Rabu, 08 Mei 2019

Sementara Itu Saya Harus Tetap Sadar


Bagi seseorang, mungkin butuh ratusan kali jatuh, untuk membuat dia mencintai dirinya sendiri. Menerima secara sadar, bahwa ketidakmampuan diri untuk menerima segala hal yang tak sesuai dengan keinginan, adalah proses jatuh bangun yang panjang.

Saya, mewakili jiwa-jiwa yang masih berproses untuk menerima. Saya rasa tak apa untuk berjalan lebih lambat dari orang-orang di sekeliling. Saya rasa juga tak apa, ada hal-hal yang tak bisa saya dapat, sementara orang-orang di sekeliling saya sudah (merasa) memilikinya.

Kadang saya berjalan terlalu lamban. Kadang saya mampu berlari. Kadang saya juga bisa terjatuh. Lagi, dan lagi.

Saya rasa tak apa. Iya, jelas saya sedang menyemangati diri sendiri. Kalau bukan saya, siapa lagi?


***


Ketika saya pada akhirnya memutuskan untuk bercerai, sudah tidak ada lagi hal yang sanggup saya perbaiki, kecuali diri saya. Sudah tidak ada lagi hal yang bisa saya selamatkan, kecuali menyelamatkan diri saya sendiri. Ya, tentunya dengan Keumala. Keumala adalah satu paket dengan diri saya sejak saya menjadi Ibu. Di mana ada Keumala, saya akan terus ada di dalamnya.

Saya dengan sadar mengambil langkah ini, karena saya sudah cukup sadar bahwa selama pernikahan, saya mencoba tetap sadar. Saya sebisa mungkin harus sadar bahwa tujuan saya dalam pernikahan adalah untuk ibadah. Saya harus sadar bahwa saya adalah seorang istri dan ibu, yang mau tak mau harus bisa kuat dalam senyap. Saya harus tetap sadar bahwa kapasitas saya sebagai manusia, perempuan, dan istri adalah tetap di bawah kendali dan ridho suami.

Saya harus sadar akan itu semua.

Menjaga kesadaran selama itu, rasanya saya juga harus sadar; kalau ternyata jalan yang kami pilih sudah berbeda untuk meraih tujuan pernikahan.


***
Saya bersatu karena Allah, saya berpisah, insyaa Allah juga saya niatkan karena Allah.

Selasa, 07 Mei 2019

Yang Terjadi Adalah

Pelan-pelan ya, saya coba kembali- dengan hati-hati memilih bagian mana yang harus saya tuliskan. Bagi sebagian orang yang biasa menulis tentang apa saja, menjadi terbungkam dan dibungkam, berarti bisa saja hidupnya berhenti.

Saya mencoba hidup kembali, setelah beberapa kali mati.
Banyak yang mengira, saya menghilang. Mungkin iya, saya pernah menghilang. Dan sesungguhnya saat itu, saya sedang dalam medan perang yang lain. Berperang yang bukan untuk menang atau kalah. Tapi untuk tetap bertahan- tetap sama-sama hidup- dan tetap sama-sama selamat.

Saya memulai perjalanan rumah tangga dengan seseorang yang menakjubkan. Saya tidak lagi punya simpanan kata untuk menggambarkannya. Hanya mungkin, perasaan dan waktu-waktu itu dipenuhi dengan rasa takjub.

Butuh serangkaian waktu untuk berpikir, apakah saya akan menulis atau tidak. Karena jari-jari saya juga sudah kelu.

Sejak 2016 dan menikah, kehidupan saya berubah total. Saya mulai belajar menyerahkan hidup saya, tentunya dengan keyakinan awal bahwa saya menikah dengan orang yang memiliki satu visi, misi, dan tujuan yang sama dengan saya.
Tak butuh waktu lama, banyak komitmen yang tidak terpenuhi. Betapa pernikahan bisa sesulit itu.

Saya sudah resmi berpisah dengan lelaki yang pernah saya pilih.

Tidak mudah untuk mengakui kegagalan ini. Tidak mudah pula untuk berjuang dan mempertahankan kami. Tidak mudah pula setelahnya, untuk menjalani kehidupan sebagai single working mom. Tapi semua ini hanya tidak mudah. Bukan tidak mungkin.

Saya mengenal diri saya. Saya hanya butuh waktu untuk sembuh. Saya tidak trauma meskipun pernah patah, atau (mungkin) depresi.

Pasti ada pintu lain yang akan saya temui. Seperti rejeki, ada yang hilang dan pasti ada yang akan datang. Selama masih ada usia, Allah akan menetapkan rejeki dalam bentuk apa pun, demi bisa terus berusia.  

Note: Saat ini saya sudah baik-baik saja. Kabar ini mungkin sesuai perkiraan kalian, atau mungkin malah meledak di mata kalian saat kalian baca tulisan ini. Intinya saat ini saya hanya berusaha kembali hidup dan berjalan sebagaimana saya pernah bangkit dan terus berjalan dari jatuh-jatuh sebelumnya. 
Saya mencoba hidup kembali, setelah beberapa kali mati.

Senin, 05 November 2018

Kisah Sapih Menyapih Keumala


Masyaa Allaah.. Alhamdulillaah.. Allahu Akbar… Subhanallaah…
Keumala, makasih ya, Dek. Kamu sangat-sangat-sangat koperatif dalam bab persapihan.

Jadi ceritanya, hampir setiap masuk weekend, saya disandera sama Keumala. Ga boleh ngapa-ngapain, kecuali nyusuin dia (direct breastfeeding dari lahir). Semakin tambah umurnya, semakin amburadul gaya menyusunya, ditambah kayak makin jago nyari celah minta nyusu terus. Singkat cerita, Sabtu kemaren, Keumala lagi iseng ngerjain Ibu dan Utinya. Ga mau makan dari sore. Maunya nyusuuuuu terus. Nangisnya serius banget udah kayak diomel-omelin.

Sepanjang malem juga tidurnya jadi ga tenang, mungkin laper. Jadi cranky dan balik minta nyusu terus—lagi.  Yha, ga kelar-kelar tuh, gitu aja teros. Sampe Ibunya kelaperan. Bangun kliyengan karena tidur kebangun terus.

Di Minggu subuh, dia bangun langsung turun dari kasur, “Mbu, minum”. Dengan mata zombie dan kliyengan saya turun sama dia ambil minum. Abis dia minum sempet main, tapi saya tinggal tidur (saya lagi period ya, ga usah perhatiin udah solat subuh apa belom, hfft). Akhirnya dia nyusul ke kasur minta tidur lagi. Dan bener, dia tidur lagi. Tapi setelah beberapa jam, saya bangun dan ngebiarin dia tidur, tadinya yaa—maunya gitu. Tapi baru berdiri, Keumala langsung teriak, “Mbuuu, nyen” dan langsung kejer. Wow. Super wow.

Sampe pindah kamar dan tetep minta nyusu. Wow. Semua rencana hari Minggu pagi ketunda.

Akhirnya Uti bawain pasta gigi dan dioles ke dada saya. “Liat tuh, Ibu pake obat”.
Keumala mematung di perut saya. Bener-bener mematung. Dia melotot sambil menggigit jarinya. Saya masih diam mengamati, “Apakah tangisnya akan pecah?”. 
Lalu Uti datang lagi bawa Cerelac Puff. “De, mau ini, nggak?”
Keumala langsung turun dari perut saya. Mengejar Cerelac Puff. Saya melongo dan segera bangun.

Sungguh saya belum berniat nyapih Keumala. 

Walaupun sudah beberapa bulan lalu saya sounding di setiap saat dia menyusu, saya bilang tanpa bosan, “Dek, nanti kalo udah 2 tahun, udah gede, jadi udah nggak nyen lagi ya,” Biasanya isapannya terhenti, lalu menatap mata saya, tapi setelah saya senyumin, pasti dia angguk-angguk. Saya kira, dia cuma mau membuat saya senang aja gitu.

Waktu berjalan, sudah hampir jam 2 siang, Keumala belum mau tidur siang. Mungkin dia bingung, gimana caranya tidur sama Ibu selain dengan nyen? Kita nonton TV bareng-bareng, ada kakak sepupunya Tante, Oomnya. Keumala sudah makan siang, saya suruh dia tiduran di kasur sambil saya kipas-kipas. Dan ga lama kemudian, amazingly, belum pernah terjadi sama saya, dia tidur. Yaa Allaah, alhamdulillah.

Saat dia tidur, saya bilang ke Tantenya, “Nanti kalo dia ngelilir minta nyen gimana?”
“Udah lanjut aja (sapihnya), anaknya ga rewel ga teriak2” Kata Tantenya.
Sebenernya saya masih 50:50 niat menyapih dadakan ini, mengingat usia Keumala belum genap 2 tahun. Masih kurang 2 bulan setengah. Saya juga nanya ke Kakak saya, “Gue dosa ga? Kan, Keumala belom 2 tahun?”
“Ya enggaklah. Tapi tersetah kalo masih mau disusuin. Ini mah anaknya ga drama, biasanya nyapih itu diulur-ulur. Misalnya hari ini gagal, besok ulang lagi, ulang lagi, sampe 2 tahun bener-bener berenti. Lah, ini hari pertama aja udah nerima anaknya.” Jelas Kakak saya yang anak-anaknya sudah SD.

Bener juga, sih, Kesempatan emas, ya.

Menjelang malam, saya dag-dig-dug. Gimana yaa, nanti kalo dia rewel? Saat sudah siap tidur dan masuk kamar, biasanya baru matiin lampu atau nyalain AC, Keumala udah ngerengek, “Mbuu, nyeen”. Andalan. Udah apal Ibunya. 

Tapi malam tadi, setelah saya nyalain AC dan matiin lampu kamar, dia naik kasur, dan saya bilang mau ke kamar mandi dulu. Refill oles pasta gigi- HAHAHA. Saya masuk dan keluar kamar mandi dengan harap-harap cemas. Nangis nggak, ya ini anak?

Nggak nangis. Alhamdulillah.

Cuma kita kayak orang baru kenal. Hmmm, ngapain ya ini? Hmmmmmm, mau tidur sih, tapi ngapain dulu yaa ini? YES, AWKWARD BGT HAHA.

Saya memutuskan nyalain lampu lagi dan bacain Keumala buku Halo Balita. Dia bener-bener udah ngerti semua yang diceritain. Lalu dia mengantuk, yawn. Sekali lagi, saya kira kejadian ini hanya ada di TV. Anak belom 2 tahun, didongengin bisa menguap. 
“Nah, Dede udah ngantuk, kita bobo, ya..”

Saya mematikan lampu dan membacakan beberapa ayat yang masuk dalam bacaan sunnah sebelum tidur. Nggak lupa dengan doanya. Seraya saya selipkan doa saya yang keras banget dalam hati, “Yaa Allah tolong berikan kemudahan dalam proses ini, mala mini, dan setelahnya. Aamiiiiiiiiiiin”

Setelah itu, Keumala hanya guling-guling nyari posisi. Guling-guling peluk guling. Guling-guling ambil bantal ditaro di badannya. Serba guling-guling salah tingkah, lah. Saya masih deg-degan. “Apakah tangisnya akan pecah?”(2). Dan ga lama kemudian, amazingly, belum pernah terjadi sama saya (selain tadi siang) dia tidur. Yaa Allaah, alhamdulillah (2). 

Dalam tidurnya, beberapa kali Keumala bangun, tapi cuma merengek. Kebangun pertama mau dikasih minum, ditawarin UHT nggak mau. Kebangun ke-dua, ke-tiga, ke-empat, nangis di kasur, nggak mau digendong, nggak mau dielus-elus, nggak mau sama Ibu. Marah kayaknya sama Ibu. Hiks. 
Tapi saya mengerti sekali, buat dia, nenen is life. Ketika saya harus konsisten untuk berhenti menyusui, tega nggak tega, saya harus siap dengan risikonya. Awalnya saya pikir, saya harus gendong2 Keumala sampe tidur lagi, muter-muter keliling rumah sambil menenangkan nangisnya, ternyata Maha Besar Allah dan kehendak-Nya. Alhamdulillah semua sangat wajar, jauh di bawah kekhawatiran saya sebelumnya.

Pagi ini, Keumala bangun saat saya mandi. Dan dia panggil, 
“Mbu… Minum”

Masyaa Allaah.. Alhamdulillaah.. Allahu Akbar… Subhanallaah…
Keumala, makasih ya, Dek. Kamu sangat-sangat-sangat koperatif dalam bab persapihan.

Sebelumnya saya pernah baca-baca cara menyapih, WWL (Weaning With Love), dll, dll. Tapi ternyata anak saya harus disapih dadakan, dan Alhamdulillah lancar. Saya rasa, ketika seorang Ibu normal yang menyayangi anaknya dan tiba di masa menyapih, harus menyapih, metode apa pun pasti dilakukan dengan Love. Weaning With Love itu hanya teori, praktiknya, seorang Ibu dan anak yang lebih tau.

Happy Weaning, Mommies!!