Sabtu, 18 Juni 2022

Sedikit demi sedikit

Saya berpikiran membawa blog ini untuk sesuatu yang lebih menguntungkan. 

Bukan hanya untuk mental saya, mungkin saja untuk Keumala nantinya. 

Rabu, 16 Juni 2021

Sebuah energi patah hati

Kadang kita selalu fokus memikirkan bagaimana nanti. Padahal, pernah saya dengar ceramah; semua yang ada di dunia ini udah Allah yang atur, bahkan ketika kita memegang pipi, itu sudah Allah yang atur. 

Ya manusiawi emang, mengkhawatirkan nanti. Tapi kalo rungsing dan overthinking tentang apa yang belum terjadi, menurut saya keterlaluan, sih. 

Setelah serangkaian panjang – kejadian demi kejadian yang hadir di hidup saya, saya tiba pada titik tidak memiliki ketakutan apa pun di depan. Kondisi saya saat ini; banyak yang memperhatikan, tentu dalam arti yang baik. Keluarga fully supported. Banyak teman-teman yang peduli, paling penting adalah support untuk mental saya.
“Do whatever you wanna do. Make yourself happy first, then Keumala will follow.” Itu yang selalu seperti diingatkan oleh lingkungan saya. Alhamdulillah, Allah kembaliin lingkungan yang hilang ketika saya menikah. 

Saat ini saya menikmati masa-masa saya sebagai single working mom. Saya sibuk. Saya produktif dan menghasilkan. Beberapa laki-laki tentunya juga datang ke hidup saya, dan beberapa menarik, memang. Tapi, ternyata memang nggak semudah itu buat saya membuka kesempatan lagi untuk berkomitmen. Komitmen itu identik dengan tanggung jawab. Ketika saya pada akhirnya memilih, saya yakin bisa bertanggung jawab atas pilihan saya. Tapi, apakah value itu juga dipegang oleh mereka? 
Pengalaman saya memang membawa trauma, jadi ketidak percayaan terhadap orang kadang menjadi blokade dan border yang kokoh untuk laki-laki yang ingin masuk ke hidup saya dan Keumala. Mungkin nanti, nanti, saya yakin nanti ada waktunya untuk sembuh dan bisa menerima kembali seorang laki-laki. 

Selebihnya, saya sempat hidup dari bekal sebuah energi bernama patah hati. Energi yang pada akhirnya juga membuat saya bisa menjelaskan beberapa hal tersebut secara clear. Mereka harus tau, sampai di mana saya memegang teguh prinsip bertanggung jawab atas perasaan seseorang. Dan tentunya, itu yang saya juga harapkan dari mereka. Tentunya, saya juga menyampaikan value itu secara jelas. 

Patah hati bisa menjadi energi. Kembali ke kita; mau terus uring-uringan dan kehilangan banyak hal, padahal waktu terus berjalan. Atau gunakan energi patah hati sebagai kekuatan untuk terus mencari dan memaknai segala sesuatu yang lebih baik. 

Menurut kamu, saya tim yang mana? Tentu, saya tim bubur diaduk, #ehh 😆

Selasa, 25 Mei 2021

Sebuah Standar Kebahagiaan Baru(?)

Sadar nggak, media sosial, terlebih Instagram, membuat standar baru untuk kita? 

Melihat banyaknya temen-temen kita yang upload tentang kemewahan, tempat2 fancy, makanan mahal, branded fashion, dan yang sebagainya, kadang mempengaruhi kita untuk "nggak mau kalah". Hmm, kita bisa aja nggak ngaku, lho, kalo dibilang begitu. Padahal, coba liat lagi, deh, apa kita nyaman ngupload makanan warteg atau warsun atau rumah makan Manado pas kita makan di belakang kantor? 

Misalnya ada, tapi kayaknya ngga banyak deh. Standar kita untuk ngupload sesuatu di medsos itu jadi lebih tinggi. Padahal, akun juga akun kita. Itu baliknya ke mana? 
Jaga image dan personal branding. 
_

Dulu saya pake Facebook buat simpen foto2 karena hard disk penuh. Karena di FB bisa masuk ribuan foto dan bisa dipisahkan berdasarkan albumnya. Tapi karena Instagram awalnya hanya bisa upload satu foto, akhirnya kita jadi sibuk milih foto yang paling bagus versi kita. Dan, kebiasaan itu secara nggak langsung menjadi persaingan dan lomba foto paling estetik. 
_
Kadang saya udah engap sama Instagram, tapi saya butuh buat kerja. Walaupun ada di Linkedin, tapi kan temen-temen lebih interaktif ketika di Instagram. 

Saya cuma lagi mikir, apakah standar-standar itu mempengaruhi kebahagiaan kita? 
_

Apa kita akan tambah bahagia atau terlihat bahagia ketika semua moment yang luar biasa yang terekam kamera, dan siap kita upload di sana? 
Semacam harus luar biasa gitu. Padahal nggak papa kan kalo nggak ada yang istimewa dan biasa aja?  
_

Hehe