Rabu, 16 Juni 2021

Sebuah energi patah hati

Kadang kita selalu fokus memikirkan bagaimana nanti. Padahal, pernah saya dengar ceramah; semua yang ada di dunia ini udah Allah yang atur, bahkan ketika kita memegang pipi, itu sudah Allah yang atur. 

Ya manusiawi emang, mengkhawatirkan nanti. Tapi kalo rungsing dan overthinking tentang apa yang belum terjadi, menurut saya keterlaluan, sih. 

Setelah serangkaian panjang – kejadian demi kejadian yang hadir di hidup saya, saya tiba pada titik tidak memiliki ketakutan apa pun di depan. Kondisi saya saat ini; banyak yang memperhatikan, tentu dalam arti yang baik. Keluarga fully supported. Banyak teman-teman yang peduli, paling penting adalah support untuk mental saya.
“Do whatever you wanna do. Make yourself happy first, then Keumala will follow.” Itu yang selalu seperti diingatkan oleh lingkungan saya. Alhamdulillah, Allah kembaliin lingkungan yang hilang ketika saya menikah. 

Saat ini saya menikmati masa-masa saya sebagai single working mom. Saya sibuk. Saya produktif dan menghasilkan. Beberapa laki-laki tentunya juga datang ke hidup saya, dan beberapa menarik, memang. Tapi, ternyata memang nggak semudah itu buat saya membuka kesempatan lagi untuk berkomitmen. Komitmen itu identik dengan tanggung jawab. Ketika saya pada akhirnya memilih, saya yakin bisa bertanggung jawab atas pilihan saya. Tapi, apakah value itu juga dipegang oleh mereka? 
Pengalaman saya memang membawa trauma, jadi ketidak percayaan terhadap orang kadang menjadi blokade dan border yang kokoh untuk laki-laki yang ingin masuk ke hidup saya dan Keumala. Mungkin nanti, nanti, saya yakin nanti ada waktunya untuk sembuh dan bisa menerima kembali seorang laki-laki. 

Selebihnya, saya sempat hidup dari bekal sebuah energi bernama patah hati. Energi yang pada akhirnya juga membuat saya bisa menjelaskan beberapa hal tersebut secara clear. Mereka harus tau, sampai di mana saya memegang teguh prinsip bertanggung jawab atas perasaan seseorang. Dan tentunya, itu yang saya juga harapkan dari mereka. Tentunya, saya juga menyampaikan value itu secara jelas. 

Patah hati bisa menjadi energi. Kembali ke kita; mau terus uring-uringan dan kehilangan banyak hal, padahal waktu terus berjalan. Atau gunakan energi patah hati sebagai kekuatan untuk terus mencari dan memaknai segala sesuatu yang lebih baik. 

Menurut kamu, saya tim yang mana? Tentu, saya tim bubur diaduk, #ehh πŸ˜†

Selasa, 25 Mei 2021

Sebuah Standar Kebahagiaan Baru(?)

Sadar nggak, media sosial, terlebih Instagram, membuat standar baru untuk kita? 

Melihat banyaknya temen-temen kita yang upload tentang kemewahan, tempat2 fancy, makanan mahal, branded fashion, dan yang sebagainya, kadang mempengaruhi kita untuk "nggak mau kalah". Hmm, kita bisa aja nggak ngaku, lho, kalo dibilang begitu. Padahal, coba liat lagi, deh, apa kita nyaman ngupload makanan warteg atau warsun atau rumah makan Manado pas kita makan di belakang kantor? 

Misalnya ada, tapi kayaknya ngga banyak deh. Standar kita untuk ngupload sesuatu di medsos itu jadi lebih tinggi. Padahal, akun juga akun kita. Itu baliknya ke mana? 
Jaga image dan personal branding. 
_

Dulu saya pake Facebook buat simpen foto2 karena hard disk penuh. Karena di FB bisa masuk ribuan foto dan bisa dipisahkan berdasarkan albumnya. Tapi karena Instagram awalnya hanya bisa upload satu foto, akhirnya kita jadi sibuk milih foto yang paling bagus versi kita. Dan, kebiasaan itu secara nggak langsung menjadi persaingan dan lomba foto paling estetik. 
_
Kadang saya udah engap sama Instagram, tapi saya butuh buat kerja. Walaupun ada di Linkedin, tapi kan temen-temen lebih interaktif ketika di Instagram. 

Saya cuma lagi mikir, apakah standar-standar itu mempengaruhi kebahagiaan kita? 
_

Apa kita akan tambah bahagia atau terlihat bahagia ketika semua moment yang luar biasa yang terekam kamera, dan siap kita upload di sana? 
Semacam harus luar biasa gitu. Padahal nggak papa kan kalo nggak ada yang istimewa dan biasa aja?  
_

Hehe

Rabu, 19 Mei 2021

See you when i see you

Kalian pernah nggak, ada di titik nggak pengen apa-apa, cuma lagi jalan aja ngikutin arah takdir? 

Saya lagi mengalami itu dan mikir, kok bisa gitu ya? 
_

Dua bulan ke belakang, saya lagi penuh eager untuk kerja. Lalu, hal besar terjadi dan itu cukup mempengaruhi mood saya. 
_

Tapi lagi-lagi, saya memutuskan untuk keep fighting. 
Saya siap menghadapi hal besar itu di kantor. 
Kita liat ya, takdir membawa kita untuk bersikap gimana nanti di kantor. 
_

See you when I see you
:)

Sabtu, 17 April 2021

Apa Rasanya Viral?

Jadi, teman-teman. Saya nggak bermaksud dan nggak expect bahwa twit saya yang ini bisa viral. Aktivitas saya malam itu ditutup dengan makan Umaku Sushi. Ini sushi enak banget yaa Allah, sashimi-nya gede-gede banget 😍😭
Lalu saya pulang agak malam, mandi, dan setelah itu malah segar. 

Akhirnya di tengah malam itu saya ngetwit. Karena memang twitter saya adalah akun lama, jadi banyak mutual saya yang memang followersnya banyak. Dan malam itu, Mas Erwin Arnada, yang kebetulan mutual saya dan followersnya banyak, meng-quote twit saya. 



Ya abis ngetwit, saya tidur, sih. Pagi-pagi kaget, karena mulai ramai. Di-quote sana sini sama akun yang followersnya banyak. Di-reply sama komika-komika yang biasanya, saya yg nyamber mereka. Sampe 2 hari itu notif full, nggak berenti. Saya kan bukan siapa-siapa, ya. Tiba-tiba viral itu bikin saya deg-deg-an. Tau sendiri kan kekuatan jari netizen kita, kalo udah pro, pro banget, kalo udah kontra, kontra banget. 

Saya berulang kali baca twit saya, memastikan dan meyakinkan diri sendiri, nggak ada maksud nyinggung siapa-siapa. Kan ini pengalaman saya. Hanya, memang ada beberapa penggunaan kalimat/kata yang kurang pas. Tapi temen saya bilang, itu kan twitter, bukan disertasi.


Memang buat orang yang bacanya dengan kepala jernih, pasti ngerasanya twit saya ya gitu aja--bukan yang ada maksud untuk membuat orang nggak punya standar dalam mencari pasangan. Balik lagi, kalo bacanya dengan pikiran jernih, ya. Tapi kan, keadaan orang saat baca sesuatu itu di luar kendali saya, ya. 

Pada dasarnya, itu saya lagi monolog. Karena saya sendiri lagi berpikir, untuk kesempatan ke dua dalam memilih pasangan, saya harus gimana, sih? Masa iya mau nyari yang sempurna? Kan saya sendiri jauh dari kata sempurna. Sesimple itu, teman-teman. 

Segitu banyaknya likes dan RT, disusul juga sahut-menyahutnya temen2 yang kontra. Ada yang akhirnya mereka ribut sendiri. Saya soalnya takut salah ngomong, jadi yaudah, sebagai yang punya rumah nonton keributan aja. Kalo kata temen saya, rem saya masih bagus. Wkwkwk. Cakram, bosssss. 

Lalu apa rasanya, viral? 
Shocked, seneng karena banyak yang setuju, banyak juga yang berterima kasih dan dapet insight (nah yang adem2, bisa cek di quote twit). Nggak lupa, saya juga takut sama yang ngegas padahal nggak paham twit saya 🌝

Di sinilah saya akhirnya tau, menjadi viral, yang harus tebal bukan hanya lemak #ehkok, tapi juga telinga. Karena tanggapan mereka-mereka yang kontra, terdengar seperti teriak-teriakan di kuping saya. 

Tapi rasanya saya hanya ingin balas, "Cobain aja dulu, nikah, kak. Testimony later" 
Karena yang ngegas banyak yang belom nikaaaah πŸ˜‘ 

Hanya berbeda jam, beberapa teman saya menemukan twit saya sudah lintas platform.
Di Quora, di beberapa akun Instagram, sampai di portal online. 

Begitulah, mungkin saya pernah gibah, jadi saat ini dibalas tuntas sama Allah, ribuan pasang mata komenin twit saya, walaupun banyakan yang setuju, sih, wkwk 😢😢

10 hari pasca twit saya viral, saya masih tiap hari terima notifnya 😢😢