Rabu, 17 Februari 2016

Pada Satu Lelaki

Rasanya kami tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal lain selain masa depan kami. 

Semalam kamu mengirimi saya foto lewat LINE dengan tangan berlumuran oli. Beberapa jam sebelumnya kamu bilang akan pergi ke bengkel untuk melihat progress motor yang kamu titipkan di sana. Saya sendiri sedang sibuk mencari barang-barang seserahan sampai counter Watson di Margo City menunda waktu tutupnya. "Badan aku bau bensin" pesan itu masuk lewat LINE diikuti foto-foto yang kamu kirim terkait aktivitas di bengkel. Saya baru tahu, kalau mesin motor benar-benar bisa dibelah. Lalu kamu memastikan semua rencana kamu untuk menyiapkan motor untuk kebutuhan saya sehari-hari nanti setelah menikah, berjalan sesuai dengan harapan kamu. Sampai kamu sendiri yang ikut membelah mesin motor. 


Rencana dan tujuan, itulah yang sibuk kami siapkan dan lakukan. 

Beberapa bulan lalu, saya pernah sakit karena seharian hunting dan janjian dengan beberapa vendor catering untuk test food. Saat itu kerjaan saya di kantor lagi super duper padat. Iya, saya tahu, pekerjaan kamu pun. Hingga kamu harus stay di Solo sekian hari. Saya lupa berapa hari. Karena yang saya ingat selama kamu di sana, kamu mengejar kabar dari saya, memastikan segala urusan terkait pernikahan kita yang kamu serahkan ke saya, aman terkendali setelah ter-pending satu minggu karena kesibukan saya di kantor. Sepulang dari Solo, kamu langsung gegap gempita menagih jadwal meeting dengan vendor-vendor catering yang saya temui sebelumnya. Pertengkaran kerap terjadi. Tapi saya dan kamu memutuskan untuk stay, mengingat apa yang sedang kita siapkan, apa yang sedang kita lakukan adalah hal-hal yang berhubungan dengan tujuan kita; menikah, dan bermasa depan bersama. 


Sebuah perasaan tak terlupakan yang hadir pada pertemuan ke-empat. 

Pada pertemuan kita ke-empat, saat segala sesuatu yang kita siapkan untuk rencana menikah, belum ada yang fiks saat itu. Tapi diam-diam, kamu sudah sibuk mencari rumah demi mengamankan hidup saya dan kamu nanti setelah menikah. Sepulang dari rumah kamu, setelah perkenalan saya dengan keluarga kamu, kamu mengajak saya melihat kondisi rumah yang kamu cari di OLX.  Pada saat itu, benar-benar hati saya terjun bebas entah seberapa jauh jaraknya. Saya mungkin baru saja membuat keputusan akan terus jatuh cinta berkali-kali kepada kamu. Bukan karena rumah hasil pencarian OLX, tapi karena rencana (matang) kamu satu demi satu kamu wujudkan, kamu buktikan, tentunya saya menjadi alasan dan orang yang ada dalam usaha kamu membuat rencana (se)besar; menikah. 


Kalimat sakti di penghujung pertemuan pertama kami.

31 September 2015, adalah pertama kalinya kita bertemu. Untuk sebuah alasan yang sama-sama tidak masuk dalam plan kita. Di akhir pertemuan pertama yang berlangsung selama kurang lebih satu jam setengah itu, kita terlibat dalam arus topik yang deras. Kamu bukan orang yang basa-basi dan suka membuai. Pada saat itu saya juga sedang tidak mood untuk dibuai. Di penghujung pertemuan yang bisa disimpulkan, kamu bilang "Semua yang saya cari ada di kamu. Dan semua yang kamu cari ada di saya." Kamu berhasil membuat saya mengingat betapa pertemuan kita benar-benar bermakna di samping "niat karena Allah" yang selalu terngiang sepanjang pembicaraan kita saat itu. Saya pikir, mungkin plan-plan selanjutnya seperti yang sudah kamu wujudkan di atas, adalah buah pemikiran saat kamu berjalan pulang setelah pertemuan pertama kita. Hingga ada pertemuan ke dua, kamu dan saya sama-sama kembali meyakinkan diri. Dan kamu bilang, "tugas kamu sekarang tunggu saya ketemu Bapak kamu." 


Satu hal yang hanya kamu yang melakukannya. Dan saya tak punya alasan untuk bilang "tidak".

Hari itu dipilih, karena weekend. 11 Oktober 2015, kamu berhasil menemukan jalan ke rumah saya. Meskipun kamu harus main jemput-jemputan dengan kakak saya di depan gang. Hari itu merupakan pertemuan ke-tiga antara saya dan kamu. Saya tidak terlalu tahu persis kalimat pamungkas apa yang kamu sampaikan ke Bapak saya. Karena saya sibuk meracik cocktail untuk kamu di dapur. Dan kamu bilang, saya tidak perlu tahu sekarang. Nanti setelah menikah, baru kamu akan beritahu. 
Pada akhir acara makan siang, kepada Bapak, kamu meminta izin untuk berkomunikasi dengan saya. Iya, untuk chatting. "Silakan" adalah kata yang akhirnya keluar dari bibir Bapak yang tersenyum. Karena sejak pertama bertemu, kita sama-sama tidak pernah berhubungan lewat media apa pun. Mungkin hanya lewat doa. Dari situ, dengan restu Bapak saya, kamu mulai menghubungi saya lewat telepon. Dan kita selalu membahas rencana kita; menikah. Saya tidak pernah bisa bilang tidak untuk semua yang kamu rencanakan untuk kita. Saya setuju dengan kalimat yang kamu ucapkan di pertemuan pertama kita, "Semua yang saya cari ada di kamu. Dan semua yang kamu cari ada di saya".


Perjalanan kita begitu singkat untuk sampai di hari ini. Hari yang sungguh disibukkan oleh rencana kita; menikah. 

Pada satu lelaki, 
Saya memilih, menerima, bersedia, dan siap untuk menikah dengan kamu, Yusuf Kharisma Putra. Mari tetap berdoa untuk kelancaran seluruh rencana kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar