Minggu, 22 Maret 2015

Kepada Diyan



Jari-jarimu itu sedang menulis tentang kisah dari sebuah nama. Aku duduk di depanmu sambil sesekali pura-pura tak tau kalau matamu hampir meneteskan air mata. Air mata yang kali ini tak hanya turun dari matamu, tetapi juga turun dari mata langit di atas kafe hitam putih tempat kau menghabiskan Kopi Toraja kesukaanmu. 
Kenapa kau takut menangis? 
Menangislah, adik kecil. Kau akan tetap menjadi adik kecil bagi kakak-kakakmu walau mereka begitu jauh. Kau tak pernah boleh dewasa kalau takut menangis hanya karena dibilang umurmu sudah berkepala dua dengan angka lima di belakangnya. 

Dari aku; bayanganmu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar