
Kami masih menahan diri untuk buru-buru terjun dan gegoleran di pantai, kami nikmati dulu batang demi batang pohon kelapa yang menjulang tinggi di pelupuk mata kami. Saat masuk ke dalam rumah, melempar sepatu, dan lupa dengan lapar, kami bersyukur akhirnya perjalanan ke Pulau Bayah selamat dan lancar. Saatnya sandal jepit dan kacamata hitam! Pukul 11.00 di Pulau Bayah terik sekali meskipun anginnya kencang menerpa pipi-pipi kami, mengucapkan selamat datang.
Status-status kami harusnya berganti: "Maaf, sudah di pintu surga. Call me later" :D -kamera Android
Maka begitulah. Sisa-sisa hari kami, tidak usah ditanya. Kami habiskan dengan menyusur kembali desa-desa, bukit dan gunung, jembatan kayu, goa-goa, teluk, hutan, pasar, lapangan, padang pasir, untuk berjumpa dengan hal yang sesungguhnya biasa orang cari, 'kebahagiaan'. Tidak semua foto akan di-share, karena kami bukan tukang foto. Saya juga hanya penikmat jalan panjang terjal dan berbatu yang ingin mengenalkan surga kecil di Jawa Barat, Pulau Bayah, Banten. Mari berkunjung ke sana, maka kamu akan bersyukur diberi kesempatan Tuhan untuk melihat surga kecil.

Kalau orang bilang ini liburan, ya, ini sungguh-sungguh liburan. Libur dari jejal-jejal pikiran tentang kamu, sibuknya timeline, dan menghapus warna gelap di pelupuk mata.

Salam keren! ;)



Sedikit oleh-oleh, foto-foto dari kamera Android jadul setelah melanglang buana, guling-guling, dan gegoleran 4hari 3malam. #NoFilter kata anak-anak jaman sekarang, mah :D

Selasa, 30 Juli 2013

Mimpi dari Telur


Dari Google
Ada cerita dari seorang Bapak Pemetik Kelapa. Seorang bapak yang punya mimpi. Mimpi yang luar biasa. Saat beliau sedang memanjat pohon kelapa, beliau menemukan sebuah sarang burung kecil yang tersangkut di antara sela buah-buah kelapa. Entahlah, kenapa pohon yang kurus, tinggi, langsing, dan berdahan tanpa cabang malah dipilih seekor induk burung untuk menjadi persinggahan sarangnya. Burung apakah yang rela bolak-balik terbang tinggi-tinggi dan mondar-mandir mengumpulkan bahan untuk membuat sarang dan bertelur, lalu meninggalkan keduanya? Tidak tahu. Bukan hanya saya yang tidak tahu. Tapi Si Bapak Pemetik Kelapa juga tidak tahu itu telur burung apa. 

Setelah Si Bapak menjatuhkan beberapa buah kelapa ke tanah, kemudian beliau mengambil telur yang ada di sarangnya dengan hati-hati dan membawanya turun.
"Ini telur burung apa ya kira-kira?"
"Nggak tau. Nemu di mana, Pak?"
"Di atas, itu loh ada sarang burung"
"Kok bisa, Pak?"
"Ya apa yang nggak bisa di dunia ini?"
Hening.

"Jadi nanti, saya tetaskan telur ini, kemudian saya rawat sampai gede, lalu nanti burungnya saya ternakkan, lalu hasil ternaknya untuk membeli sepeda motor, lalu akan saya siapkan anak buah untuk ngojek, hasil ngojek akan saya gunakan untuk beli mobil, lalu saya jadi juragan angkutan, lalu nanti saya belikan kereta api, uang hasil sewaan kereta api akan saya belikan pesawat terbang... Ngeng.... Ngengg...." Beliau masih menggenggam telur burung itu, diajaknya berdansa dalam genggaman seperti menerbangkan pesawat kertas. Mimpinya luar biasa tinggi, jauh lebih tinggi dari pohon yang baru saja dipanjatnya, walau hanya berbekal sebutir telur burung temuan di pohon kelapa. Saking semangatnya, telur itu terlempar membentur pohon kelapa.

DUGG!!. PYARRRRR. 
Google - Edit


Mimpi itu seketika hilang. Pecah. Berantakan.

"Hahahaha." Beliau tertawa kencang sekali.
Mungkin menertawai mimpinya yang baru saja hancur beleberan.

Senin, 17 Juni 2013

Saat Sekeluarga Sakit

"Usahain jangan ngeluh ya, ujian kan buat lo naik kelas" - MbaJel 

Bener! 
Setelah ngobrol sampe mucrat-muncrat perihal kepindahannya, entah saya aja yang ngerasa atau dia juga, kalo kita malah jadi intens bertukar kabar. Kalo saya emang ngaku, sengaku-ngakunya. Saya keilangan dia banget di kantor. Dia kayak Uje versi cewek, yang meyakinkan saya untuk menentukan apa mau saya lebih dahulu, baru nyari solusi atau menentukan dengan taktik apa saya meraih mau saya. 

Biasa, lulusan psikologi. Jadi ya lebih mateng, secara umur juga lebih tua. Hahak. 
MbaJel itu lagi fokus-fokusnya nyari "satu formula" buat sharing ke siapa aja yang dia kenal, untuk ngasih tau, bahwa kita sebenernya adalah makhluk yang on the way. On the way to go to heaven. 

Kita semua sudah tau, bahwa kita menginginkan surga. Kita semua sudah tau, bahwa surga itu ada di ujung jalan lurus yang lagi kita lalui saat ini di hidup. Hanya saja, dalam jalan utama ini, ada banyak belokan yang memanggil-manggil untuk dilewati. Kalo MbaJel bilang, "Dari jaman Nabi Adam, setan kan udah bilang, kalo dia bakal terus ganggu manusia dari jalan yang lurus, sampe kiamat." 

Nah, get the point? 

Seberapa jauh kamu belok? Silakan tanya ke diri sendiri, Diyan. 

Layaknya manusia yang lain, kita pasti bertanya-tanya kenapa, kan ya? Kalau kayaknya musibah dan cobaan beruntun datang. Saya pribadi nggak sedang bertanya kenapa. Tapi sedang menata hati supaya bisa nerima, dan terus bersyukur. Melihat kondisi keluarga yang, yah, sedang begitu deh. Melihat mimpi saya yang satu per satu mulai runtuh--karena mungkin saya kurang ambisius, atau apa pun itu. Melihat keadaan diri sendiri yang sedang mengenaskan. Macam manusia yang nggak punya hati, yang hatinya udah digantung di langit-langit kamar buat diketawain sebelum tidur, mulai bersarang, dan berdebu. 

Ya, saya lagi ngerasa nggak punya hati. Seperti udah bosen apa-apa disangkutin pake hati. Sekarang kalo ngeliat cuma dari realiti sama kenyataan aja. Bisa ternyata hati disetir buat ke arah sana. 

Ngetawain orang yang jatuh cinta (apalagi sama saya). Ngelirik jijik sama orang pacaran di Rumah Sakit yang ganggu banget ketawa-ketawa di ruang tunggu. Untuk hal-hal itu, MbaJel tau banget nih, karena kita ketawa bareng, hahaahaha. Tapi parahnya, beberapa kali menanggapi cerita mimpi-mimpi anak-anak cuma dengan "good! catch it!" Nggak pake hati. 

Mungkin sedang begitu banyaknya cobaan yang sedang datang, kali ya. Jadi hatinya kayak udah terkuras sendiri. 

Makanya MbaJel selalu ngingetin saya buat jangan ngeluh, karena ujian itu buat naik kelas. 

Inget, Diyan, mau naik kelas, nggak? 
Bersyukur tuh ditawarin Allah buat naik kelas. 
Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur!

Selasa, 11 Juni 2013

Inget Debby

Kembali akan bercerita tentang Debby Aryunita. Sahabat saya yang seksinya kayak Paris Hilton. Saya pernah bercerita tentang Debby di tahun 2010. Saat dia mau pulang dari Belanda. Ngapain dia di Belanda? Ya baca aja dulu di sini. Saya ngakak sendiri, sih pas bacanya. Inget seberapa irinya liat kasih sayang seorang bule. Hahaha. Bule itu sweet banget ya kelakuannya. *jadi nginget-nginget pas Debby sama Mike ngakak-ngakak di telpon kalo saya sama Debby lagi di Bloc. Kafe FISIP UI. Inget banget panggilan 'Schatje' nya nggak pernah ketinggalan. Tau, deh, lupa tulisan Schatje nya gimana. Googling aja gih, 'Sayang' dalam bahasa Belanda.

Si Schatje-nya Debby ini manggil saya crazy girl. Mike sering nitip salam buat saya, itu biasanya kalo kita dulu komen-komenan di FB. Entah apa yang diceritain Debby ke Mike tentang saya. Emang hubungan mereka asik banget, deh, jadi becandanya Bule dengan Betawi itu nyampur, rame. Dari ngomongin perasaan sampe ngomongin dagangan jepitan abang-abang.

Sebenernya, kalo diinget-inget, sih, irinya itu, si Mike sayang banget sama Debby. Sampe apa aja dikasih ke Debby. Kayak pas Debby iseng mau beli sepatu yang 600ribu di PIM, tuiiiing, langsung ditransfer dari Belanda. *matre detected, lu yan, fokusnya ke sana* HAHAK. Bukan, bukan gitu, maksudnya. Maksudnya, ibarat kata, kalo Debby pun minta matanya Mike dengan alasan supaya Mike nggak jatuh hati sama cewek lain, kayaknya Mike bakal lakuin. *hening seketika*

Ciye, Debby, yang disayang banget sama Mike tapi nyelingkuhin Mike karena alasan LDR. *keluar tanduk*

Emang brengsek nih anak. Ga tau diri. Hahaha. Emosi.
Mike udah ke Indonesia cuma buat nemuin Debby. Nemenin belanja. Nemenin hang out. Nemenin berenang. Jauh itu yang nemenin dari Belanda. Malah diputusin gara-gara alasannya nggak kuat LDR, nggak kuat kalo nggak liat pacarnya di depan mata. Pas Debby selingkuh, saya nggak paham kenapa saya marah banget. Selingkuhnya di depan mata saya soalnya. Udah foto-foto sama Jo, temen lamanya yang baru ketemu lagi, udah clubbing bareng, diupload di FB, di twitter. Sampe saya DM ngomel. Nanya kronologisnya.

Debby bilang, "Gue butuh pacar yang ada di depan mata, Yan, yang bisa nemenin gue kapan pun gue butuh temen. Punya pacar kok jauh, itu susah kalo kangen" lalalalalala *tonjok*
Selama baru pacaran dan belum ada Jo, dia fine-fine aja itu, foto di Paris, di tengah salju Belanda. Pokoknya Debby udah sampe terbang ke Belanda dan keliling Eropa pas liburan. Mikirin uang dan biaya hidup di sana? Ya enggaklah. Enak bener kan idupnya, ya.

Akhirnya, dengan datangnya Jo, putuslah dengan Mike. *pelet Mike*
Ya, harusnya sebagai sahabat yang baik, saya melet Mike aja ya dulu, biar Mike nggak patah hati banget. Sini, Mike, come to Mama *bawain obat merah* ngggg...........

SKIP!

Nah, setelah dijalinnya kisah cinta yang baru dengan Jo, life is well, ya Deb... *keliatannya

Sejak kuliah di semester-semester akhir, semua avatar pasti foto berdua. BBM, Twitter, Facebook, sampe Instagram, sampe dua tahun. Kalo diganti pun, cuma ganti moment, tapi fotonya selalu berdua. Iri? Enggak. Bosen, iya. :))

Seinget saya, saya ketemu Jo cuma sekali. Tapi udah lupa mau ngapain, ya, itu dulu. Ketemunya juga cuma di Kober, sama Debby juga, sih. Sisanya ketemu di Facebook. Ya, akhirnya, di sinilah fungsi sahabat, kayaknya. Seberapa pun nggak setujunya sama hubungan mereka, tapi berusaha tetap menerima, (baca: nerima curhatan Debby tentang Jo-kadang) karena Debby senengnya begitu. Ya, saya cuma punya pendapat, bukan punya aturan yang harus mereka turuti. Ya, kan? SIAPA ELU, YAN? :))

Lalu, *jengjengjeng* saya liat Debby ganti avatar dengan dua temannya. Satu cewe, satu cowo. Jadi mereka bertiga. Dan dia menulis status, "sepi amat nih BB, rusak apa ya?"

Setelah dua tahun, setelah segitu lamanya avatarnya nggak berganti tokoh, tetiba berganti........
*drum roll*

Saya: Debbbbbbbbbbbb
Debby: Yannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn :(
Saya: Let me guess, putus?
Debby: Yes :( Lagi mencoba kuat nih, Yan. Doain ya.

*Konfeti meledak dari dada* 
Entah itu kaget, membuncah, atau apa nama perasaannya. 

Dengernya, sih, sedih juga si Debby sedih, tapi kok semacam saya sudah menebak, ya? :D
Dan yang nggak bisa tergantikan dengan orang lain adalah moment seberapa saya terjatuh atau Debby terjatuh, pasti ada analogi yang enek menurut pandangan mata. Semisal keadaannya kemarin, "Kalo ibarat borok nih, Yan, gue lagi bernanah banget" 

Selalu ada kata-kata yang membangunkan ulat-ulat kecil di perut. So that's our friendship, guys.

Dilalui dengan chat yang panjang dan berakhir, "Sering-sering tanya kabar gue, ya Yan" 

Lalu, apa kabar kamu hari ini? 
*mau ngasih tau ke Debby, ah, tentang postingan sekarang, dan saya tertawa membayangkan tawanya* 

Semoga persahabatan kita tetep garing-garing basah seperti waffle blueberry Kober dan tidak terpisah jarak bukit Sawangan rumah kamu-setelah dibrengsek-brengsekin di atas. 
*sungkem* *ketjup basah*

Selasa, 04 Juni 2013

JUNI

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono

Rabu, 22 Mei 2013

Perkenalkan, Mereka Adalah

Terkait postingan kemarin, anak-anak ini minta fotonya dishare di blog. Disangkanya, semacam ini blog yang baca jutaan orang kali ya setiap hari? Padahal paling banyak dikunjungin juga cuma puluhan seharinya. 

But, it's okay. Sini saya uploadin foto kalian.

Dimulai dari sebelah kiri. Kinan yang mau jadi Arsitek. Saya kira Kinan mau jadi Politisi. Secara Papanya anggota DPRD dari Parpol Hanura apa Gerindra, gitu deh, lupa. Aku nggak inget, Nan, soalnya Papa kamu nggak sponsorin LOVISIA kemaren. *dilempar ulekan sambel Betawi Ngumpul sama Mama Kiki*  But, setelah dikonfirmasi, katanya dari Partai Ngeringga. Ini kamu sendiri, loh, Nan, yang bilang. *melenggang imut*

Sebelah Kinan, ada Dea. Dea ini punya ribuan foto di setiap kamera temen-temennya. Bagus, De. Soalnya kalo jadi PR harus nggak takut kamera. Lalu Dea yang saya bilang paling bawel. Wait. Dea bukan paling bawel. Hanya paling excited kalo cerita. Paling berkobar kalo ngomong. Dan paling nggak bisa diberentiin kalo udah ngebahas sesuatu. Kelebihan Dhea itu bisa ngomong satu paragraf setelah narik nafas satu kali. Dan itu bagus, De, buat public speaking! Buktinya invitation LOVISIA bisa laku 400tiket dalam sekejap. *ini lebay* :')

Kalo Fira, dengan pembawaan yang agak beda. Manja-manja, sering skip, sering bengong gitu, katanya mau jadi Psikolog. Dia mau banget ngambil Psikologi UI. Fira ini kalo ngomong lucu, mungkin efek manja kali ya. Jadi bibirnya diimut-imutin gitu. Nah, jadi lucu apa sok imut, tuh? *dijitak Onta-nya Fira* Ada hal yang nggak bisa saya lupa dari cerita Fira. Fira ini dianter-jemput sama kakaknya. Saya bingung, kok kakaknya mau aja ya, rajin banget. Saya kira takut Fira lecet kena debu angkot. Ternyata, karena kakaknya dulu pernah diculik dan penculiknya minta tebusan. Besar juga tebusan yang diminta, puluhan juta. Makanya Fira jadi dianter-jemput sama kakaknya. Padahal kalo tau cerita itu sebelum LOVISIA, aku culik kamu, Fir, terus minta tebusan 30juta sama mama kamu buat sponsor LOVISIA. *kalem* 

Ini dia, Cliff. Udah keren, tuh pake jas. Apalagi nanti pake jas putih a la dokter. Ditambah kacamata yang tumben itu kamu lepas. :p Cliff mau masuk Kedokteran UI. Saya sih yakin dia bisa masuk sana. Soalnya, kamu masuk Metro TV dan pergi ke Brazil aja bisa. Hahaha. Jadi, Cliff ini kemaren sempet ke Brazil karena melakukan sebuah penelitian gitu. Judulnya Utilization of Rain Drops as Potential Alternative Energy Resources. *diiringi lagu Coldplay yang judulnya The Scientist* Tapi prestasi yang paling melenceng kayaknya menjadi LO dari Matthew Sayersz. Ga ada hubungannya sama IPA tuh :p Eh, ada deng. Dia bisa meneliti apa gaya tarik-menarik Matthew Sayersz dan fansnya. HAHAHA. 

Kanannya Acha. Nah, Acha ini dipanggilnya Mbacha. Acha ini pembawaannya emang paling dewasa, sih di antara anak-anak. Di antara anak-anak lain yang hidupnya repot, sih maksud saya. Haha. Acha termasuk gadis repot yang repotnya masih manis. Semanis senyumnya tuh, di atas. Repotnya Acha beda, kalo yang lain repotnya nyebelin. *pisss* Acha pernah saya omelin karena salah beresin ID Card LOVISIA. Saya bilang, "Cha, plis, masa kamu beresin hal simple kayak gini aja nggak bener, sih? Masa harus aku juga?," emosi tingkat dewa. Saya inget banget tuh, soalnya udah H-berapa tapi hal simple aja masih dibikin kusut. Sampe Mas Reza geleng-geleng.  Tapi setelah dipikir, saya salah juga sih, kenapa nyuruhnya Acha ya? Acha itu asisten stage manager, yang kusutnya lebih parah di antara semuanya. Kalo dia salah, bisa diamuk penonton. Jadi, bukan dia seharusnya yang ngurus hal sesepele ID Card. Maapin aku ya Mbacaaa :( Lalu, belum lama dia pacaran sama Zuhridin. Karena paling dewasa di antara yang lain, kayaknya Acha maunya punya hubungan yang serius dan lebih quality time, deh. Jadi dia suka keliatan galau. Haha. Kalo yang lain pacarannya masih keplak-keplakan unyu. :D Terakhir, saya lihat Acha mau ambil jurusan Design Interior atau Manajemen Perhotelan di SGU. All the best for you, Mbachaaa :* 

Nah, ini dia klimaksnya! Didit. Dia itu agak beda, saudara-saudara. Didit itu lekat dengan keeksistensian diri. Jadi, ini anak maunya gahul sana-sini. Clubbing sampe pagi terus jatoh dari motor, nongkrong di Sevel dari Sevel buka mungkin sampe tutup. Coba kapan tutupnya? Orang Sevelnya buka 7 hari 24 jam. Hahaha. Kabar terakhir, lagi pusing nyari dana buat Ipadnya yang..... *sinyal ilang* Pasti langsung sedih rempong deh baca bagian ini. :p *bantuin doa* Didit itu saking hitsnya setiap sebelas menit sekali post foto di Instagram dengan hitsnya wajah dia. Dan wajahnya akan kurang hits kalo belom pinjem pensil alis saya. Padahal alisnya udah setebel ulet bulu itu. Nggak paham. Dia paling jago buat jalan di atas catwalk. Sudah beberapa kali ikutan Remaja Ceria. Semacam ajang Abang None Jakarta gitu, deh. Nah, udah terbukti, kan, prestasinya ada di bisang apa? Saya sih berharap dia tetap berada di jalan yang benar, mengingat cara dia memperlakukan make up dan hair do jauh lebih jago ketimbang saya :'' Dit, inget! Dunia abu-abu itu nggak selamanya asyik! Kamu aja mau dapet kepastian kan kalo galau sama pacar, ayo pastikan satu pilihan. Be your self and keep on the right track! :* 

Yak, ini dia postingan disela kusutnya pikiran tentang LOVISIA part 2. Sebentar lagi Bintara mau pensi juga. H-6. Kali ini saya kusut di-ending, mendinganlah. Daripada LOVISIA. Kusutnya dari awal. Hahaha. Tapi persahabatan kita dimulai dari LOVISIA ya, teman-teman. Kita saling menerima dan memaklumi kekurangan kita, ya. (STOP, entar sedih lagi) 
Ini deh, kenang-kenangan dari Mbadiy buat kalian. *ngapus dosa karena sering ngomel* Hehehe. 
MUACH :* 

Sampai jumpa di cerita yang lain, ya Sayang-sayangku :* 

*brb bales komen yang kemaren* :D

Minggu, 19 Mei 2013

Ah!

Setelah hanya sempat bawel ke sana-sini di dashboard blog dan menyimpannya menjadi draft karena nggak pernah selesai, akhirnya.... 

Sabtu datang! Wait, ini udah Minggu. Ah!

Belum pernah selama di kantor ini sangat merindukan Sabtu. Baru sekitar dua bulan terakhir seperti mendamba Sabtu. Apalagi seminggu ini, kantor lagi rusuh sekali. Semuanya mengadakan acara. Ya tribute to kakak kelas, perpisahan, pelepasan, gathering night, persembahan, dan apapun itu mereka menyebutnya. Membuat saya ikut-ikutan teler. Mereka (siswa/i) punya ide yang loncat-loncat, yang harus sedikit ditarik biar inget kalo masih ada aturan, biar tau kalo masih ada hal yang lebih penting, dan barang yang murah yang bisa dipake buat ide-idenya. Dan yayasan, punya mau yang gimana pun, harus bisa dijadikan kenyataan dengan bantuan ide anak-anak. Gilaaak, di sini saya ngerasa jadi koordinator Event Organizer. 

What? EO? Iya, itu dia. Saya sempet punya cita-cita mau bikin EO. Mau bikin acara-acara seru dan melayani mereka yang kurang kreatif dan nggak mau repot. Mau jadi power di belakang layar. Selalu suka kepuasan jadi orang belakang layar. Makanya, dengan sukarela penuh cinta kasih dan kedamaian, saya membantu mereka untuk mikir agar semua kegiatan berjalan luancar, berkesan, dan yaaa, keren lah yaa. Hahaha. Gitu. Makanya sudah seminggu full pulang malem. Tapi, mungkin itu namanya cinta. Ahhh, udah, lagi nggak mau disambungin ke sana. Hehe. 

Baru berasa sekarang, kakinya seperti ketiban perahu. Engga tau kenapa perahu. Yang kepikiran perahu abisnya. Terus mungkin otaknya udah ngebul gitu kali yaa, jadi kayak sumpek aja gitu. Mata aja berat banget nulis ini. Ngeri ketiduran nih sebelum posting. Hehe. 

Intinya di sini, saya mau mengucapkan kepada kalian wahai teman-teman dan sahabat-sahabat saya di kantor, Fira, Kinan, Acha, Cliff, Didit, Dhea, Afiff, Daniel, Ire, Gibran, Ayu, Anjas, Rayi dan ah, semuanya! Masih banyak sekali itu anak-anak yang deket sama saya yang nggak bisa saya sebut semua, selama hampir setahun belakangan, selamat melanjutkan perjalanan! Seperti yang selalu gue bilang, "Dunia kampus itu sungguh-sungguh jauh lebih seru ketimbang SMA." Kalian pasti bertanya alasannya dan saya memberitahu sejuta alasan yang kalian bayangkan dan imani. Kalo Mbakdiyyyy nya boong gimana hayoo? Payah nih, percaya-percaya ajaa. Iya, mereka manggil saya Mbakdiyyyy. Sering kali diakhiri dengan huruf Y yang banyak karena saya selalu bilang, bedanya nama saya dan Dian orang lain ya itu, di huruf Y nya. Hahah. 

Nggak mau sedih-sedihan lagi ah, sudah cukup pas acara aja. Padahal saya tau itu rangkaian isi acaranya ada apa aja. Tapi entah kenapa melihat mereka terharu dan memeluk saya, pasti lumer juga pertahanan saya. Seminggu ini dibombardir oleh kata pisah. Ah. Iya, ada Ah dalam kata pisah. Ah!! 

Ah, waktu kembali berkuasa ya. 

Selama ini yang saya ucapkan selalu doa-doa agar mereka lulus 100% dan mendapat perguruan tinggi yang mereka mau. Berpesan agar mereka harus pilih sendiri jurusan, jangan mau dipilihin atau dipaksa orang tua. Karena dunia kuliah itu tanggung jawabnya beda sama sekolah, bisa gila kalo kuliah terpaksa. Nggak terpaksa aja banyak yang gila. *ngumpet* 

Last but not least, aku minta maaf ya kalo selama ini ada salah sama kalian, pas peluk-cium ngga pernah saling minta maaf, hehehe. Sukses loh buat kalian! Aku sayaaaaang sekaliii... Doraemooon. Bukan deng, aku sayang sekaliiii sama kaliaaaan. Meskipun kelakuannya rempong semua. Foto-foto kita di Instagram aja ya sharenya. 

Fira, inget utang kamu banyak sama aku, heh! :3
Dhea, kamu bawelnya nggak ketulungan banget, ih. Tapi gapapa, itu modal besar buat jadi PR nemenin aku, katanya kamu mau jadi humas kayak aku kan? Keep it up! Hhe
Kinan, gantianlah Nan sekali-kali aku yang minta makanan kamu, ih. Bawain aku menu Betawi Ngumpul :')
Didit, akkk, pensil alis gue awet deh nih ntar. Jangan lupa lho, 5jutanya diurus buruan, minta filenya sama Fira, kasih ke Dwika :)) 
Cliff, wuih, calon dokter! Awas aja kalo jadi dokter tapi masih galau mulu pake lagu Fiersa, ntar pasiennya nangis semua gara-gara flashback bukan gara-gara disuntik, hahah 
Acha, kok punya pacar malah sering galau banget deh? Maap yak, diomelin mulu :p Tapi aku sayang kamuuu :'')

Sisanya, yang lain-lain, intinya aku doakan yang terbaik semuanya! Amin 

Sini peluk ciyum lagi. 

Pijitin dongggg :""

Rabu, 27 Maret 2013

Bersyukur, D!

Liat, Diyan. Bersyukur kamu jam 4 pagi masih bisa mimpi jalan-jalan di Rusia... Bukan bergelut dengan blazer dan hak tinggi..

Selasa, 19 Maret 2013

19 Maret 2013

Masih menikmati. 

Pernah merasakan bahwa keberkahan tumpah ruah di hari ulang tahun kamu? Itulah yang saya rasakan. Seharian ucapan alhamdulillah berdesir sampai di sela-sela pembuluh darah. Nikmat Tuhan itu selalu tak bisa didustakan.

Sungguh, terlalu banyak cerita yang sulit untuk diceritakan dengan menulis di sini. Semua itu saya pilih  dirasakan di dalam hati dan menjadi moment yang tersimpan di folder 19 Maret 2013 di dalam pikiran.

Media sosial berkali-kali (hampir selalu) memiliki peran penting. Saya mendapat nilai A dalam Tugas Kuliah Akhir, mendapat ucapan selamat dari dosen-dosen penguji karena data-data saya lengkap tentang tema media sosial sebagai sarana peningkatan penjualan dan citra perusahaan. Kali ini, meskipun berbeda tema, pun begitu. Media sosial berperan sebagai penghubung saya dengan teman-teman saya yang sudah berpisah pandang cukup lama dengan saya. Meskipun SMS dan telepon sebenarnya sarana yang paling saya suka. Hehe.

Terima kasih, semuanya. Selalu ada cerita dalam setiap waktu. Pada waktu ini, cerita ini menjadi sangat berharga. Melihat betapa banyak orang yang menyempatkan waktunya mengucapkan, mengingatkan, dan mendoakan yang terbaik untuk saya.  

Bless them, God :)

*posting sambil makan pizza dan nyicip-nyicip lasagna PHD dari kakak saya yang ternyata lebih enak dari Pizza Hut itu sendiri

Ciyeeeee!

Selamat Ulang Tahun, Diyan!

Hehehe..

Postingan yang agak beratnya nanti ya.. Ini cuma mau naro foto aja tadi dapet kejutan dari anak-anak :D

Kadonya sekardus loh itu. Pada tau dari mana siiiy? :))

Isinya macem-macem yaaa. Terima kasih Fira, Acha, Cliff, Kinan, Dhea, dan Didit :)
YANG PENTING KAN DOANYA KAN YAH, SAMA NIATNYA KAN YAH?? :D 

Oh iya, satu lagi, terima kasih buat @rahmad_mercy untuk postingan di blognya :)

*postingan ngebut

Selasa, 12 Maret 2013

Selamat Ulang Tahun, Neno!

Akhirnya tiba juga.

Semenjak kenal sama lo waktu kelas 2 SMA, yah, di situlah gue mulai sadar. Setelah tiba hari spesial lo ini, tanggal 12 Maret, gong pertama buat gue berbunyi.

Mau bagaimana pun, lo kakak gue. Meskipun hanya beda diitungan jari dan hari.

Barisan kata terbatas, No, di twitter.

Untuk itu, di tahun ini gue coba mengucapkan lewat sini. Welcome, anyway. Baru sekali ya ke sini? :p

*beres-beres sofa*
*bikin minum*

:)))))

*nyapin kue*
*nyari korek*
*nyalain lilin*
*nyanyiin Happy Birthday*
*nyuruh make a wish*
*nyerahin kue dengan lilin yang menyala*

"Fiuuuuuuuuu"

*naro kue*
*ngucapin selamat*
*peluuuuukkkkkkkk*

Sambil doain:
Semoga sehat selalu. Skripsi dan sidang lancar. Rejekinya juga makin lancar. Jadi bontot yang selalu bahagia. Cepet nikah sama Pandu (*boleh diganti sih nama Pandunya kalo ga mau, hahahahaha *digetok).

Semoga impian buat saat ini dan masa mendatang selalu bisa datang di saat yang tepat. Supaya makin terasa bahagianya :')

Last but not least, sukses dunia akhirat. Amiiiiin

*pelukan selesai*
*potong kue*

Peluk lagiiiii........ :3

Selamat 23 tahun, sahabatku tersayang! Barokallah... Amiiiin :*

Jumat, 01 Maret 2013

Bulan Film Nasional

Jadi, kita sudah berjumpa dengan 1 Maret 2013.

Dengan perih-perihnya kondisi perut yang belum makan siang, saya ceritakan, bahwa baru saja saya keliling di website Taman Ismail Marzuki dan Kineforum.

Setelah dilihat-lihat, calender event-nya.... Mmmm... Bikin perut saya semakin perih...

Gimana dong? Waktunya kok agak susah dicocokin dengan kegiatan saya? Ah, semakin ingin freelance... (pikiran sesat sesaat)

Saya kan sudah bertekad sejak hari itu, bahwa saya akan sering-sering ke TIM pada bulan ini. Hari Film Nasional ada di tanggal 30 Maret. Akan ada rangkaian panjang-sebulan-untuk pemutaran macam-macam film. Cek sendiri gih ke websitenya.

Terus, gimana dong? :'(