Tampilkan postingan dengan label new life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label new life. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Mei 2021

See you when i see you

Kalian pernah nggak, ada di titik nggak pengen apa-apa, cuma lagi jalan aja ngikutin arah takdir? 

Saya lagi mengalami itu dan mikir, kok bisa gitu ya? 
_

Dua bulan ke belakang, saya lagi penuh eager untuk kerja. Lalu, hal besar terjadi dan itu cukup mempengaruhi mood saya. 
_

Tapi lagi-lagi, saya memutuskan untuk keep fighting. 
Saya siap menghadapi hal besar itu di kantor. 
Kita liat ya, takdir membawa kita untuk bersikap gimana nanti di kantor. 
_

See you when I see you
:)

Selasa, 17 November 2020

Stress WFH Sampe ke Psikolog? Ada? Ada!

Ternyata menulis adalah salah satu metode healing yang dipakai psikolog. Saya juga baru tau karena seumur hidup, akhirnya baru kali ini saya merasa luber dan nggak tau mau ngapain, jadi saya coba konsul ke psikolog. 

WFH ini mungkin bagi sebagian orang menjadi sesuatu yang menyenangkan. Awalnya saya juga begitu, tapi setelah 8 bulan dijalanin, ternyata kepala saya mau meledak. Kerjaan kadang nggak kenal waktu. Di samping itu, di waktu yang sama saya harus dampingin Keumala. 

Dalam mindset Keumala, ketika Ibu di rumah ya berarti itu waktu untuk main sama dia. Tapi sayangnya, dia harus ngeliat ibunya dari pagi sampe sore di depan laptop. Ini laptop udah berapa kali tiba-tiba ditutup sama dia kalo saya kerja. Kebayang nggak, kalo saya lagi ngerjain deadline, atau meeting, atau udah ngerjain banyak hal dan belom di-save? Emosi-emosi itu nggak sadar membawa saya untuk menjadi seseorang yang amburadul. 

Saya bisa marah banget sama Keumala. 
Dan di sini saya secara sadar minta maaf sama Keumala karena saya marah dan kasar sama dia. 

It's hard, De. Untuk menyadari bahwa yang Ibu lakuin adalah salah. 
Salah satu kesalahan orang tua adalah berat mengaku salah dan minta maaf. Saya nggak mau itu terjadi di antara saya dan Keumala. 

Maka rantai ini harus saya putus. Diawali dengan pendekatan rohani sama Allah. Lalu saya coba memilih konsul ke psikolog dari Yayasan Pulih. Salah satu yayasan yang ngebantu pemulihan trauma. Seperti yang saya sampein di awal, ini adalah pertama kalinya saya konsul ke psikolog. Saya di sini mau cerita sedikit gimana pengalaman pertama kali ke psikolog. 

Intinya, mereka para Psikolog akan dengerin curhat kamu dari A-Z. Mereka akan klasifikasiin kondisi cerita berdasarkan emosi yang kamu keluarin ketika cerita. Misal, kamu nangis kejer pas cerita topik apa. Setelah semua sampah yang ada di kepala kamu udah kamu buang, mereka akan jabarin, tarik garis-garis kemungkinan dan asal muasal kenapa kamu pada akhirnya luber. 

Akan ada metode yang diberikan untuk heal your soul. Ada juga pertanyaan, dulu-dulu/ sebelum di kondisi ini, misal 5tahun ke belakang, biasanya ngapain kalo stress? Lalu ditanya jadwal/ aktivitas apa aja setiap harinya saat ini, untuk menentukan mana stress healing yang bisa di-suggest. 

Pada akhirnya, saya dikasih PR untuk menulis lagi. Awalnya disuruh nulis "daily emotion" yang harus dikasih skala- untuk menentukan mana masalah paling gede yang paling urgent untuk diselesaikan. 
Misal, 17-11-2020, kerja - jam 9 - emosi seneng karena kerjaannya saya suka - skala 8.5/ 10.
Jam 10 - Keumala udah mulai ganggu kerjaan karena ngajak main - emosi mulai marah - skala 8.5/ 10, dsb. Nanti akan diklasifikasiin sama psikolognya apa masalah yang paling ganggu dan paling besar di hidup kamu saat ini. 

So far, psikolog membantu kamu untuk mengurai benang kusut di pikiran kamu. Satu-satu dijelasin, efeknya apa ke diri kamu, pro kontranya, benefitnya. Selama kamu merasa butuh bantuan mereka, silakan. Setiap dari kita punya titik lemah yang kadar toleransinya berbeda. 

Selain merangkai jurnal emosi itu, sedikit-sedikit, saya kembali menulis dan bercerita di sini. 
Karena ternyata, nggak ada temen cerita itu bikin kotak sampah di dalam diri orang itu bisa penuh dan luber. 
Udah dulu ya, saya mau tidur karena besok harus bangun subuh, mau coba lagi rutinin olahraga. 
Salah satu me time yang saya udah lama nggak lakuin, dan itu diingetin sama psikolog juga. 

At the end, yang bisa nyembuhin kamu ya diri kamu sendiri. 
Orang lain, bahkan ahli sekalipun, hanya bantu ngingetin. 
Good luck para pejuang!

Jumat, 28 Juni 2019

Menemukan Tulisan yang Seharusnya Sudah Di-post


Menua bersama.

Pada sebuah waktu, saya terpantik oleh kalimat itu. 
Terdengar indah ya? Ya, segala sesuatu yang dilakukan bersama-sama memang terkesan lebih menyenangkan. Tapi bagaimana bila, kalau janji itu harus direlakan dan tidak sanggup ditepati? 

Manusia bisa punya banyak rencana. 

Lalu, tentang kesendirian memang menyimpan banyak komentar. Padahal belum tentu dengan sendiri, hidup jadi lebih tidak menyenangkan.


Pernikahan yang tidak bisa diteruskan.
Tak ada yang pernah bersiap untuk perceraian. Bahkan sampai saat ini, di mana saya harus mengalaminya sendiri. Peristiwa ini masih tabu, apalagi di keluarga saya. Tapi, bukan berarti hal ini menjadi hal yang tak bisa terjadi.
Betapa sebuah hubungan dan komunikasi bisa seberantakan itu. Dan muara dari segala permasalahan, tak pernah bisa terlihat di mana. Tidak pernah bertemu. Singkatnya, kami hanya sanggup bilang, kalau jalan kami tidak cocok.

Lalu, bagaimana dengan tulisan saya di bawah, mengenai-- bagaimana kami bisa memutuskan bersama, dan lain-lain sebagainya?

Itu masa lalu. 

Apa pun bisa berubah. Bahkan cuaca yang sudah ada prediksinya pun bisa dengan mudah berubah. Bila dapat diterima dengan mudah melalui bahasa keislaman, semua sudah kehendak Allah.
Apakah Allah menghendaki kebersamaan dan/ untuk/ juga perpisahan? Pasti salah satu dari kalian akan bertanya ini setelah baca kehendak Allah.

Saya bilang sekali lagi, sudah takdir. 

Saya mempunyai takdir sendiri jika menikah dengan A, saya punya takdir sendiri jika menikah dengan B, dan saya juga punya takdir sendiri jika menikah dengan C. Saya hanya menjalani garis takdir. 

Pasti berat alasan ini diterima nalar. Tapi saya yang tau dan merasakan sendiri, perjuangan untuk mempertahankan yang sama sekali tidak lagi cocok, adalah sebuah kesia-siaan yang mutlak.

Hidup harus berjalan. Sampai nanti waktunya berhenti, sampai masing-masing dari kita mati.

Dan perceraian, hanyalah sebuah chapter. 

Masih banyak halaman-halaman lain yang lebih menarik untuk dikunjungi.

Keumala, fasten your seatbelt.

___





- Draft on 26 Juli, 2018
Saya memang tidak harus menceritakan semua hal tentang kegagalan ini. Dan tulisan-tulisan yang saya unggah, semua itu bukan untuk drama, apalagi untuk membuktikan bahwa saya tidak move on. Come on, open your mind. Saya rasa ini justru menjadi waktu dan babak baru kehidupan saya. Saya sudah rela tinggalkan semuanya di belakang. 

Saya rasa, saat saya masih sulit menerima keadaan dan berdarah-darah, saya tidak dapat menulis kisah perpisahan. Atau tidak bisa mengunggah apa-apa. Tapi, saat saya tetiba membaca kembali draft ini, saya merasa sudah baik-baik saja. Makanya saya bisa unggah tanpa perasaan yang aneh. Hihihi. 

Semua orang punya cara masing-masing untuk sembuh, kan? 
Alhamdulillah, i'm okay 




Rabu, 17 Februari 2016

Pada Satu Lelaki

Rasanya kami tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal lain selain masa depan kami. 

Semalam kamu mengirimi saya foto lewat LINE dengan tangan berlumuran oli. Beberapa jam sebelumnya kamu bilang akan pergi ke bengkel untuk melihat progress motor yang kamu titipkan di sana. Saya sendiri sedang sibuk mencari barang-barang seserahan sampai counter Watson di Margo City menunda waktu tutupnya. "Badan aku bau bensin" pesan itu masuk lewat LINE diikuti foto-foto yang kamu kirim terkait aktivitas di bengkel. Saya baru tahu, kalau mesin motor benar-benar bisa dibelah. Lalu kamu memastikan semua rencana kamu untuk menyiapkan motor untuk kebutuhan saya sehari-hari nanti setelah menikah, berjalan sesuai dengan harapan kamu. Sampai kamu sendiri yang ikut membelah mesin motor. 


Rencana dan tujuan, itulah yang sibuk kami siapkan dan lakukan. 

Beberapa bulan lalu, saya pernah sakit karena seharian hunting dan janjian dengan beberapa vendor catering untuk test food. Saat itu kerjaan saya di kantor lagi super duper padat. Iya, saya tahu, pekerjaan kamu pun. Hingga kamu harus stay di Solo sekian hari. Saya lupa berapa hari. Karena yang saya ingat selama kamu di sana, kamu mengejar kabar dari saya, memastikan segala urusan terkait pernikahan kita yang kamu serahkan ke saya, aman terkendali setelah ter-pending satu minggu karena kesibukan saya di kantor. Sepulang dari Solo, kamu langsung gegap gempita menagih jadwal meeting dengan vendor-vendor catering yang saya temui sebelumnya. Pertengkaran kerap terjadi. Tapi saya dan kamu memutuskan untuk stay, mengingat apa yang sedang kita siapkan, apa yang sedang kita lakukan adalah hal-hal yang berhubungan dengan tujuan kita; menikah, dan bermasa depan bersama. 


Sebuah perasaan tak terlupakan yang hadir pada pertemuan ke-empat. 

Pada pertemuan kita ke-empat, saat segala sesuatu yang kita siapkan untuk rencana menikah, belum ada yang fiks saat itu. Tapi diam-diam, kamu sudah sibuk mencari rumah demi mengamankan hidup saya dan kamu nanti setelah menikah. Sepulang dari rumah kamu, setelah perkenalan saya dengan keluarga kamu, kamu mengajak saya melihat kondisi rumah yang kamu cari di OLX.  Pada saat itu, benar-benar hati saya terjun bebas entah seberapa jauh jaraknya. Saya mungkin baru saja membuat keputusan akan terus jatuh cinta berkali-kali kepada kamu. Bukan karena rumah hasil pencarian OLX, tapi karena rencana (matang) kamu satu demi satu kamu wujudkan, kamu buktikan, tentunya saya menjadi alasan dan orang yang ada dalam usaha kamu membuat rencana (se)besar; menikah. 


Kalimat sakti di penghujung pertemuan pertama kami.

31 September 2015, adalah pertama kalinya kita bertemu. Untuk sebuah alasan yang sama-sama tidak masuk dalam plan kita. Di akhir pertemuan pertama yang berlangsung selama kurang lebih satu jam setengah itu, kita terlibat dalam arus topik yang deras. Kamu bukan orang yang basa-basi dan suka membuai. Pada saat itu saya juga sedang tidak mood untuk dibuai. Di penghujung pertemuan yang bisa disimpulkan, kamu bilang "Semua yang saya cari ada di kamu. Dan semua yang kamu cari ada di saya." Kamu berhasil membuat saya mengingat betapa pertemuan kita benar-benar bermakna di samping "niat karena Allah" yang selalu terngiang sepanjang pembicaraan kita saat itu. Saya pikir, mungkin plan-plan selanjutnya seperti yang sudah kamu wujudkan di atas, adalah buah pemikiran saat kamu berjalan pulang setelah pertemuan pertama kita. Hingga ada pertemuan ke dua, kamu dan saya sama-sama kembali meyakinkan diri. Dan kamu bilang, "tugas kamu sekarang tunggu saya ketemu Bapak kamu." 


Satu hal yang hanya kamu yang melakukannya. Dan saya tak punya alasan untuk bilang "tidak".

Hari itu dipilih, karena weekend. 11 Oktober 2015, kamu berhasil menemukan jalan ke rumah saya. Meskipun kamu harus main jemput-jemputan dengan kakak saya di depan gang. Hari itu merupakan pertemuan ke-tiga antara saya dan kamu. Saya tidak terlalu tahu persis kalimat pamungkas apa yang kamu sampaikan ke Bapak saya. Karena saya sibuk meracik cocktail untuk kamu di dapur. Dan kamu bilang, saya tidak perlu tahu sekarang. Nanti setelah menikah, baru kamu akan beritahu. 
Pada akhir acara makan siang, kepada Bapak, kamu meminta izin untuk berkomunikasi dengan saya. Iya, untuk chatting. "Silakan" adalah kata yang akhirnya keluar dari bibir Bapak yang tersenyum. Karena sejak pertama bertemu, kita sama-sama tidak pernah berhubungan lewat media apa pun. Mungkin hanya lewat doa. Dari situ, dengan restu Bapak saya, kamu mulai menghubungi saya lewat telepon. Dan kita selalu membahas rencana kita; menikah. Saya tidak pernah bisa bilang tidak untuk semua yang kamu rencanakan untuk kita. Saya setuju dengan kalimat yang kamu ucapkan di pertemuan pertama kita, "Semua yang saya cari ada di kamu. Dan semua yang kamu cari ada di saya".


Perjalanan kita begitu singkat untuk sampai di hari ini. Hari yang sungguh disibukkan oleh rencana kita; menikah. 

Pada satu lelaki, 
Saya memilih, menerima, bersedia, dan siap untuk menikah dengan kamu, Yusuf Kharisma Putra. Mari tetap berdoa untuk kelancaran seluruh rencana kita. 

Senin, 17 Juni 2013

Saat Sekeluarga Sakit

"Usahain jangan ngeluh ya, ujian kan buat lo naik kelas" - MbaJel 

Bener! 
Setelah ngobrol sampe mucrat-muncrat perihal kepindahannya, entah saya aja yang ngerasa atau dia juga, kalo kita malah jadi intens bertukar kabar. Kalo saya emang ngaku, sengaku-ngakunya. Saya keilangan dia banget di kantor. Dia kayak Uje versi cewek, yang meyakinkan saya untuk menentukan apa mau saya lebih dahulu, baru nyari solusi atau menentukan dengan taktik apa saya meraih mau saya. 

Biasa, lulusan psikologi. Jadi ya lebih mateng, secara umur juga lebih tua. Hahak. 
MbaJel itu lagi fokus-fokusnya nyari "satu formula" buat sharing ke siapa aja yang dia kenal, untuk ngasih tau, bahwa kita sebenernya adalah makhluk yang on the way. On the way to go to heaven. 

Kita semua sudah tau, bahwa kita menginginkan surga. Kita semua sudah tau, bahwa surga itu ada di ujung jalan lurus yang lagi kita lalui saat ini di hidup. Hanya saja, dalam jalan utama ini, ada banyak belokan yang memanggil-manggil untuk dilewati. Kalo MbaJel bilang, "Dari jaman Nabi Adam, setan kan udah bilang, kalo dia bakal terus ganggu manusia dari jalan yang lurus, sampe kiamat." 

Nah, get the point? 

Seberapa jauh kamu belok? Silakan tanya ke diri sendiri, Diyan. 

Layaknya manusia yang lain, kita pasti bertanya-tanya kenapa, kan ya? Kalau kayaknya musibah dan cobaan beruntun datang. Saya pribadi nggak sedang bertanya kenapa. Tapi sedang menata hati supaya bisa nerima, dan terus bersyukur. Melihat kondisi keluarga yang, yah, sedang begitu deh. Melihat mimpi saya yang satu per satu mulai runtuh--karena mungkin saya kurang ambisius, atau apa pun itu. Melihat keadaan diri sendiri yang sedang mengenaskan. Macam manusia yang nggak punya hati, yang hatinya udah digantung di langit-langit kamar buat diketawain sebelum tidur, mulai bersarang, dan berdebu. 

Ya, saya lagi ngerasa nggak punya hati. Seperti udah bosen apa-apa disangkutin pake hati. Sekarang kalo ngeliat cuma dari realiti sama kenyataan aja. Bisa ternyata hati disetir buat ke arah sana. 

Ngetawain orang yang jatuh cinta (apalagi sama saya). Ngelirik jijik sama orang pacaran di Rumah Sakit yang ganggu banget ketawa-ketawa di ruang tunggu. Untuk hal-hal itu, MbaJel tau banget nih, karena kita ketawa bareng, hahaahaha. Tapi parahnya, beberapa kali menanggapi cerita mimpi-mimpi anak-anak cuma dengan "good! catch it!" Nggak pake hati. 

Mungkin sedang begitu banyaknya cobaan yang sedang datang, kali ya. Jadi hatinya kayak udah terkuras sendiri. 

Makanya MbaJel selalu ngingetin saya buat jangan ngeluh, karena ujian itu buat naik kelas. 

Inget, Diyan, mau naik kelas, nggak? 
Bersyukur tuh ditawarin Allah buat naik kelas. 
Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur!

Jumat, 19 Agustus 2011

hari ke-19

Pagi ini gue udah duduk di lantai 6 Wisma Korindo. Itu alamatnya sih di MT Haryono, tapi ngga tau kenapa gue lebih suka nyebut ini di Pancoran. Abisnya, letak Wisma Korindo ini emang.... yah pokoknya kalo dari arah Ps Minggu, tinggal muterin patung Pancoran, terus gedung pertama sebelah kiri adalah Wisma Korindo.

Yah, terserah lah ya di mana itu posisinya. Hahaha.

Sekarang adalah hari ke-19 buat gue. Hari apa? Yah, hari di mana gue mulai menjadi seseorang yang bukan lagi disebut sebahai mahasiswa. Yap! Fase mahasiswanya (sayangnya) baru aja lewat. Sampe saat ini gue masih bingung harus seneng apa sedih.

Memang yah, TKA semester lalu itu menyakitkan. Dia membuat waktu gue satu semester full mikirin dia. TKA, ohh, TKA. Tapi Alhamdulillah gue bias melalui itu. Dan pada saat sidang, MEMUASKAN! Nilai TKA gue A!

Alhamdulillaaaah :)

Hm, back to Wisma Korindo ini. Gue berada di sini, berstatus magang di Alcatel Lucent Indonesia. Entah karena gue bawa nama UI atau emang orang Alcatel ini lagi butuh banget orang, proses gue masuk sini singkat banget. Ngga ada seminggu setelah gue lulus sidang, yah, sekitar empat hari lah, gue nitip CV ke uda (kaka ipar gue yang memang kerja di sini). Gue nitip CV by email, jam 12an siang gue kirim, jam 3sore gue ditelpon dari sini. Katanya gue dipanggil untuk interview dan untuk posisi administrasi. Begini kira-kira percakapannya…

Alcatel: Selamat Sore, dengan Diyan?
Gue: Ya, maaf, ini siapa ya?
Alcatel: Saya Dewi, dari Alcatel. Kami udah terima CV mba, terus posisi yang ada itu administrasi, mba, gimana? Berminat ngga?
Gue: Oh, Alcatel. Ehm, saya ngga tau sama sekali tentang administrasi mba, karena basic saya emang komunikasi aja, mba, gimana ya?
Alcatel: Ia mba, tapi kita lagi butuh untuk posisi itu, kalo mba mau, nanti kita reschedule interviewnya
Gue: Hm, tapi diajarin dulu ngga, mba, nantinya kalo saya diterima?
Alcatel: Oh, ya, pasti, mba, pasti nanti timnya akan ngajarin mba, gimana mba? Mau coba?
Gue: Hm, ya…. Bo….leh, deh, mba…
Dan begitulah kira-kira. Bahkan gue masih ragu banget sampai dia akhirnya nutup telpon dan bilang bakal ngehubungin gue lagi.

Sampe gue akhirnya dipanggil interview, cuma lima menit, terus sekitar tiga jam kemudian gue diterima. Tanpa gue tau gaji gue berapa. :)

Yah, begitulah awalnya sampe saat ini gue udah ada di hari ke-19. Sebenernya gue bingung banget ini terjebak di lingkungan kerja yang kayak gini. Yang cuma bisa ngomong sama laptop dan isinya. Entah karena emang gue belum punya temen di sini atau apa, tapi yang jelas gue memang masih belum menemukan diri gue nyaman banget di sini. Tapi sebenernya, kalo gue memang mencari comfort zone, gue udah dapet! Di sini gue bisa pulang jam 4! Jam kantor yang menyenangkan. Kerjaan gue juga ngga banyak-banyak banget. Bahkan gue disebut si magabut mulu. :)

Memang ia sih, sampe hari ke-19 ini gue cuma merasa kerja keras itu hari pertama gue dapet laptop dari kantor. Karena ternyata atasan gue udah menimbun kerjaan buat gue selama gue masih belom dapet laptop, dan pas dapet laptop? Gue sampe begadang di dua hari weekend gue. Weekend booooook! Mau nangis ngga tuh minggu pertama ngeliat kerjaan begitu? Tapi ternyata, itu hanya berlangsung di tiga hari di minggu pertama. Jumat- Sabtu-Minggu. Sekarang? Bahkan gue bsa dibilang di sini kerjanya cuma nunggu jam empat. Terus siap-siap pulang.

Udah itu doang. Yah, begitulah kisah gue sampe di hari ke-19 di kantor gue :)

dan ini, adalah foto di mana gue meneruskan bakat anak-anak yang belom ter-explore, hahaha

itu kerjaan gue hari ke-dua di kantor, ngamatin jalanan dan patung pancoran, terus gue gambar deh di notes book yang gue bawa :D

dan ini meja kerja gue, memang terlihat banyak barang yang sok-sok menunjukkan banyak kerjaan, tapiiii... dokumen itu cuma buat di scan. :D

ini dia! yang bikin gue ngga mati gaya. laptop! karena ada dia, gue bisa twitteran, ym an, dan lain-lain, minimal gue melakukan komunikasi dengan orang lain meskipun lewat tulisan. kalo aja itu telpon bisa nelpon ke luar kantor, wah, what a wonderful life :D

oke next gue akan upload lagi kabar kerja gue, mungkin aja kemagabutan gue sih :D