Selasa, 17 November 2020

Stress WFH Sampe ke Psikolog? Ada? Ada!

Ternyata menulis adalah salah satu metode healing yang dipakai psikolog. Saya juga baru tau karena seumur hidup, akhirnya baru kali ini saya merasa luber dan nggak tau mau ngapain, jadi saya coba konsul ke psikolog. 

WFH ini mungkin bagi sebagian orang menjadi sesuatu yang menyenangkan. Awalnya saya juga begitu, tapi setelah 8 bulan dijalanin, ternyata kepala saya mau meledak. Kerjaan kadang nggak kenal waktu. Di samping itu, di waktu yang sama saya harus dampingin Keumala. 

Dalam mindset Keumala, ketika Ibu di rumah ya berarti itu waktu untuk main sama dia. Tapi sayangnya, dia harus ngeliat ibunya dari pagi sampe sore di depan laptop. Ini laptop udah berapa kali tiba-tiba ditutup sama dia kalo saya kerja. Kebayang nggak, kalo saya lagi ngerjain deadline, atau meeting, atau udah ngerjain banyak hal dan belom di-save? Emosi-emosi itu nggak sadar membawa saya untuk menjadi seseorang yang amburadul. 

Saya bisa marah banget sama Keumala. 
Dan di sini saya secara sadar minta maaf sama Keumala karena saya marah dan kasar sama dia. 

It's hard, De. Untuk menyadari bahwa yang Ibu lakuin adalah salah. 
Salah satu kesalahan orang tua adalah berat mengaku salah dan minta maaf. Saya nggak mau itu terjadi di antara saya dan Keumala. 

Maka rantai ini harus saya putus. Diawali dengan pendekatan rohani sama Allah. Lalu saya coba memilih konsul ke psikolog dari Yayasan Pulih. Salah satu yayasan yang ngebantu pemulihan trauma. Seperti yang saya sampein di awal, ini adalah pertama kalinya saya konsul ke psikolog. Saya di sini mau cerita sedikit gimana pengalaman pertama kali ke psikolog. 

Intinya, mereka para Psikolog akan dengerin curhat kamu dari A-Z. Mereka akan klasifikasiin kondisi cerita berdasarkan emosi yang kamu keluarin ketika cerita. Misal, kamu nangis kejer pas cerita topik apa. Setelah semua sampah yang ada di kepala kamu udah kamu buang, mereka akan jabarin, tarik garis-garis kemungkinan dan asal muasal kenapa kamu pada akhirnya luber. 

Akan ada metode yang diberikan untuk heal your soul. Ada juga pertanyaan, dulu-dulu/ sebelum di kondisi ini, misal 5tahun ke belakang, biasanya ngapain kalo stress? Lalu ditanya jadwal/ aktivitas apa aja setiap harinya saat ini, untuk menentukan mana stress healing yang bisa di-suggest. 

Pada akhirnya, saya dikasih PR untuk menulis lagi. Awalnya disuruh nulis "daily emotion" yang harus dikasih skala- untuk menentukan mana masalah paling gede yang paling urgent untuk diselesaikan. 
Misal, 17-11-2020, kerja - jam 9 - emosi seneng karena kerjaannya saya suka - skala 8.5/ 10.
Jam 10 - Keumala udah mulai ganggu kerjaan karena ngajak main - emosi mulai marah - skala 8.5/ 10, dsb. Nanti akan diklasifikasiin sama psikolognya apa masalah yang paling ganggu dan paling besar di hidup kamu saat ini. 

So far, psikolog membantu kamu untuk mengurai benang kusut di pikiran kamu. Satu-satu dijelasin, efeknya apa ke diri kamu, pro kontranya, benefitnya. Selama kamu merasa butuh bantuan mereka, silakan. Setiap dari kita punya titik lemah yang kadar toleransinya berbeda. 

Selain merangkai jurnal emosi itu, sedikit-sedikit, saya kembali menulis dan bercerita di sini. 
Karena ternyata, nggak ada temen cerita itu bikin kotak sampah di dalam diri orang itu bisa penuh dan luber. 
Udah dulu ya, saya mau tidur karena besok harus bangun subuh, mau coba lagi rutinin olahraga. 
Salah satu me time yang saya udah lama nggak lakuin, dan itu diingetin sama psikolog juga. 

At the end, yang bisa nyembuhin kamu ya diri kamu sendiri. 
Orang lain, bahkan ahli sekalipun, hanya bantu ngingetin. 
Good luck para pejuang!

Senin, 06 Januari 2020

Keumala Masuk Sekolah

Sebagai seorang ibu dari seorang toddler, akhirnya saya tiba pada sebuah debar yang lain. Sungguh menjadi ibu adalah perjalanan dengan sejumlah debar. Setiap hari.

Hari ini Keumala sudah mulai masuk sekolah. Kelas playground. Enam hari lagi, umurnya insyaa Allah 3 tahun. Orang tua saya takut dan cemas. "Masih kekecilan", kata mereka.

Saya memiliki keyakinan yang lain. Bagi saya, Keumala memiliki energi yang harus disalurkan. Saya terus menerus mengafirmasi Keumala, bahwa sekolah itu menyenangkan. Keumala bisa bermain dengan teman-temannya. Melakukan banyak hal. Dan dia excited.

Beberapa waktu ke belakang, Keumala sedang sangat agresif dan galak. Mungkin dia bosan melakukan kegiatan yang itu-itu saja setiap hari. Setelah masuk ke sekolah hari ini, yang ternyata saya tidak bisa antar (hiks 😭😭😭), saya dapat kabar baik dari orang tua saya dan gurunya. Semua bilang, "aman".

Am a proud mom, Dek!!!! 😭

Saya ambil cuti akhir tahun selama dua minggu, hari pertama saya kembali kerja dengan jadwal meeting yang sudah menanti, adalah hari pertama Keumala masuk sekolah. Sungguh jika ada ibu yang membaca ini, kalian tentu tau rasanya. Debar yang tak lagi bisa diungkapkan. Tapi alhamdulillah, Allah Maha Penolong.

Bapak saya menelpon, "Si Keumala udah di sekolah, anaknya langsung mau sama Bu Guru, utinya ga boleh masuk kelas, tapi Keumala nggak nangis".
Dari balik telepon, saya merasakan debar yang berbeda lagi. Senyum-senyum sambil bersyukur.
Alhamdulillah, terima kasih yaa Allah.

Situasi itu bertahan sampai selesai kelas dan Keumala bisa mengikuti kelas dengan baik. Meskipun, di foto masih terlihat belum senyum. Hahaha.
Semua guru juga bilang, kalau Keumala anak yang mandiri. Yah, memang tuntutan sebagai anak yang orang tuanya pisah, mungkin mandiri adalah hal yang tidak bisa ditawar. Saya percaya Keumala sudah memenuhi kemampuan dasar untuk berada di lingkungan lain selain keluarga saya.

Keumala harus belajar bersosialisasi. Tangki dalam dirinya yang kosong, harus diisi sedini mungkin. Kalau tidak dengan sosok ayah, semoga sosok guru dan teman-teman bisa menjadi sedikit penawarnya.

Semoga ini adalah keputusan tepat sebelum saya akhirnya bisa memilih siapa yang akan menjadi ayah sambungnya.

Selamat datang di langkah selanjutnya, Dek.
Terima kasih sudah menjadi Keumala yang baik hati.
Ibu sayang Keumala.

Bangga 💞

*abaikan tulisan tangan yang gemetar.