Menua bersama.
Pada sebuah waktu, saya terpantik oleh kalimat itu.
Terdengar indah ya? Ya, segala sesuatu yang dilakukan
bersama-sama memang terkesan lebih menyenangkan. Tapi bagaimana bila, kalau
janji itu harus direlakan dan tidak sanggup ditepati?
Manusia bisa punya banyak rencana.
Lalu, tentang kesendirian memang menyimpan banyak komentar. Padahal
belum tentu dengan sendiri, hidup jadi lebih tidak menyenangkan.
Pernikahan yang tidak bisa diteruskan.
Tak ada yang pernah bersiap untuk perceraian. Bahkan sampai
saat ini, di mana saya harus mengalaminya sendiri. Peristiwa ini masih tabu,
apalagi di keluarga saya. Tapi, bukan berarti hal ini menjadi hal yang tak bisa
terjadi.
Betapa sebuah hubungan dan komunikasi bisa seberantakan itu. Dan muara dari
segala permasalahan, tak pernah bisa terlihat di mana. Tidak pernah bertemu. Singkatnya,
kami hanya sanggup bilang, kalau jalan kami tidak cocok.
Itu masa lalu.
Apa pun bisa berubah. Bahkan cuaca yang sudah
ada prediksinya pun bisa dengan mudah berubah. Bila dapat diterima dengan mudah
melalui bahasa keislaman, semua sudah kehendak Allah.
Apakah Allah menghendaki kebersamaan dan/ untuk/ juga
perpisahan? Pasti salah satu dari kalian akan bertanya ini setelah baca kehendak
Allah.
Saya bilang sekali lagi, sudah takdir.
Saya mempunyai takdir
sendiri jika menikah dengan A, saya punya takdir sendiri jika menikah dengan B,
dan saya juga punya takdir sendiri jika menikah dengan C. Saya hanya menjalani garis takdir.
Pasti berat alasan ini diterima nalar. Tapi saya yang tau dan merasakan sendiri, perjuangan untuk mempertahankan yang sama sekali tidak lagi cocok, adalah
sebuah kesia-siaan yang mutlak.
Hidup harus berjalan. Sampai nanti waktunya berhenti, sampai masing-masing dari kita mati.
Dan perceraian, hanyalah sebuah chapter.
Masih banyak
halaman-halaman lain yang lebih menarik untuk dikunjungi.
Keumala, fasten your seatbelt.
___
- Draft on 26 Juli, 2018
Saya memang tidak harus menceritakan semua hal tentang kegagalan ini. Dan tulisan-tulisan yang saya unggah, semua itu bukan untuk drama, apalagi untuk membuktikan bahwa saya tidak move on. Come on, open your mind. Saya rasa ini justru menjadi waktu dan babak baru kehidupan saya. Saya sudah rela tinggalkan semuanya di belakang.
Saya rasa, saat saya masih sulit menerima keadaan dan berdarah-darah, saya tidak dapat menulis kisah perpisahan. Atau tidak bisa mengunggah apa-apa. Tapi, saat saya tetiba membaca kembali draft ini, saya merasa sudah baik-baik saja. Makanya saya bisa unggah tanpa perasaan yang aneh. Hihihi.
Semua orang punya cara masing-masing untuk sembuh, kan?
Alhamdulillah, i'm okay