Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Mei 2021

See you when i see you

Kalian pernah nggak, ada di titik nggak pengen apa-apa, cuma lagi jalan aja ngikutin arah takdir? 

Saya lagi mengalami itu dan mikir, kok bisa gitu ya? 
_

Dua bulan ke belakang, saya lagi penuh eager untuk kerja. Lalu, hal besar terjadi dan itu cukup mempengaruhi mood saya. 
_

Tapi lagi-lagi, saya memutuskan untuk keep fighting. 
Saya siap menghadapi hal besar itu di kantor. 
Kita liat ya, takdir membawa kita untuk bersikap gimana nanti di kantor. 
_

See you when I see you
:)

Sabtu, 17 April 2021

Apa Rasanya Viral?

Jadi, teman-teman. Saya nggak bermaksud dan nggak expect bahwa twit saya yang ini bisa viral. Aktivitas saya malam itu ditutup dengan makan Umaku Sushi. Ini sushi enak banget yaa Allah, sashimi-nya gede-gede banget 😍😭
Lalu saya pulang agak malam, mandi, dan setelah itu malah segar. 

Akhirnya di tengah malam itu saya ngetwit. Karena memang twitter saya adalah akun lama, jadi banyak mutual saya yang memang followersnya banyak. Dan malam itu, Mas Erwin Arnada, yang kebetulan mutual saya dan followersnya banyak, meng-quote twit saya. 



Ya abis ngetwit, saya tidur, sih. Pagi-pagi kaget, karena mulai ramai. Di-quote sana sini sama akun yang followersnya banyak. Di-reply sama komika-komika yang biasanya, saya yg nyamber mereka. Sampe 2 hari itu notif full, nggak berenti. Saya kan bukan siapa-siapa, ya. Tiba-tiba viral itu bikin saya deg-deg-an. Tau sendiri kan kekuatan jari netizen kita, kalo udah pro, pro banget, kalo udah kontra, kontra banget. 

Saya berulang kali baca twit saya, memastikan dan meyakinkan diri sendiri, nggak ada maksud nyinggung siapa-siapa. Kan ini pengalaman saya. Hanya, memang ada beberapa penggunaan kalimat/kata yang kurang pas. Tapi temen saya bilang, itu kan twitter, bukan disertasi.


Memang buat orang yang bacanya dengan kepala jernih, pasti ngerasanya twit saya ya gitu aja--bukan yang ada maksud untuk membuat orang nggak punya standar dalam mencari pasangan. Balik lagi, kalo bacanya dengan pikiran jernih, ya. Tapi kan, keadaan orang saat baca sesuatu itu di luar kendali saya, ya. 

Pada dasarnya, itu saya lagi monolog. Karena saya sendiri lagi berpikir, untuk kesempatan ke dua dalam memilih pasangan, saya harus gimana, sih? Masa iya mau nyari yang sempurna? Kan saya sendiri jauh dari kata sempurna. Sesimple itu, teman-teman. 

Segitu banyaknya likes dan RT, disusul juga sahut-menyahutnya temen2 yang kontra. Ada yang akhirnya mereka ribut sendiri. Saya soalnya takut salah ngomong, jadi yaudah, sebagai yang punya rumah nonton keributan aja. Kalo kata temen saya, rem saya masih bagus. Wkwkwk. Cakram, bosssss. 

Lalu apa rasanya, viral? 
Shocked, seneng karena banyak yang setuju, banyak juga yang berterima kasih dan dapet insight (nah yang adem2, bisa cek di quote twit). Nggak lupa, saya juga takut sama yang ngegas padahal nggak paham twit saya 🌝

Di sinilah saya akhirnya tau, menjadi viral, yang harus tebal bukan hanya lemak #ehkok, tapi juga telinga. Karena tanggapan mereka-mereka yang kontra, terdengar seperti teriak-teriakan di kuping saya. 

Tapi rasanya saya hanya ingin balas, "Cobain aja dulu, nikah, kak. Testimony later" 
Karena yang ngegas banyak yang belom nikaaaah πŸ˜‘ 

Hanya berbeda jam, beberapa teman saya menemukan twit saya sudah lintas platform.
Di Quora, di beberapa akun Instagram, sampai di portal online. 

Begitulah, mungkin saya pernah gibah, jadi saat ini dibalas tuntas sama Allah, ribuan pasang mata komenin twit saya, walaupun banyakan yang setuju, sih, wkwk 😢😢

10 hari pasca twit saya viral, saya masih tiap hari terima notifnya 😢😢

Selasa, 17 November 2020

Stress WFH Sampe ke Psikolog? Ada? Ada!

Ternyata menulis adalah salah satu metode healing yang dipakai psikolog. Saya juga baru tau karena seumur hidup, akhirnya baru kali ini saya merasa luber dan nggak tau mau ngapain, jadi saya coba konsul ke psikolog. 

WFH ini mungkin bagi sebagian orang menjadi sesuatu yang menyenangkan. Awalnya saya juga begitu, tapi setelah 8 bulan dijalanin, ternyata kepala saya mau meledak. Kerjaan kadang nggak kenal waktu. Di samping itu, di waktu yang sama saya harus dampingin Keumala. 

Dalam mindset Keumala, ketika Ibu di rumah ya berarti itu waktu untuk main sama dia. Tapi sayangnya, dia harus ngeliat ibunya dari pagi sampe sore di depan laptop. Ini laptop udah berapa kali tiba-tiba ditutup sama dia kalo saya kerja. Kebayang nggak, kalo saya lagi ngerjain deadline, atau meeting, atau udah ngerjain banyak hal dan belom di-save? Emosi-emosi itu nggak sadar membawa saya untuk menjadi seseorang yang amburadul. 

Saya bisa marah banget sama Keumala. 
Dan di sini saya secara sadar minta maaf sama Keumala karena saya marah dan kasar sama dia. 

It's hard, De. Untuk menyadari bahwa yang Ibu lakuin adalah salah. 
Salah satu kesalahan orang tua adalah berat mengaku salah dan minta maaf. Saya nggak mau itu terjadi di antara saya dan Keumala. 

Maka rantai ini harus saya putus. Diawali dengan pendekatan rohani sama Allah. Lalu saya coba memilih konsul ke psikolog dari Yayasan Pulih. Salah satu yayasan yang ngebantu pemulihan trauma. Seperti yang saya sampein di awal, ini adalah pertama kalinya saya konsul ke psikolog. Saya di sini mau cerita sedikit gimana pengalaman pertama kali ke psikolog. 

Intinya, mereka para Psikolog akan dengerin curhat kamu dari A-Z. Mereka akan klasifikasiin kondisi cerita berdasarkan emosi yang kamu keluarin ketika cerita. Misal, kamu nangis kejer pas cerita topik apa. Setelah semua sampah yang ada di kepala kamu udah kamu buang, mereka akan jabarin, tarik garis-garis kemungkinan dan asal muasal kenapa kamu pada akhirnya luber. 

Akan ada metode yang diberikan untuk heal your soul. Ada juga pertanyaan, dulu-dulu/ sebelum di kondisi ini, misal 5tahun ke belakang, biasanya ngapain kalo stress? Lalu ditanya jadwal/ aktivitas apa aja setiap harinya saat ini, untuk menentukan mana stress healing yang bisa di-suggest. 

Pada akhirnya, saya dikasih PR untuk menulis lagi. Awalnya disuruh nulis "daily emotion" yang harus dikasih skala- untuk menentukan mana masalah paling gede yang paling urgent untuk diselesaikan. 
Misal, 17-11-2020, kerja - jam 9 - emosi seneng karena kerjaannya saya suka - skala 8.5/ 10.
Jam 10 - Keumala udah mulai ganggu kerjaan karena ngajak main - emosi mulai marah - skala 8.5/ 10, dsb. Nanti akan diklasifikasiin sama psikolognya apa masalah yang paling ganggu dan paling besar di hidup kamu saat ini. 

So far, psikolog membantu kamu untuk mengurai benang kusut di pikiran kamu. Satu-satu dijelasin, efeknya apa ke diri kamu, pro kontranya, benefitnya. Selama kamu merasa butuh bantuan mereka, silakan. Setiap dari kita punya titik lemah yang kadar toleransinya berbeda. 

Selain merangkai jurnal emosi itu, sedikit-sedikit, saya kembali menulis dan bercerita di sini. 
Karena ternyata, nggak ada temen cerita itu bikin kotak sampah di dalam diri orang itu bisa penuh dan luber. 
Udah dulu ya, saya mau tidur karena besok harus bangun subuh, mau coba lagi rutinin olahraga. 
Salah satu me time yang saya udah lama nggak lakuin, dan itu diingetin sama psikolog juga. 

At the end, yang bisa nyembuhin kamu ya diri kamu sendiri. 
Orang lain, bahkan ahli sekalipun, hanya bantu ngingetin. 
Good luck para pejuang!

Kamis, 14 November 2019

Mendung dan Pikiran Setelahnya

Cuaca mendung memang sering kali mengaduk perasaan. Khususnya buat saya yang jalan ninjanya sebagai anak melankolis. 

Raga di kantor, jiwa dan pikiran di kamar. 
Nonton film. 
Selimutan.
Minum coklat hangat. 
Untuk makan, pesan di ojek online. 

Tapi itu dulu. Jaman masih single. Setelah ada Keumala? 
"Ibu, ayo main playdough" 

"Iya, ayok."

Assalamualaikum, mendung. 




Jangan ketawa kalian para single fighter. Can relate, ya? Ayo mutualan. 
#anaktwitter :))

Jumat, 28 Juni 2019

Menemukan Tulisan yang Seharusnya Sudah Di-post


Menua bersama.

Pada sebuah waktu, saya terpantik oleh kalimat itu. 
Terdengar indah ya? Ya, segala sesuatu yang dilakukan bersama-sama memang terkesan lebih menyenangkan. Tapi bagaimana bila, kalau janji itu harus direlakan dan tidak sanggup ditepati? 

Manusia bisa punya banyak rencana. 

Lalu, tentang kesendirian memang menyimpan banyak komentar. Padahal belum tentu dengan sendiri, hidup jadi lebih tidak menyenangkan.


Pernikahan yang tidak bisa diteruskan.
Tak ada yang pernah bersiap untuk perceraian. Bahkan sampai saat ini, di mana saya harus mengalaminya sendiri. Peristiwa ini masih tabu, apalagi di keluarga saya. Tapi, bukan berarti hal ini menjadi hal yang tak bisa terjadi.
Betapa sebuah hubungan dan komunikasi bisa seberantakan itu. Dan muara dari segala permasalahan, tak pernah bisa terlihat di mana. Tidak pernah bertemu. Singkatnya, kami hanya sanggup bilang, kalau jalan kami tidak cocok.

Lalu, bagaimana dengan tulisan saya di bawah, mengenai-- bagaimana kami bisa memutuskan bersama, dan lain-lain sebagainya?

Itu masa lalu. 

Apa pun bisa berubah. Bahkan cuaca yang sudah ada prediksinya pun bisa dengan mudah berubah. Bila dapat diterima dengan mudah melalui bahasa keislaman, semua sudah kehendak Allah.
Apakah Allah menghendaki kebersamaan dan/ untuk/ juga perpisahan? Pasti salah satu dari kalian akan bertanya ini setelah baca kehendak Allah.

Saya bilang sekali lagi, sudah takdir. 

Saya mempunyai takdir sendiri jika menikah dengan A, saya punya takdir sendiri jika menikah dengan B, dan saya juga punya takdir sendiri jika menikah dengan C. Saya hanya menjalani garis takdir. 

Pasti berat alasan ini diterima nalar. Tapi saya yang tau dan merasakan sendiri, perjuangan untuk mempertahankan yang sama sekali tidak lagi cocok, adalah sebuah kesia-siaan yang mutlak.

Hidup harus berjalan. Sampai nanti waktunya berhenti, sampai masing-masing dari kita mati.

Dan perceraian, hanyalah sebuah chapter. 

Masih banyak halaman-halaman lain yang lebih menarik untuk dikunjungi.

Keumala, fasten your seatbelt.

___





- Draft on 26 Juli, 2018
Saya memang tidak harus menceritakan semua hal tentang kegagalan ini. Dan tulisan-tulisan yang saya unggah, semua itu bukan untuk drama, apalagi untuk membuktikan bahwa saya tidak move on. Come on, open your mind. Saya rasa ini justru menjadi waktu dan babak baru kehidupan saya. Saya sudah rela tinggalkan semuanya di belakang. 

Saya rasa, saat saya masih sulit menerima keadaan dan berdarah-darah, saya tidak dapat menulis kisah perpisahan. Atau tidak bisa mengunggah apa-apa. Tapi, saat saya tetiba membaca kembali draft ini, saya merasa sudah baik-baik saja. Makanya saya bisa unggah tanpa perasaan yang aneh. Hihihi. 

Semua orang punya cara masing-masing untuk sembuh, kan? 
Alhamdulillah, i'm okay 




Selasa, 07 Mei 2019

Yang Terjadi Adalah

Pelan-pelan ya, saya coba kembali- dengan hati-hati memilih bagian mana yang harus saya tuliskan. Bagi sebagian orang yang biasa menulis tentang apa saja, menjadi terbungkam dan dibungkam, berarti bisa saja hidupnya berhenti.

Saya mencoba hidup kembali, setelah beberapa kali mati.
Banyak yang mengira, saya menghilang. Mungkin iya, saya pernah menghilang. Dan sesungguhnya saat itu, saya sedang dalam medan perang yang lain. Berperang yang bukan untuk menang atau kalah. Tapi untuk tetap bertahan- tetap sama-sama hidup- dan tetap sama-sama selamat.

Saya memulai perjalanan rumah tangga dengan seseorang yang menakjubkan. Saya tidak lagi punya simpanan kata untuk menggambarkannya. Hanya mungkin, perasaan dan waktu-waktu itu dipenuhi dengan rasa takjub.

Butuh serangkaian waktu untuk berpikir, apakah saya akan menulis atau tidak. Karena jari-jari saya juga sudah kelu.

Sejak 2016 dan menikah, kehidupan saya berubah total. Saya mulai belajar menyerahkan hidup saya, tentunya dengan keyakinan awal bahwa saya menikah dengan orang yang memiliki satu visi, misi, dan tujuan yang sama dengan saya.
Tak butuh waktu lama, banyak komitmen yang tidak terpenuhi. Betapa pernikahan bisa sesulit itu.

Saya sudah resmi berpisah dengan lelaki yang pernah saya pilih.

Tidak mudah untuk mengakui kegagalan ini. Tidak mudah pula untuk berjuang dan mempertahankan kami. Tidak mudah pula setelahnya, untuk menjalani kehidupan sebagai single working mom. Tapi semua ini hanya tidak mudah. Bukan tidak mungkin.

Saya mengenal diri saya. Saya hanya butuh waktu untuk sembuh. Saya tidak trauma meskipun pernah patah, atau (mungkin) depresi.

Pasti ada pintu lain yang akan saya temui. Seperti rejeki, ada yang hilang dan pasti ada yang akan datang. Selama masih ada usia, Allah akan menetapkan rejeki dalam bentuk apa pun, demi bisa terus berusia.  

Note: Saat ini saya sudah baik-baik saja. Kabar ini mungkin sesuai perkiraan kalian, atau mungkin malah meledak di mata kalian saat kalian baca tulisan ini. Intinya saat ini saya hanya berusaha kembali hidup dan berjalan sebagaimana saya pernah bangkit dan terus berjalan dari jatuh-jatuh sebelumnya. 
Saya mencoba hidup kembali, setelah beberapa kali mati.

Senin, 05 November 2018

Kisah Sapih Menyapih Keumala


Masyaa Allaah.. Alhamdulillaah.. Allahu Akbar… Subhanallaah…
Keumala, makasih ya, Dek. Kamu sangat-sangat-sangat koperatif dalam bab persapihan.

Jadi ceritanya, hampir setiap masuk weekend, saya disandera sama Keumala. Ga boleh ngapa-ngapain, kecuali nyusuin dia (direct breastfeeding dari lahir). Semakin tambah umurnya, semakin amburadul gaya menyusunya, ditambah kayak makin jago nyari celah minta nyusu terus. Singkat cerita, Sabtu kemaren, Keumala lagi iseng ngerjain Ibu dan Utinya. Ga mau makan dari sore. Maunya nyusuuuuu terus. Nangisnya serius banget udah kayak diomel-omelin.

Sepanjang malem juga tidurnya jadi ga tenang, mungkin laper. Jadi cranky dan balik minta nyusu terus—lagi.  Yha, ga kelar-kelar tuh, gitu aja teros. Sampe Ibunya kelaperan. Bangun kliyengan karena tidur kebangun terus.

Di Minggu subuh, dia bangun langsung turun dari kasur, “Mbu, minum”. Dengan mata zombie dan kliyengan saya turun sama dia ambil minum. Abis dia minum sempet main, tapi saya tinggal tidur (saya lagi period ya, ga usah perhatiin udah solat subuh apa belom, hfft). Akhirnya dia nyusul ke kasur minta tidur lagi. Dan bener, dia tidur lagi. Tapi setelah beberapa jam, saya bangun dan ngebiarin dia tidur, tadinya yaa—maunya gitu. Tapi baru berdiri, Keumala langsung teriak, “Mbuuu, nyen” dan langsung kejer. Wow. Super wow.

Sampe pindah kamar dan tetep minta nyusu. Wow. Semua rencana hari Minggu pagi ketunda.

Akhirnya Uti bawain pasta gigi dan dioles ke dada saya. “Liat tuh, Ibu pake obat”.
Keumala mematung di perut saya. Bener-bener mematung. Dia melotot sambil menggigit jarinya. Saya masih diam mengamati, “Apakah tangisnya akan pecah?”. 
Lalu Uti datang lagi bawa Cerelac Puff. “De, mau ini, nggak?”
Keumala langsung turun dari perut saya. Mengejar Cerelac Puff. Saya melongo dan segera bangun.

Sungguh saya belum berniat nyapih Keumala. 

Walaupun sudah beberapa bulan lalu saya sounding di setiap saat dia menyusu, saya bilang tanpa bosan, “Dek, nanti kalo udah 2 tahun, udah gede, jadi udah nggak nyen lagi ya,” Biasanya isapannya terhenti, lalu menatap mata saya, tapi setelah saya senyumin, pasti dia angguk-angguk. Saya kira, dia cuma mau membuat saya senang aja gitu.

Waktu berjalan, sudah hampir jam 2 siang, Keumala belum mau tidur siang. Mungkin dia bingung, gimana caranya tidur sama Ibu selain dengan nyen? Kita nonton TV bareng-bareng, ada kakak sepupunya Tante, Oomnya. Keumala sudah makan siang, saya suruh dia tiduran di kasur sambil saya kipas-kipas. Dan ga lama kemudian, amazingly, belum pernah terjadi sama saya, dia tidur. Yaa Allaah, alhamdulillah.

Saat dia tidur, saya bilang ke Tantenya, “Nanti kalo dia ngelilir minta nyen gimana?”
“Udah lanjut aja (sapihnya), anaknya ga rewel ga teriak2” Kata Tantenya.
Sebenernya saya masih 50:50 niat menyapih dadakan ini, mengingat usia Keumala belum genap 2 tahun. Masih kurang 2 bulan setengah. Saya juga nanya ke Kakak saya, “Gue dosa ga? Kan, Keumala belom 2 tahun?”
“Ya enggaklah. Tapi tersetah kalo masih mau disusuin. Ini mah anaknya ga drama, biasanya nyapih itu diulur-ulur. Misalnya hari ini gagal, besok ulang lagi, ulang lagi, sampe 2 tahun bener-bener berenti. Lah, ini hari pertama aja udah nerima anaknya.” Jelas Kakak saya yang anak-anaknya sudah SD.

Bener juga, sih, Kesempatan emas, ya.

Menjelang malam, saya dag-dig-dug. Gimana yaa, nanti kalo dia rewel? Saat sudah siap tidur dan masuk kamar, biasanya baru matiin lampu atau nyalain AC, Keumala udah ngerengek, “Mbuu, nyeen”. Andalan. Udah apal Ibunya. 

Tapi malam tadi, setelah saya nyalain AC dan matiin lampu kamar, dia naik kasur, dan saya bilang mau ke kamar mandi dulu. Refill oles pasta gigi- HAHAHA. Saya masuk dan keluar kamar mandi dengan harap-harap cemas. Nangis nggak, ya ini anak?

Nggak nangis. Alhamdulillah.

Cuma kita kayak orang baru kenal. Hmmm, ngapain ya ini? Hmmmmmm, mau tidur sih, tapi ngapain dulu yaa ini? YES, AWKWARD BGT HAHA.

Saya memutuskan nyalain lampu lagi dan bacain Keumala buku Halo Balita. Dia bener-bener udah ngerti semua yang diceritain. Lalu dia mengantuk, yawn. Sekali lagi, saya kira kejadian ini hanya ada di TV. Anak belom 2 tahun, didongengin bisa menguap. 
“Nah, Dede udah ngantuk, kita bobo, ya..”

Saya mematikan lampu dan membacakan beberapa ayat yang masuk dalam bacaan sunnah sebelum tidur. Nggak lupa dengan doanya. Seraya saya selipkan doa saya yang keras banget dalam hati, “Yaa Allah tolong berikan kemudahan dalam proses ini, mala mini, dan setelahnya. Aamiiiiiiiiiiin”

Setelah itu, Keumala hanya guling-guling nyari posisi. Guling-guling peluk guling. Guling-guling ambil bantal ditaro di badannya. Serba guling-guling salah tingkah, lah. Saya masih deg-degan. “Apakah tangisnya akan pecah?”(2). Dan ga lama kemudian, amazingly, belum pernah terjadi sama saya (selain tadi siang) dia tidur. Yaa Allaah, alhamdulillah (2). 

Dalam tidurnya, beberapa kali Keumala bangun, tapi cuma merengek. Kebangun pertama mau dikasih minum, ditawarin UHT nggak mau. Kebangun ke-dua, ke-tiga, ke-empat, nangis di kasur, nggak mau digendong, nggak mau dielus-elus, nggak mau sama Ibu. Marah kayaknya sama Ibu. Hiks. 
Tapi saya mengerti sekali, buat dia, nenen is life. Ketika saya harus konsisten untuk berhenti menyusui, tega nggak tega, saya harus siap dengan risikonya. Awalnya saya pikir, saya harus gendong2 Keumala sampe tidur lagi, muter-muter keliling rumah sambil menenangkan nangisnya, ternyata Maha Besar Allah dan kehendak-Nya. Alhamdulillah semua sangat wajar, jauh di bawah kekhawatiran saya sebelumnya.

Pagi ini, Keumala bangun saat saya mandi. Dan dia panggil, 
“Mbu… Minum”

Masyaa Allaah.. Alhamdulillaah.. Allahu Akbar… Subhanallaah…
Keumala, makasih ya, Dek. Kamu sangat-sangat-sangat koperatif dalam bab persapihan.

Sebelumnya saya pernah baca-baca cara menyapih, WWL (Weaning With Love), dll, dll. Tapi ternyata anak saya harus disapih dadakan, dan Alhamdulillah lancar. Saya rasa, ketika seorang Ibu normal yang menyayangi anaknya dan tiba di masa menyapih, harus menyapih, metode apa pun pasti dilakukan dengan Love. Weaning With Love itu hanya teori, praktiknya, seorang Ibu dan anak yang lebih tau.

Happy Weaning, Mommies!!

Rabu, 17 Februari 2016

Pada Satu Lelaki

Rasanya kami tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal lain selain masa depan kami. 

Semalam kamu mengirimi saya foto lewat LINE dengan tangan berlumuran oli. Beberapa jam sebelumnya kamu bilang akan pergi ke bengkel untuk melihat progress motor yang kamu titipkan di sana. Saya sendiri sedang sibuk mencari barang-barang seserahan sampai counter Watson di Margo City menunda waktu tutupnya. "Badan aku bau bensin" pesan itu masuk lewat LINE diikuti foto-foto yang kamu kirim terkait aktivitas di bengkel. Saya baru tahu, kalau mesin motor benar-benar bisa dibelah. Lalu kamu memastikan semua rencana kamu untuk menyiapkan motor untuk kebutuhan saya sehari-hari nanti setelah menikah, berjalan sesuai dengan harapan kamu. Sampai kamu sendiri yang ikut membelah mesin motor. 


Rencana dan tujuan, itulah yang sibuk kami siapkan dan lakukan. 

Beberapa bulan lalu, saya pernah sakit karena seharian hunting dan janjian dengan beberapa vendor catering untuk test food. Saat itu kerjaan saya di kantor lagi super duper padat. Iya, saya tahu, pekerjaan kamu pun. Hingga kamu harus stay di Solo sekian hari. Saya lupa berapa hari. Karena yang saya ingat selama kamu di sana, kamu mengejar kabar dari saya, memastikan segala urusan terkait pernikahan kita yang kamu serahkan ke saya, aman terkendali setelah ter-pending satu minggu karena kesibukan saya di kantor. Sepulang dari Solo, kamu langsung gegap gempita menagih jadwal meeting dengan vendor-vendor catering yang saya temui sebelumnya. Pertengkaran kerap terjadi. Tapi saya dan kamu memutuskan untuk stay, mengingat apa yang sedang kita siapkan, apa yang sedang kita lakukan adalah hal-hal yang berhubungan dengan tujuan kita; menikah, dan bermasa depan bersama. 


Sebuah perasaan tak terlupakan yang hadir pada pertemuan ke-empat. 

Pada pertemuan kita ke-empat, saat segala sesuatu yang kita siapkan untuk rencana menikah, belum ada yang fiks saat itu. Tapi diam-diam, kamu sudah sibuk mencari rumah demi mengamankan hidup saya dan kamu nanti setelah menikah. Sepulang dari rumah kamu, setelah perkenalan saya dengan keluarga kamu, kamu mengajak saya melihat kondisi rumah yang kamu cari di OLX.  Pada saat itu, benar-benar hati saya terjun bebas entah seberapa jauh jaraknya. Saya mungkin baru saja membuat keputusan akan terus jatuh cinta berkali-kali kepada kamu. Bukan karena rumah hasil pencarian OLX, tapi karena rencana (matang) kamu satu demi satu kamu wujudkan, kamu buktikan, tentunya saya menjadi alasan dan orang yang ada dalam usaha kamu membuat rencana (se)besar; menikah. 


Kalimat sakti di penghujung pertemuan pertama kami.

31 September 2015, adalah pertama kalinya kita bertemu. Untuk sebuah alasan yang sama-sama tidak masuk dalam plan kita. Di akhir pertemuan pertama yang berlangsung selama kurang lebih satu jam setengah itu, kita terlibat dalam arus topik yang deras. Kamu bukan orang yang basa-basi dan suka membuai. Pada saat itu saya juga sedang tidak mood untuk dibuai. Di penghujung pertemuan yang bisa disimpulkan, kamu bilang "Semua yang saya cari ada di kamu. Dan semua yang kamu cari ada di saya." Kamu berhasil membuat saya mengingat betapa pertemuan kita benar-benar bermakna di samping "niat karena Allah" yang selalu terngiang sepanjang pembicaraan kita saat itu. Saya pikir, mungkin plan-plan selanjutnya seperti yang sudah kamu wujudkan di atas, adalah buah pemikiran saat kamu berjalan pulang setelah pertemuan pertama kita. Hingga ada pertemuan ke dua, kamu dan saya sama-sama kembali meyakinkan diri. Dan kamu bilang, "tugas kamu sekarang tunggu saya ketemu Bapak kamu." 


Satu hal yang hanya kamu yang melakukannya. Dan saya tak punya alasan untuk bilang "tidak".

Hari itu dipilih, karena weekend. 11 Oktober 2015, kamu berhasil menemukan jalan ke rumah saya. Meskipun kamu harus main jemput-jemputan dengan kakak saya di depan gang. Hari itu merupakan pertemuan ke-tiga antara saya dan kamu. Saya tidak terlalu tahu persis kalimat pamungkas apa yang kamu sampaikan ke Bapak saya. Karena saya sibuk meracik cocktail untuk kamu di dapur. Dan kamu bilang, saya tidak perlu tahu sekarang. Nanti setelah menikah, baru kamu akan beritahu. 
Pada akhir acara makan siang, kepada Bapak, kamu meminta izin untuk berkomunikasi dengan saya. Iya, untuk chatting. "Silakan" adalah kata yang akhirnya keluar dari bibir Bapak yang tersenyum. Karena sejak pertama bertemu, kita sama-sama tidak pernah berhubungan lewat media apa pun. Mungkin hanya lewat doa. Dari situ, dengan restu Bapak saya, kamu mulai menghubungi saya lewat telepon. Dan kita selalu membahas rencana kita; menikah. Saya tidak pernah bisa bilang tidak untuk semua yang kamu rencanakan untuk kita. Saya setuju dengan kalimat yang kamu ucapkan di pertemuan pertama kita, "Semua yang saya cari ada di kamu. Dan semua yang kamu cari ada di saya".


Perjalanan kita begitu singkat untuk sampai di hari ini. Hari yang sungguh disibukkan oleh rencana kita; menikah. 

Pada satu lelaki, 
Saya memilih, menerima, bersedia, dan siap untuk menikah dengan kamu, Yusuf Kharisma Putra. Mari tetap berdoa untuk kelancaran seluruh rencana kita. 

Senin, 19 Agustus 2013

Sampai di Surga Kecil, Sawarna

Baru saja mendarat keren dari Sawarna. Kalau orang bilang ini liburan, ya, ini sungguh-sungguh liburan. Perjalanan yang panjang sekali, baru saja saya tempuh. Janjian di KFC Depok pukul 07.00, tapi karena satu dan lain hal, kami baru berkumpul pukul 09.00 di McD Sawangan. Kemudian siap menempuh perjalanan ke Sawarna. Meskipun ngaret, tidak ada raut kusut dan gelisah. Di malam sebelumnya, kami sudah membulatkan tekad, bahwa perjalanan ini diniatkan liburan. Full of adventure! Sisa liburan tinggal 5hari. Kami akan menghabiskan waktu 4hari 3malam. Maka waktu yang kami habiskan untuk melihat-lihat sebuah pulau -minimal desa, kami rasa cukup.

Beberapa accident memang terjadi saat kami dalam perjalanan menuju Sawarna. Karena jalur yang kami tempuh sangat-sangat juara. Kami melewati tiga buah gunung.
Gunung pertama, Jasinga - Bogor
Ada gunung dengan pemandangan memukau, ada gunung dengan jalan berbatu, ngebul, dan kanan-kiri jurang, ada juga gunung yang kanan kirinya hutan, berbatu, ngebul, dan dilewati maghrib-maghrib. Dua kali, ban belakang Cebong (nama aslinya Rafi, sih) mengalami masalah. Tapi, kami semua sepakat, back to niat. 'Full of adventure' kali ini sudah menjadi tagline yang kami kukuhkan di dada kami. Tidak ada saling menyalahkan, tidak ada saling menggerutu. Bahkan ketika dua belas jam perjalanan yang kami tempuh (seharusnya Depok-Sawarna hanya sekitar 7 sampai 8 jam), wajah-wajah kami masih bisa ditakar. Tidak melebihi takaran kegundahan atau wajah penuh murka karena nggak sampe-sampe Sawarna. Sawarna adalah salah satu nama desa di Pulau Bayah, Banten, memiliki nama pantai yang sama seperti nama desanya.
Longway to heaven, -kamera Android, edit Instagram

Pulau Bayah, adalah pulau yang memiliki beberapa desa dan masing-masing desa memiliki pantai. Jadi sepanjang Pulau Bayah, kami kenyang dengan suara ombak besar yang bergulung-gulung, pasir putih, pasir coklat, pasir krem, pasir hitam, dan karang-karang. Namun jangan salah, kami juga kenyang dengan pepohonan hijau, pohon menjulang-pohon kelapa, jalanan kecil berkelok menuju gunung-gunung dan perbukitan. Bahkan di pesisir pantai kami menemui hamparan sawah.

Pukul setengah sebelas malam waktu setempat, dengan kanan-kiri sawah, bukit, dan suara ombak (baca; gelap gulita, jarang rumah penduduk), ditemani bintang-bintang (kami semua melihat sebuah bintang jatuh! akkkk!) dan bulan sabit yang memanjakan mata kami, akhirnya kami sampai di Pulau Bayah. Namun, karena sudah larut, kami berpikir, sepertinya home stay, room, villa, atau lain-lain yang sejenis, sepertinya sudah pada tutup. Tidak enak mengganggu dan mengetuk-ngetuk pintu Pak/Ibu Owner. Akhirnya kami memutuskan untuk menepi dan menginap di masjid atau musholla setempat. Sampai akhirnya kami melihat sebuah masjid (juga melihat dua ekor ular di tengah jalan, yang satu mati terlindas, yang satu masih melongo tengah malem) dan memastikan bahwa kami akan bermalam di pelataran masjid tersebut. Banyak orang yang sudah lebih dulu uncang-uncang kaki di pelataran masjid itu. Untungnya masih ada space untuk kami. Saya dengan sigap, mencari posisi untuk meluruskan kaki, karena kondisi mata dan (maaf) bokong, sudah berpapasan dengan usia, mungkin harus secepatnya diperjuangkan agar selamat. Hahak. 
Bermalam, minjem sleeping bag Jadran, numpang solat, serta beres-beres muka (dan yang harus dibereskan -bukan kenangan, lho- HAHAK, di masjid ini)
Saya baru sempat foto pagi-pagi. Ngeri juga kalo ngeluarin kamera tengah malem gitu, niat foto masjid, tau-tau kepatok uler. Hih. Lalu, karena saya orangnya polos, saya berjalan terus ke belakang masjid, sambil nunggu yang lain bangun dan siap-siap melanjutkan perjalanan. Saya kira batu di belakang masjid adalah karang, dan ke sanaan dikit adalah laut atau pantai, ternyata, itu makam. Jeng jeng jeng jeng. Jadi semalam saya tidur sebelahan sama makam, itu juga ga sadar kalo nggak ngezoom hasil foto dan dikasih tau sama Faisal. Untung taunya pas udah pagi, pas udah mau cabut dari situ. *kabur*
Saya kira itu cuma semacam batu prasasti, see? Polos kan? *kalem*
Lalu, setelah semuanya siap, kami melanjutkan perjalanan, tujuan kami adalah mencari penginapan, menaruh barang bawaan, lalu menyusuri pantai. Feeling saya kuat sekali untuk mencari penginapan Villa Suma. Suma merupakan nama owner-nya. Harga sewa villanya dipatok permalam satu juta-karena katanya, sedang musim liburan-lebaran. Akhirnya setelah tiga jam tidur-tiduran di rumah bambu menunggu Pak Suma pulang dari bank, kami mendapatkan harga yang cocok. Lantas saya langsung guling-guling di halaman rumah Villa Suma yang isinya adalah puluhan pohon kelapa, lalu ke sanaan dikit, sudah bibir pantai. I called it 'Pintu Surga'

Pondok Bambu di belakang Villa Suma -kamera Android, edit Instagram

Guling-guling dan memotret pakai self timer, tanpa mandi. Siapa peduli? ;)
Kami masih menahan diri untuk buru-buru terjun dan gegoleran di pantai, kami nikmati dulu batang demi batang pohon kelapa yang menjulang tinggi di pelupuk mata kami. Saat masuk ke dalam rumah, melempar sepatu, dan lupa dengan lapar, kami bersyukur akhirnya perjalanan ke Pulau Bayah selamat dan lancar. Saatnya sandal jepit dan kacamata hitam! Pukul 11.00 di Pulau Bayah terik sekali meskipun anginnya kencang menerpa pipi-pipi kami, mengucapkan selamat datang.
Status-status kami harusnya berganti: "Maaf, sudah di pintu surga. Call me later" :D -kamera Android
Maka begitulah. Sisa-sisa hari kami, tidak usah ditanya. Kami habiskan dengan menyusur kembali desa-desa, bukit dan gunung, jembatan kayu, goa-goa, teluk, hutan, pasar, lapangan, padang pasir, untuk berjumpa dengan hal yang sesungguhnya biasa orang cari, 'kebahagiaan'. Tidak semua foto akan di-share, karena kami bukan tukang foto. Saya juga hanya penikmat jalan panjang terjal dan berbatu yang ingin mengenalkan surga kecil di Jawa Barat, Pulau Bayah, Banten. Mari berkunjung ke sana, maka kamu akan bersyukur diberi kesempatan Tuhan untuk melihat surga kecil.

Kalau orang bilang ini liburan, ya, ini sungguh-sungguh liburan. Libur dari jejal-jejal pikiran tentang kamu, sibuknya timeline, dan menghapus warna gelap di pelupuk mata.

Salam keren! ;)



Sedikit oleh-oleh, foto-foto dari kamera Android jadul setelah melanglang buana, guling-guling, dan gegoleran 4hari 3malam. #NoFilter kata anak-anak jaman sekarang, mah :D

Selasa, 30 Juli 2013

Mimpi dari Telur


Dari Google
Ada cerita dari seorang Bapak Pemetik Kelapa. Seorang bapak yang punya mimpi. Mimpi yang luar biasa. Saat beliau sedang memanjat pohon kelapa, beliau menemukan sebuah sarang burung kecil yang tersangkut di antara sela buah-buah kelapa. Entahlah, kenapa pohon yang kurus, tinggi, langsing, dan berdahan tanpa cabang malah dipilih seekor induk burung untuk menjadi persinggahan sarangnya. Burung apakah yang rela bolak-balik terbang tinggi-tinggi dan mondar-mandir mengumpulkan bahan untuk membuat sarang dan bertelur, lalu meninggalkan keduanya? Tidak tahu. Bukan hanya saya yang tidak tahu. Tapi Si Bapak Pemetik Kelapa juga tidak tahu itu telur burung apa. 

Setelah Si Bapak menjatuhkan beberapa buah kelapa ke tanah, kemudian beliau mengambil telur yang ada di sarangnya dengan hati-hati dan membawanya turun.
"Ini telur burung apa ya kira-kira?"
"Nggak tau. Nemu di mana, Pak?"
"Di atas, itu loh ada sarang burung"
"Kok bisa, Pak?"
"Ya apa yang nggak bisa di dunia ini?"
Hening.

"Jadi nanti, saya tetaskan telur ini, kemudian saya rawat sampai gede, lalu nanti burungnya saya ternakkan, lalu hasil ternaknya untuk membeli sepeda motor, lalu akan saya siapkan anak buah untuk ngojek, hasil ngojek akan saya gunakan untuk beli mobil, lalu saya jadi juragan angkutan, lalu nanti saya belikan kereta api, uang hasil sewaan kereta api akan saya belikan pesawat terbang... Ngeng.... Ngengg...." Beliau masih menggenggam telur burung itu, diajaknya berdansa dalam genggaman seperti menerbangkan pesawat kertas. Mimpinya luar biasa tinggi, jauh lebih tinggi dari pohon yang baru saja dipanjatnya, walau hanya berbekal sebutir telur burung temuan di pohon kelapa. Saking semangatnya, telur itu terlempar membentur pohon kelapa.

DUGG!!. PYARRRRR. 
Google - Edit


Mimpi itu seketika hilang. Pecah. Berantakan.

"Hahahaha." Beliau tertawa kencang sekali.
Mungkin menertawai mimpinya yang baru saja hancur beleberan.

Senin, 17 Juni 2013

Saat Sekeluarga Sakit

"Usahain jangan ngeluh ya, ujian kan buat lo naik kelas" - MbaJel 

Bener! 
Setelah ngobrol sampe mucrat-muncrat perihal kepindahannya, entah saya aja yang ngerasa atau dia juga, kalo kita malah jadi intens bertukar kabar. Kalo saya emang ngaku, sengaku-ngakunya. Saya keilangan dia banget di kantor. Dia kayak Uje versi cewek, yang meyakinkan saya untuk menentukan apa mau saya lebih dahulu, baru nyari solusi atau menentukan dengan taktik apa saya meraih mau saya. 

Biasa, lulusan psikologi. Jadi ya lebih mateng, secara umur juga lebih tua. Hahak. 
MbaJel itu lagi fokus-fokusnya nyari "satu formula" buat sharing ke siapa aja yang dia kenal, untuk ngasih tau, bahwa kita sebenernya adalah makhluk yang on the way. On the way to go to heaven. 

Kita semua sudah tau, bahwa kita menginginkan surga. Kita semua sudah tau, bahwa surga itu ada di ujung jalan lurus yang lagi kita lalui saat ini di hidup. Hanya saja, dalam jalan utama ini, ada banyak belokan yang memanggil-manggil untuk dilewati. Kalo MbaJel bilang, "Dari jaman Nabi Adam, setan kan udah bilang, kalo dia bakal terus ganggu manusia dari jalan yang lurus, sampe kiamat." 

Nah, get the point? 

Seberapa jauh kamu belok? Silakan tanya ke diri sendiri, Diyan. 

Layaknya manusia yang lain, kita pasti bertanya-tanya kenapa, kan ya? Kalau kayaknya musibah dan cobaan beruntun datang. Saya pribadi nggak sedang bertanya kenapa. Tapi sedang menata hati supaya bisa nerima, dan terus bersyukur. Melihat kondisi keluarga yang, yah, sedang begitu deh. Melihat mimpi saya yang satu per satu mulai runtuh--karena mungkin saya kurang ambisius, atau apa pun itu. Melihat keadaan diri sendiri yang sedang mengenaskan. Macam manusia yang nggak punya hati, yang hatinya udah digantung di langit-langit kamar buat diketawain sebelum tidur, mulai bersarang, dan berdebu. 

Ya, saya lagi ngerasa nggak punya hati. Seperti udah bosen apa-apa disangkutin pake hati. Sekarang kalo ngeliat cuma dari realiti sama kenyataan aja. Bisa ternyata hati disetir buat ke arah sana. 

Ngetawain orang yang jatuh cinta (apalagi sama saya). Ngelirik jijik sama orang pacaran di Rumah Sakit yang ganggu banget ketawa-ketawa di ruang tunggu. Untuk hal-hal itu, MbaJel tau banget nih, karena kita ketawa bareng, hahaahaha. Tapi parahnya, beberapa kali menanggapi cerita mimpi-mimpi anak-anak cuma dengan "good! catch it!" Nggak pake hati. 

Mungkin sedang begitu banyaknya cobaan yang sedang datang, kali ya. Jadi hatinya kayak udah terkuras sendiri. 

Makanya MbaJel selalu ngingetin saya buat jangan ngeluh, karena ujian itu buat naik kelas. 

Inget, Diyan, mau naik kelas, nggak? 
Bersyukur tuh ditawarin Allah buat naik kelas. 
Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur!

Selasa, 19 Maret 2013

19 Maret 2013

Masih menikmati. 

Pernah merasakan bahwa keberkahan tumpah ruah di hari ulang tahun kamu? Itulah yang saya rasakan. Seharian ucapan alhamdulillah berdesir sampai di sela-sela pembuluh darah. Nikmat Tuhan itu selalu tak bisa didustakan.

Sungguh, terlalu banyak cerita yang sulit untuk diceritakan dengan menulis di sini. Semua itu saya pilih  dirasakan di dalam hati dan menjadi moment yang tersimpan di folder 19 Maret 2013 di dalam pikiran.

Media sosial berkali-kali (hampir selalu) memiliki peran penting. Saya mendapat nilai A dalam Tugas Kuliah Akhir, mendapat ucapan selamat dari dosen-dosen penguji karena data-data saya lengkap tentang tema media sosial sebagai sarana peningkatan penjualan dan citra perusahaan. Kali ini, meskipun berbeda tema, pun begitu. Media sosial berperan sebagai penghubung saya dengan teman-teman saya yang sudah berpisah pandang cukup lama dengan saya. Meskipun SMS dan telepon sebenarnya sarana yang paling saya suka. Hehe.

Terima kasih, semuanya. Selalu ada cerita dalam setiap waktu. Pada waktu ini, cerita ini menjadi sangat berharga. Melihat betapa banyak orang yang menyempatkan waktunya mengucapkan, mengingatkan, dan mendoakan yang terbaik untuk saya.  

Bless them, God :)

*posting sambil makan pizza dan nyicip-nyicip lasagna PHD dari kakak saya yang ternyata lebih enak dari Pizza Hut itu sendiri

Jumat, 01 Maret 2013

Bulan Film Nasional

Jadi, kita sudah berjumpa dengan 1 Maret 2013.

Dengan perih-perihnya kondisi perut yang belum makan siang, saya ceritakan, bahwa baru saja saya keliling di website Taman Ismail Marzuki dan Kineforum.

Setelah dilihat-lihat, calender event-nya.... Mmmm... Bikin perut saya semakin perih...

Gimana dong? Waktunya kok agak susah dicocokin dengan kegiatan saya? Ah, semakin ingin freelance... (pikiran sesat sesaat)

Saya kan sudah bertekad sejak hari itu, bahwa saya akan sering-sering ke TIM pada bulan ini. Hari Film Nasional ada di tanggal 30 Maret. Akan ada rangkaian panjang-sebulan-untuk pemutaran macam-macam film. Cek sendiri gih ke websitenya.

Terus, gimana dong? :'(