Senin, 06 Januari 2020

Keumala Masuk Sekolah

Sebagai seorang ibu dari seorang toddler, akhirnya saya tiba pada sebuah debar yang lain. Sungguh menjadi ibu adalah perjalanan dengan sejumlah debar. Setiap hari.

Hari ini Keumala sudah mulai masuk sekolah. Kelas playground. Enam hari lagi, umurnya insyaa Allah 3 tahun. Orang tua saya takut dan cemas. "Masih kekecilan", kata mereka.

Saya memiliki keyakinan yang lain. Bagi saya, Keumala memiliki energi yang harus disalurkan. Saya terus menerus mengafirmasi Keumala, bahwa sekolah itu menyenangkan. Keumala bisa bermain dengan teman-temannya. Melakukan banyak hal. Dan dia excited.

Beberapa waktu ke belakang, Keumala sedang sangat agresif dan galak. Mungkin dia bosan melakukan kegiatan yang itu-itu saja setiap hari. Setelah masuk ke sekolah hari ini, yang ternyata saya tidak bisa antar (hiks 😭😭😭), saya dapat kabar baik dari orang tua saya dan gurunya. Semua bilang, "aman".

Am a proud mom, Dek!!!! 😭

Saya ambil cuti akhir tahun selama dua minggu, hari pertama saya kembali kerja dengan jadwal meeting yang sudah menanti, adalah hari pertama Keumala masuk sekolah. Sungguh jika ada ibu yang membaca ini, kalian tentu tau rasanya. Debar yang tak lagi bisa diungkapkan. Tapi alhamdulillah, Allah Maha Penolong.

Bapak saya menelpon, "Si Keumala udah di sekolah, anaknya langsung mau sama Bu Guru, utinya ga boleh masuk kelas, tapi Keumala nggak nangis".
Dari balik telepon, saya merasakan debar yang berbeda lagi. Senyum-senyum sambil bersyukur.
Alhamdulillah, terima kasih yaa Allah.

Situasi itu bertahan sampai selesai kelas dan Keumala bisa mengikuti kelas dengan baik. Meskipun, di foto masih terlihat belum senyum. Hahaha.
Semua guru juga bilang, kalau Keumala anak yang mandiri. Yah, memang tuntutan sebagai anak yang orang tuanya pisah, mungkin mandiri adalah hal yang tidak bisa ditawar. Saya percaya Keumala sudah memenuhi kemampuan dasar untuk berada di lingkungan lain selain keluarga saya.

Keumala harus belajar bersosialisasi. Tangki dalam dirinya yang kosong, harus diisi sedini mungkin. Kalau tidak dengan sosok ayah, semoga sosok guru dan teman-teman bisa menjadi sedikit penawarnya.

Semoga ini adalah keputusan tepat sebelum saya akhirnya bisa memilih siapa yang akan menjadi ayah sambungnya.

Selamat datang di langkah selanjutnya, Dek.
Terima kasih sudah menjadi Keumala yang baik hati.
Ibu sayang Keumala.

Bangga 💞

*abaikan tulisan tangan yang gemetar.

2 komentar: