Sebagai seorang ibu dari seorang toddler, akhirnya saya tiba pada sebuah debar yang lain. Sungguh menjadi ibu adalah perjalanan dengan sejumlah debar. Setiap hari.
Hari ini Keumala sudah mulai masuk sekolah. Kelas playground. Enam hari lagi, umurnya insyaa Allah 3 tahun. Orang tua saya takut dan cemas. "Masih kekecilan", kata mereka.
Saya memiliki keyakinan yang lain. Bagi saya, Keumala memiliki energi yang harus disalurkan. Saya terus menerus mengafirmasi Keumala, bahwa sekolah itu menyenangkan. Keumala bisa bermain dengan teman-temannya. Melakukan banyak hal. Dan dia excited.
Beberapa waktu ke belakang, Keumala sedang sangat agresif dan galak. Mungkin dia bosan melakukan kegiatan yang itu-itu saja setiap hari. Setelah masuk ke sekolah hari ini, yang ternyata saya tidak bisa antar (hiks ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜), saya dapat kabar baik dari orang tua saya dan gurunya. Semua bilang, "aman".
Am a proud mom, Dek!!!! ðŸ˜
Saya ambil cuti akhir tahun selama dua minggu, hari pertama saya kembali kerja dengan jadwal meeting yang sudah menanti, adalah hari pertama Keumala masuk sekolah. Sungguh jika ada ibu yang membaca ini, kalian tentu tau rasanya. Debar yang tak lagi bisa diungkapkan. Tapi alhamdulillah, Allah Maha Penolong.
Bapak saya menelpon, "Si Keumala udah di sekolah, anaknya langsung mau sama Bu Guru, utinya ga boleh masuk kelas, tapi Keumala nggak nangis".
Dari balik telepon, saya merasakan debar yang berbeda lagi. Senyum-senyum sambil bersyukur.
Alhamdulillah, terima kasih yaa Allah.
Situasi itu bertahan sampai selesai kelas dan Keumala bisa mengikuti kelas dengan baik. Meskipun, di foto masih terlihat belum senyum. Hahaha.
Semua guru juga bilang, kalau Keumala anak yang mandiri. Yah, memang tuntutan sebagai anak yang orang tuanya pisah, mungkin mandiri adalah hal yang tidak bisa ditawar. Saya percaya Keumala sudah memenuhi kemampuan dasar untuk berada di lingkungan lain selain keluarga saya.
Keumala harus belajar bersosialisasi. Tangki dalam dirinya yang kosong, harus diisi sedini mungkin. Kalau tidak dengan sosok ayah, semoga sosok guru dan teman-teman bisa menjadi sedikit penawarnya.
Semoga ini adalah keputusan tepat sebelum saya akhirnya bisa memilih siapa yang akan menjadi ayah sambungnya.
Selamat datang di langkah selanjutnya, Dek.
Terima kasih sudah menjadi Keumala yang baik hati.
Ibu sayang Keumala.
Bangga 💞
*abaikan tulisan tangan yang gemetar.
Tampilkan postingan dengan label Untuk Keumala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Untuk Keumala. Tampilkan semua postingan
Senin, 06 Januari 2020
Kamis, 14 November 2019
Mendung dan Pikiran Setelahnya
Cuaca mendung memang sering kali mengaduk perasaan. Khususnya buat saya yang jalan ninjanya sebagai anak melankolis.
Raga di kantor, jiwa dan pikiran di kamar.
Nonton film.
Selimutan.
Minum coklat hangat.
Minum coklat hangat.
Untuk makan, pesan di ojek online.
Tapi itu dulu. Jaman masih single. Setelah ada Keumala?
"Ibu, ayo main playdough"
"Iya, ayok."
Assalamualaikum, mendung.
Jangan ketawa kalian para single fighter. Can relate, ya? Ayo mutualan.
#anaktwitter :))
Jumat, 28 Juni 2019
Menemukan Tulisan yang Seharusnya Sudah Di-post
Menua bersama.
Pada sebuah waktu, saya terpantik oleh kalimat itu.
Terdengar indah ya? Ya, segala sesuatu yang dilakukan
bersama-sama memang terkesan lebih menyenangkan. Tapi bagaimana bila, kalau
janji itu harus direlakan dan tidak sanggup ditepati?
Manusia bisa punya banyak rencana.
Lalu, tentang kesendirian memang menyimpan banyak komentar. Padahal
belum tentu dengan sendiri, hidup jadi lebih tidak menyenangkan.
Pernikahan yang tidak bisa diteruskan.
Tak ada yang pernah bersiap untuk perceraian. Bahkan sampai
saat ini, di mana saya harus mengalaminya sendiri. Peristiwa ini masih tabu,
apalagi di keluarga saya. Tapi, bukan berarti hal ini menjadi hal yang tak bisa
terjadi.
Betapa sebuah hubungan dan komunikasi bisa seberantakan itu. Dan muara dari
segala permasalahan, tak pernah bisa terlihat di mana. Tidak pernah bertemu. Singkatnya,
kami hanya sanggup bilang, kalau jalan kami tidak cocok.
Lalu, bagaimana dengan tulisan saya di bawah, mengenai-- bagaimana kami bisa memutuskan bersama, dan lain-lain sebagainya?
Itu masa lalu.
Apa pun bisa berubah. Bahkan cuaca yang sudah
ada prediksinya pun bisa dengan mudah berubah. Bila dapat diterima dengan mudah
melalui bahasa keislaman, semua sudah kehendak Allah.
Apakah Allah menghendaki kebersamaan dan/ untuk/ juga
perpisahan? Pasti salah satu dari kalian akan bertanya ini setelah baca kehendak
Allah.
Saya bilang sekali lagi, sudah takdir.
Saya mempunyai takdir
sendiri jika menikah dengan A, saya punya takdir sendiri jika menikah dengan B,
dan saya juga punya takdir sendiri jika menikah dengan C. Saya hanya menjalani garis takdir.
Pasti berat alasan ini diterima nalar. Tapi saya yang tau dan merasakan sendiri, perjuangan untuk mempertahankan yang sama sekali tidak lagi cocok, adalah
sebuah kesia-siaan yang mutlak.
Hidup harus berjalan. Sampai nanti waktunya berhenti, sampai masing-masing dari kita mati.
Dan perceraian, hanyalah sebuah chapter.
Masih banyak
halaman-halaman lain yang lebih menarik untuk dikunjungi.
Keumala, fasten your seatbelt.
___
- Draft on 26 Juli, 2018
Saya memang tidak harus menceritakan semua hal tentang kegagalan ini. Dan tulisan-tulisan yang saya unggah, semua itu bukan untuk drama, apalagi untuk membuktikan bahwa saya tidak move on. Come on, open your mind. Saya rasa ini justru menjadi waktu dan babak baru kehidupan saya. Saya sudah rela tinggalkan semuanya di belakang.
Saya rasa, saat saya masih sulit menerima keadaan dan berdarah-darah, saya tidak dapat menulis kisah perpisahan. Atau tidak bisa mengunggah apa-apa. Tapi, saat saya tetiba membaca kembali draft ini, saya merasa sudah baik-baik saja. Makanya saya bisa unggah tanpa perasaan yang aneh. Hihihi.
Semua orang punya cara masing-masing untuk sembuh, kan?
Alhamdulillah, i'm okay
Selasa, 07 Mei 2019
Yang Terjadi Adalah
Pelan-pelan ya, saya coba kembali- dengan hati-hati memilih
bagian mana yang harus saya tuliskan. Bagi sebagian orang yang biasa menulis
tentang apa saja, menjadi terbungkam dan dibungkam, berarti bisa saja hidupnya berhenti.
Saya mengenal diri saya. Saya hanya butuh waktu untuk sembuh. Saya tidak trauma meskipun pernah patah, atau (mungkin) depresi.
Saya mencoba hidup kembali, setelah beberapa kali mati.
Banyak yang mengira, saya menghilang. Mungkin iya, saya pernah menghilang. Dan sesungguhnya saat itu, saya sedang dalam medan perang yang lain. Berperang yang bukan untuk menang atau kalah. Tapi untuk tetap bertahan- tetap sama-sama hidup- dan tetap sama-sama selamat.
Banyak yang mengira, saya menghilang. Mungkin iya, saya pernah menghilang. Dan sesungguhnya saat itu, saya sedang dalam medan perang yang lain. Berperang yang bukan untuk menang atau kalah. Tapi untuk tetap bertahan- tetap sama-sama hidup- dan tetap sama-sama selamat.
Saya memulai perjalanan rumah tangga dengan seseorang yang
menakjubkan. Saya tidak lagi punya simpanan kata untuk menggambarkannya. Hanya
mungkin, perasaan dan waktu-waktu itu dipenuhi dengan rasa takjub.
Butuh serangkaian waktu untuk berpikir, apakah saya akan menulis atau tidak. Karena jari-jari saya juga sudah kelu.
Butuh serangkaian waktu untuk berpikir, apakah saya akan menulis atau tidak. Karena jari-jari saya juga sudah kelu.
Sejak 2016 dan menikah, kehidupan saya berubah total. Saya
mulai belajar menyerahkan hidup saya, tentunya dengan keyakinan awal bahwa saya
menikah dengan orang yang memiliki satu visi, misi, dan tujuan yang sama dengan
saya.
Tak butuh waktu lama, banyak komitmen yang tidak terpenuhi. Betapa
pernikahan bisa sesulit itu.
Saya sudah resmi berpisah dengan lelaki yang pernah saya
pilih.
Tidak mudah untuk mengakui kegagalan ini. Tidak mudah pula untuk
berjuang dan mempertahankan kami. Tidak mudah pula setelahnya, untuk menjalani
kehidupan sebagai single working mom. Tapi semua ini hanya tidak mudah. Bukan
tidak mungkin.
Saya mengenal diri saya. Saya hanya butuh waktu untuk sembuh. Saya tidak trauma meskipun pernah patah, atau (mungkin) depresi.
Pasti ada pintu lain yang akan saya temui. Seperti rejeki,
ada yang hilang dan pasti ada yang akan datang. Selama masih ada usia, Allah
akan menetapkan rejeki dalam bentuk apa pun, demi bisa terus berusia.
Note: Saat ini saya sudah baik-baik saja. Kabar ini mungkin
sesuai perkiraan kalian, atau mungkin malah meledak di mata kalian saat kalian baca tulisan ini.
Intinya saat ini saya hanya berusaha kembali hidup dan berjalan sebagaimana
saya pernah bangkit dan terus berjalan dari jatuh-jatuh sebelumnya.
Saya mencoba hidup kembali, setelah beberapa kali mati.
Saya mencoba hidup kembali, setelah beberapa kali mati.
Senin, 05 November 2018
Kisah Sapih Menyapih Keumala
Masyaa Allaah.. Alhamdulillaah..
Allahu Akbar… Subhanallaah…
Keumala, makasih ya, Dek. Kamu
sangat-sangat-sangat koperatif dalam bab persapihan.
Jadi ceritanya, hampir setiap
masuk weekend, saya disandera sama Keumala. Ga boleh ngapa-ngapain, kecuali
nyusuin dia (direct breastfeeding dari lahir). Semakin tambah umurnya, semakin
amburadul gaya menyusunya, ditambah kayak makin jago nyari celah minta nyusu
terus. Singkat cerita, Sabtu kemaren, Keumala lagi iseng ngerjain Ibu dan
Utinya. Ga mau makan dari sore. Maunya nyusuuuuu terus. Nangisnya serius banget
udah kayak diomel-omelin.
Sepanjang malem juga tidurnya
jadi ga tenang, mungkin laper. Jadi cranky dan balik minta nyusu terus—lagi. Yha, ga kelar-kelar tuh, gitu aja teros. Sampe Ibunya kelaperan. Bangun
kliyengan karena tidur kebangun terus.
Di Minggu subuh, dia bangun
langsung turun dari kasur, “Mbu, minum”. Dengan mata zombie dan kliyengan saya
turun sama dia ambil minum. Abis dia minum sempet main, tapi saya tinggal tidur
(saya lagi period ya, ga usah perhatiin udah solat subuh apa belom, hfft).
Akhirnya dia nyusul ke kasur minta tidur lagi. Dan bener, dia tidur lagi. Tapi
setelah beberapa jam, saya bangun dan ngebiarin dia tidur, tadinya yaa—maunya gitu.
Tapi baru berdiri, Keumala langsung teriak, “Mbuuu, nyen” dan langsung kejer.
Wow. Super wow.
Sampe pindah kamar dan tetep
minta nyusu. Wow. Semua rencana hari Minggu pagi ketunda.
Akhirnya Uti bawain pasta gigi
dan dioles ke dada saya. “Liat tuh, Ibu pake obat”.
Keumala mematung di perut saya. Bener-bener mematung. Dia melotot sambil menggigit jarinya. Saya masih diam mengamati, “Apakah tangisnya akan pecah?”.
Keumala mematung di perut saya. Bener-bener mematung. Dia melotot sambil menggigit jarinya. Saya masih diam mengamati, “Apakah tangisnya akan pecah?”.
Lalu Uti datang lagi bawa Cerelac Puff. “De, mau
ini, nggak?”
Keumala langsung turun dari perut
saya. Mengejar Cerelac Puff. Saya melongo dan segera bangun.
Sungguh saya belum berniat nyapih
Keumala.
Walaupun sudah beberapa bulan lalu saya sounding di setiap saat dia
menyusu, saya bilang tanpa bosan, “Dek, nanti kalo udah 2 tahun, udah gede,
jadi udah nggak nyen lagi ya,” Biasanya isapannya terhenti, lalu menatap mata
saya, tapi setelah saya senyumin, pasti dia angguk-angguk. Saya kira, dia cuma mau
membuat saya senang aja gitu.
Waktu berjalan, sudah hampir jam
2 siang, Keumala belum mau tidur siang. Mungkin dia bingung, gimana caranya
tidur sama Ibu selain dengan nyen? Kita nonton TV bareng-bareng, ada kakak
sepupunya Tante, Oomnya. Keumala sudah makan siang, saya suruh dia tiduran di kasur
sambil saya kipas-kipas. Dan ga lama kemudian, amazingly, belum pernah terjadi
sama saya, dia tidur. Yaa Allaah, alhamdulillah.
Saat dia tidur, saya bilang ke
Tantenya, “Nanti kalo dia ngelilir minta nyen gimana?”
“Udah lanjut aja (sapihnya),
anaknya ga rewel ga teriak2” Kata Tantenya.
Sebenernya saya masih 50:50 niat
menyapih dadakan ini, mengingat usia Keumala belum genap 2 tahun. Masih kurang
2 bulan setengah. Saya juga nanya ke Kakak saya, “Gue dosa ga? Kan, Keumala
belom 2 tahun?”
“Ya enggaklah. Tapi tersetah kalo masih mau disusuin. Ini mah anaknya ga drama, biasanya nyapih itu diulur-ulur. Misalnya hari ini gagal, besok ulang lagi, ulang lagi, sampe 2 tahun bener-bener berenti. Lah, ini hari pertama aja udah nerima anaknya.” Jelas Kakak saya yang anak-anaknya sudah SD.
“Ya enggaklah. Tapi tersetah kalo masih mau disusuin. Ini mah anaknya ga drama, biasanya nyapih itu diulur-ulur. Misalnya hari ini gagal, besok ulang lagi, ulang lagi, sampe 2 tahun bener-bener berenti. Lah, ini hari pertama aja udah nerima anaknya.” Jelas Kakak saya yang anak-anaknya sudah SD.
Bener juga, sih, Kesempatan emas, ya.
Menjelang malam, saya
dag-dig-dug. Gimana yaa, nanti kalo dia rewel? Saat sudah siap tidur dan masuk
kamar, biasanya baru matiin lampu atau nyalain AC, Keumala udah ngerengek, “Mbuu,
nyeen”. Andalan. Udah apal Ibunya.
Tapi malam tadi, setelah saya
nyalain AC dan matiin lampu kamar, dia naik kasur, dan saya bilang mau ke kamar
mandi dulu. Refill oles pasta gigi- HAHAHA. Saya masuk dan keluar kamar mandi dengan
harap-harap cemas. Nangis nggak, ya ini
anak?
Nggak nangis. Alhamdulillah.
Cuma kita kayak orang baru kenal.
Hmmm, ngapain ya ini? Hmmmmmm, mau tidur sih, tapi ngapain dulu yaa ini? YES, AWKWARD BGT HAHA.
Saya memutuskan nyalain lampu
lagi dan bacain Keumala buku Halo Balita. Dia bener-bener udah ngerti semua
yang diceritain. Lalu dia mengantuk, yawn. Sekali lagi, saya kira kejadian ini hanya
ada di TV. Anak belom 2 tahun, didongengin bisa menguap.
“Nah, Dede udah
ngantuk, kita bobo, ya..”
Saya mematikan lampu dan
membacakan beberapa ayat yang masuk dalam bacaan sunnah sebelum tidur. Nggak
lupa dengan doanya. Seraya saya selipkan doa saya yang keras banget dalam hati, “Yaa Allah tolong berikan kemudahan dalam proses ini, mala mini, dan
setelahnya. Aamiiiiiiiiiiin”
Setelah itu, Keumala hanya
guling-guling nyari posisi. Guling-guling peluk guling. Guling-guling ambil
bantal ditaro di badannya. Serba guling-guling salah tingkah, lah. Saya masih
deg-degan. “Apakah tangisnya akan pecah?”(2).
Dan ga lama kemudian, amazingly, belum pernah terjadi sama saya (selain tadi siang) dia tidur.
Yaa Allaah, alhamdulillah (2).
Dalam tidurnya, beberapa kali
Keumala bangun, tapi cuma merengek. Kebangun pertama mau dikasih minum,
ditawarin UHT nggak mau. Kebangun ke-dua, ke-tiga, ke-empat, nangis di kasur, nggak
mau digendong, nggak mau dielus-elus, nggak mau sama Ibu. Marah kayaknya sama
Ibu. Hiks.
Tapi saya mengerti sekali, buat dia, nenen is life. Ketika saya
harus konsisten untuk berhenti menyusui, tega nggak tega, saya harus siap
dengan risikonya. Awalnya saya pikir, saya harus gendong2 Keumala sampe tidur
lagi, muter-muter keliling rumah sambil menenangkan nangisnya, ternyata Maha
Besar Allah dan kehendak-Nya. Alhamdulillah semua sangat wajar, jauh di bawah
kekhawatiran saya sebelumnya.
Pagi ini, Keumala bangun saat
saya mandi. Dan dia panggil,
“Mbu… Minum”
Masyaa Allaah.. Alhamdulillaah..
Allahu Akbar… Subhanallaah…
Keumala, makasih ya, Dek. Kamu
sangat-sangat-sangat koperatif dalam bab persapihan.
Sebelumnya saya pernah baca-baca cara
menyapih, WWL (Weaning With Love), dll, dll. Tapi ternyata anak saya harus disapih
dadakan, dan Alhamdulillah lancar. Saya rasa, ketika seorang Ibu normal yang
menyayangi anaknya dan tiba di masa menyapih, harus menyapih, metode apa pun pasti
dilakukan dengan Love. Weaning With Love itu hanya teori, praktiknya, seorang
Ibu dan anak yang lebih tau.
Happy Weaning, Mommies!!
Jumat, 08 Juni 2018
Pantry Sore Ini
Saya datang ke tengah tiga orang wanita yang sedang ngemil sambil ngobrol di pantry. Ini bulan puasa, hari masih sore. Iya, mereka non islam dan ada yang sedang menstruasi.
Lalu saya berjalan menuju kulkas.
Enam pasang mata melihat saya.
"Lagi mau ngambil susu, buat buka puasa, kemaren aku taro freezer, hihihi" sambil nyengir dan memegang susu kotak coklat dingin saya membalas tatapan mereka.
"Eh, itu punya siapa sih, bolu udah dipotong2 dari kemaren ngilerin banget?" tanya salah seorang wanita manis, Mba Ratna
"Ngga tauuu" ketiga dari kami menjawab kompak
"Bukannya yang udah di sini milik umum?" tanya saya polos
"Eeee, kalo yang ditaro sini (meja), terus ditinggalin sama orangnya, iya milik umum. Kalo yang di kulkas kan disimpen. Kita kan punya adat istiadat ya masa ambil-ambil aja? Jangan dong, kecuali laper banget" sambil senyum manis yang buat Mba Ratna tambah manis
"Iyaya" jawab saya
"Paling kalo udah laper banget ya diambil dua potong. Hahahaha. Terus pake note, 'ini harganya berapa? Saya ambil dua potong, soalnya mau mati, kelaperan' Hahahaha" Kembali Mba Ratna berkelakar.
Lalu kata-kata adat istiadat menyangkut di otak saya. Betapa manusia sungguh harus memiliki rem untuk setiap yang dilakukannya. Dengan pegangan adat istiadat tersebut, sesuatu milik seseorang tetap terjaga.
Keumala, baik-baik lah, Nak. Dalam belajar segala akhlak baik dan mulia. Serta norma, apalagi adat istiadat.
- Cikini, 8 Juni 2018
Langganan:
Postingan (Atom)
