Ya manusiawi emang, mengkhawatirkan nanti. Tapi kalo rungsing dan overthinking tentang apa yang belum terjadi, menurut saya keterlaluan, sih.
Setelah serangkaian panjang – kejadian demi kejadian yang hadir di hidup saya, saya tiba pada titik tidak memiliki ketakutan apa pun di depan. Kondisi saya saat ini; banyak yang memperhatikan, tentu dalam arti yang baik. Keluarga fully supported. Banyak teman-teman yang peduli, paling penting adalah support untuk mental saya.
“Do whatever you wanna do. Make yourself happy first, then Keumala will follow.”
Itu yang selalu seperti diingatkan oleh lingkungan saya. Alhamdulillah, Allah kembaliin lingkungan yang hilang ketika saya menikah.
Saat ini saya menikmati masa-masa saya sebagai single working mom. Saya sibuk. Saya produktif dan menghasilkan. Beberapa laki-laki tentunya juga datang ke hidup saya, dan beberapa menarik, memang. Tapi, ternyata memang nggak semudah itu buat saya membuka kesempatan lagi untuk berkomitmen.
Komitmen itu identik dengan tanggung jawab. Ketika saya pada akhirnya memilih, saya yakin bisa bertanggung jawab atas pilihan saya. Tapi, apakah value itu juga dipegang oleh mereka?
Pengalaman saya memang membawa trauma, jadi ketidak percayaan terhadap orang kadang menjadi blokade dan border yang kokoh untuk laki-laki yang ingin masuk ke hidup saya dan Keumala. Mungkin nanti, nanti, saya yakin nanti ada waktunya untuk sembuh dan bisa menerima kembali seorang laki-laki.
Pengalaman saya memang membawa trauma, jadi ketidak percayaan terhadap orang kadang menjadi blokade dan border yang kokoh untuk laki-laki yang ingin masuk ke hidup saya dan Keumala. Mungkin nanti, nanti, saya yakin nanti ada waktunya untuk sembuh dan bisa menerima kembali seorang laki-laki.
Selebihnya, saya sempat hidup dari bekal sebuah energi bernama patah hati. Energi yang pada akhirnya juga membuat saya bisa menjelaskan beberapa hal tersebut secara clear. Mereka harus tau, sampai di mana saya memegang teguh prinsip bertanggung jawab atas perasaan seseorang. Dan tentunya, itu yang saya juga harapkan dari mereka. Tentunya, saya juga menyampaikan value itu secara jelas.
Patah hati bisa menjadi energi. Kembali ke kita; mau terus uring-uringan dan kehilangan banyak hal, padahal waktu terus berjalan. Atau gunakan energi patah hati sebagai kekuatan untuk terus mencari dan memaknai segala sesuatu yang lebih baik.
Menurut kamu, saya tim yang mana?
Tentu, saya tim bubur diaduk, #ehh 😆