Minggu, 01 Desember 2019

Sabtu, 30 November 2019

Kalau Bukan Kalau Terus Apa?

Tadi mau posting dengan kalimat awal "kalau bla bla". Tapi diapus karena inget, paling males memulai postingan dengan kata "kalau".
Kayak ga ada kata lain aja buat memulai?

Segala sesuatu yang diawali "kalau" itu selalu melahirkan harapan. 
"Kalau kamu jadi istri aku, aku akan perlakukan kamu bla bla bla" 
Duhh, untuk orang yang sudah kenyang dikasih harapan manis, terus diabetes, mungkin kamu harus memilih cara lain selain banjir "kalau". 

"Kalau bulan bisa ngomong, tentu bulan tak akan bohong" 
Tau dari mana wey kalo bulan ga punya bakat bohong? 

Wkwkwk ini gue lagi nulis apa si? 🤣

Nulis "kalau bukan kalau terus apa?" 😆😆

Kamis, 14 November 2019

Mendung dan Pikiran Setelahnya

Cuaca mendung memang sering kali mengaduk perasaan. Khususnya buat saya yang jalan ninjanya sebagai anak melankolis. 

Raga di kantor, jiwa dan pikiran di kamar. 
Nonton film. 
Selimutan.
Minum coklat hangat. 
Untuk makan, pesan di ojek online. 

Tapi itu dulu. Jaman masih single. Setelah ada Keumala? 
"Ibu, ayo main playdough" 

"Iya, ayok."

Assalamualaikum, mendung. 




Jangan ketawa kalian para single fighter. Can relate, ya? Ayo mutualan. 
#anaktwitter :))

Jumat, 28 Juni 2019

Menemukan Tulisan yang Seharusnya Sudah Di-post


Menua bersama.

Pada sebuah waktu, saya terpantik oleh kalimat itu. 
Terdengar indah ya? Ya, segala sesuatu yang dilakukan bersama-sama memang terkesan lebih menyenangkan. Tapi bagaimana bila, kalau janji itu harus direlakan dan tidak sanggup ditepati? 

Manusia bisa punya banyak rencana. 

Lalu, tentang kesendirian memang menyimpan banyak komentar. Padahal belum tentu dengan sendiri, hidup jadi lebih tidak menyenangkan.


Pernikahan yang tidak bisa diteruskan.
Tak ada yang pernah bersiap untuk perceraian. Bahkan sampai saat ini, di mana saya harus mengalaminya sendiri. Peristiwa ini masih tabu, apalagi di keluarga saya. Tapi, bukan berarti hal ini menjadi hal yang tak bisa terjadi.
Betapa sebuah hubungan dan komunikasi bisa seberantakan itu. Dan muara dari segala permasalahan, tak pernah bisa terlihat di mana. Tidak pernah bertemu. Singkatnya, kami hanya sanggup bilang, kalau jalan kami tidak cocok.

Lalu, bagaimana dengan tulisan saya di bawah, mengenai-- bagaimana kami bisa memutuskan bersama, dan lain-lain sebagainya?

Itu masa lalu. 

Apa pun bisa berubah. Bahkan cuaca yang sudah ada prediksinya pun bisa dengan mudah berubah. Bila dapat diterima dengan mudah melalui bahasa keislaman, semua sudah kehendak Allah.
Apakah Allah menghendaki kebersamaan dan/ untuk/ juga perpisahan? Pasti salah satu dari kalian akan bertanya ini setelah baca kehendak Allah.

Saya bilang sekali lagi, sudah takdir. 

Saya mempunyai takdir sendiri jika menikah dengan A, saya punya takdir sendiri jika menikah dengan B, dan saya juga punya takdir sendiri jika menikah dengan C. Saya hanya menjalani garis takdir. 

Pasti berat alasan ini diterima nalar. Tapi saya yang tau dan merasakan sendiri, perjuangan untuk mempertahankan yang sama sekali tidak lagi cocok, adalah sebuah kesia-siaan yang mutlak.

Hidup harus berjalan. Sampai nanti waktunya berhenti, sampai masing-masing dari kita mati.

Dan perceraian, hanyalah sebuah chapter. 

Masih banyak halaman-halaman lain yang lebih menarik untuk dikunjungi.

Keumala, fasten your seatbelt.

___





- Draft on 26 Juli, 2018
Saya memang tidak harus menceritakan semua hal tentang kegagalan ini. Dan tulisan-tulisan yang saya unggah, semua itu bukan untuk drama, apalagi untuk membuktikan bahwa saya tidak move on. Come on, open your mind. Saya rasa ini justru menjadi waktu dan babak baru kehidupan saya. Saya sudah rela tinggalkan semuanya di belakang. 

Saya rasa, saat saya masih sulit menerima keadaan dan berdarah-darah, saya tidak dapat menulis kisah perpisahan. Atau tidak bisa mengunggah apa-apa. Tapi, saat saya tetiba membaca kembali draft ini, saya merasa sudah baik-baik saja. Makanya saya bisa unggah tanpa perasaan yang aneh. Hihihi. 

Semua orang punya cara masing-masing untuk sembuh, kan? 
Alhamdulillah, i'm okay 




Rabu, 08 Mei 2019

Sementara Itu Saya Harus Tetap Sadar


Bagi seseorang, mungkin butuh ratusan kali jatuh, untuk membuat dia mencintai dirinya sendiri. Menerima secara sadar, bahwa ketidakmampuan diri untuk menerima segala hal yang tak sesuai dengan keinginan, adalah proses jatuh bangun yang panjang.

Saya, mewakili jiwa-jiwa yang masih berproses untuk menerima. Saya rasa tak apa untuk berjalan lebih lambat dari orang-orang di sekeliling. Saya rasa juga tak apa, ada hal-hal yang tak bisa saya dapat, sementara orang-orang di sekeliling saya sudah (merasa) memilikinya.

Kadang saya berjalan terlalu lamban. Kadang saya mampu berlari. Kadang saya juga bisa terjatuh. Lagi, dan lagi.

Saya rasa tak apa. Iya, jelas saya sedang menyemangati diri sendiri. Kalau bukan saya, siapa lagi?


***


Ketika saya pada akhirnya memutuskan untuk bercerai, sudah tidak ada lagi hal yang sanggup saya perbaiki, kecuali diri saya. Sudah tidak ada lagi hal yang bisa saya selamatkan, kecuali menyelamatkan diri saya sendiri. Ya, tentunya dengan Keumala. Keumala adalah satu paket dengan diri saya sejak saya menjadi Ibu. Di mana ada Keumala, saya akan terus ada di dalamnya.

Saya dengan sadar mengambil langkah ini, karena saya sudah cukup sadar bahwa selama pernikahan, saya mencoba tetap sadar. Saya sebisa mungkin harus sadar bahwa tujuan saya dalam pernikahan adalah untuk ibadah. Saya harus sadar bahwa saya adalah seorang istri dan ibu, yang mau tak mau harus bisa kuat dalam senyap. Saya harus tetap sadar bahwa kapasitas saya sebagai manusia, perempuan, dan istri adalah tetap di bawah kendali dan ridho suami.

Saya harus sadar akan itu semua.

Menjaga kesadaran selama itu, rasanya saya juga harus sadar; kalau ternyata jalan yang kami pilih sudah berbeda untuk meraih tujuan pernikahan.


***
Saya bersatu karena Allah, saya berpisah, insyaa Allah juga saya niatkan karena Allah.

Selasa, 07 Mei 2019

Yang Terjadi Adalah

Pelan-pelan ya, saya coba kembali- dengan hati-hati memilih bagian mana yang harus saya tuliskan. Bagi sebagian orang yang biasa menulis tentang apa saja, menjadi terbungkam dan dibungkam, berarti bisa saja hidupnya berhenti.

Saya mencoba hidup kembali, setelah beberapa kali mati.
Banyak yang mengira, saya menghilang. Mungkin iya, saya pernah menghilang. Dan sesungguhnya saat itu, saya sedang dalam medan perang yang lain. Berperang yang bukan untuk menang atau kalah. Tapi untuk tetap bertahan- tetap sama-sama hidup- dan tetap sama-sama selamat.

Saya memulai perjalanan rumah tangga dengan seseorang yang menakjubkan. Saya tidak lagi punya simpanan kata untuk menggambarkannya. Hanya mungkin, perasaan dan waktu-waktu itu dipenuhi dengan rasa takjub.

Butuh serangkaian waktu untuk berpikir, apakah saya akan menulis atau tidak. Karena jari-jari saya juga sudah kelu.

Sejak 2016 dan menikah, kehidupan saya berubah total. Saya mulai belajar menyerahkan hidup saya, tentunya dengan keyakinan awal bahwa saya menikah dengan orang yang memiliki satu visi, misi, dan tujuan yang sama dengan saya.
Tak butuh waktu lama, banyak komitmen yang tidak terpenuhi. Betapa pernikahan bisa sesulit itu.

Saya sudah resmi berpisah dengan lelaki yang pernah saya pilih.

Tidak mudah untuk mengakui kegagalan ini. Tidak mudah pula untuk berjuang dan mempertahankan kami. Tidak mudah pula setelahnya, untuk menjalani kehidupan sebagai single working mom. Tapi semua ini hanya tidak mudah. Bukan tidak mungkin.

Saya mengenal diri saya. Saya hanya butuh waktu untuk sembuh. Saya tidak trauma meskipun pernah patah, atau (mungkin) depresi.

Pasti ada pintu lain yang akan saya temui. Seperti rejeki, ada yang hilang dan pasti ada yang akan datang. Selama masih ada usia, Allah akan menetapkan rejeki dalam bentuk apa pun, demi bisa terus berusia.  

Note: Saat ini saya sudah baik-baik saja. Kabar ini mungkin sesuai perkiraan kalian, atau mungkin malah meledak di mata kalian saat kalian baca tulisan ini. Intinya saat ini saya hanya berusaha kembali hidup dan berjalan sebagaimana saya pernah bangkit dan terus berjalan dari jatuh-jatuh sebelumnya. 
Saya mencoba hidup kembali, setelah beberapa kali mati.