Tampilkan postingan dengan label Surat Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Kecil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2019

Jumat, 28 Juni 2019

Menemukan Tulisan yang Seharusnya Sudah Di-post


Menua bersama.

Pada sebuah waktu, saya terpantik oleh kalimat itu. 
Terdengar indah ya? Ya, segala sesuatu yang dilakukan bersama-sama memang terkesan lebih menyenangkan. Tapi bagaimana bila, kalau janji itu harus direlakan dan tidak sanggup ditepati? 

Manusia bisa punya banyak rencana. 

Lalu, tentang kesendirian memang menyimpan banyak komentar. Padahal belum tentu dengan sendiri, hidup jadi lebih tidak menyenangkan.


Pernikahan yang tidak bisa diteruskan.
Tak ada yang pernah bersiap untuk perceraian. Bahkan sampai saat ini, di mana saya harus mengalaminya sendiri. Peristiwa ini masih tabu, apalagi di keluarga saya. Tapi, bukan berarti hal ini menjadi hal yang tak bisa terjadi.
Betapa sebuah hubungan dan komunikasi bisa seberantakan itu. Dan muara dari segala permasalahan, tak pernah bisa terlihat di mana. Tidak pernah bertemu. Singkatnya, kami hanya sanggup bilang, kalau jalan kami tidak cocok.

Lalu, bagaimana dengan tulisan saya di bawah, mengenai-- bagaimana kami bisa memutuskan bersama, dan lain-lain sebagainya?

Itu masa lalu. 

Apa pun bisa berubah. Bahkan cuaca yang sudah ada prediksinya pun bisa dengan mudah berubah. Bila dapat diterima dengan mudah melalui bahasa keislaman, semua sudah kehendak Allah.
Apakah Allah menghendaki kebersamaan dan/ untuk/ juga perpisahan? Pasti salah satu dari kalian akan bertanya ini setelah baca kehendak Allah.

Saya bilang sekali lagi, sudah takdir. 

Saya mempunyai takdir sendiri jika menikah dengan A, saya punya takdir sendiri jika menikah dengan B, dan saya juga punya takdir sendiri jika menikah dengan C. Saya hanya menjalani garis takdir. 

Pasti berat alasan ini diterima nalar. Tapi saya yang tau dan merasakan sendiri, perjuangan untuk mempertahankan yang sama sekali tidak lagi cocok, adalah sebuah kesia-siaan yang mutlak.

Hidup harus berjalan. Sampai nanti waktunya berhenti, sampai masing-masing dari kita mati.

Dan perceraian, hanyalah sebuah chapter. 

Masih banyak halaman-halaman lain yang lebih menarik untuk dikunjungi.

Keumala, fasten your seatbelt.

___





- Draft on 26 Juli, 2018
Saya memang tidak harus menceritakan semua hal tentang kegagalan ini. Dan tulisan-tulisan yang saya unggah, semua itu bukan untuk drama, apalagi untuk membuktikan bahwa saya tidak move on. Come on, open your mind. Saya rasa ini justru menjadi waktu dan babak baru kehidupan saya. Saya sudah rela tinggalkan semuanya di belakang. 

Saya rasa, saat saya masih sulit menerima keadaan dan berdarah-darah, saya tidak dapat menulis kisah perpisahan. Atau tidak bisa mengunggah apa-apa. Tapi, saat saya tetiba membaca kembali draft ini, saya merasa sudah baik-baik saja. Makanya saya bisa unggah tanpa perasaan yang aneh. Hihihi. 

Semua orang punya cara masing-masing untuk sembuh, kan? 
Alhamdulillah, i'm okay 




Selasa, 07 Mei 2019

Yang Terjadi Adalah

Pelan-pelan ya, saya coba kembali- dengan hati-hati memilih bagian mana yang harus saya tuliskan. Bagi sebagian orang yang biasa menulis tentang apa saja, menjadi terbungkam dan dibungkam, berarti bisa saja hidupnya berhenti.

Saya mencoba hidup kembali, setelah beberapa kali mati.
Banyak yang mengira, saya menghilang. Mungkin iya, saya pernah menghilang. Dan sesungguhnya saat itu, saya sedang dalam medan perang yang lain. Berperang yang bukan untuk menang atau kalah. Tapi untuk tetap bertahan- tetap sama-sama hidup- dan tetap sama-sama selamat.

Saya memulai perjalanan rumah tangga dengan seseorang yang menakjubkan. Saya tidak lagi punya simpanan kata untuk menggambarkannya. Hanya mungkin, perasaan dan waktu-waktu itu dipenuhi dengan rasa takjub.

Butuh serangkaian waktu untuk berpikir, apakah saya akan menulis atau tidak. Karena jari-jari saya juga sudah kelu.

Sejak 2016 dan menikah, kehidupan saya berubah total. Saya mulai belajar menyerahkan hidup saya, tentunya dengan keyakinan awal bahwa saya menikah dengan orang yang memiliki satu visi, misi, dan tujuan yang sama dengan saya.
Tak butuh waktu lama, banyak komitmen yang tidak terpenuhi. Betapa pernikahan bisa sesulit itu.

Saya sudah resmi berpisah dengan lelaki yang pernah saya pilih.

Tidak mudah untuk mengakui kegagalan ini. Tidak mudah pula untuk berjuang dan mempertahankan kami. Tidak mudah pula setelahnya, untuk menjalani kehidupan sebagai single working mom. Tapi semua ini hanya tidak mudah. Bukan tidak mungkin.

Saya mengenal diri saya. Saya hanya butuh waktu untuk sembuh. Saya tidak trauma meskipun pernah patah, atau (mungkin) depresi.

Pasti ada pintu lain yang akan saya temui. Seperti rejeki, ada yang hilang dan pasti ada yang akan datang. Selama masih ada usia, Allah akan menetapkan rejeki dalam bentuk apa pun, demi bisa terus berusia.  

Note: Saat ini saya sudah baik-baik saja. Kabar ini mungkin sesuai perkiraan kalian, atau mungkin malah meledak di mata kalian saat kalian baca tulisan ini. Intinya saat ini saya hanya berusaha kembali hidup dan berjalan sebagaimana saya pernah bangkit dan terus berjalan dari jatuh-jatuh sebelumnya. 
Saya mencoba hidup kembali, setelah beberapa kali mati.

Rabu, 17 Februari 2016

Pada Satu Lelaki

Rasanya kami tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal lain selain masa depan kami. 

Semalam kamu mengirimi saya foto lewat LINE dengan tangan berlumuran oli. Beberapa jam sebelumnya kamu bilang akan pergi ke bengkel untuk melihat progress motor yang kamu titipkan di sana. Saya sendiri sedang sibuk mencari barang-barang seserahan sampai counter Watson di Margo City menunda waktu tutupnya. "Badan aku bau bensin" pesan itu masuk lewat LINE diikuti foto-foto yang kamu kirim terkait aktivitas di bengkel. Saya baru tahu, kalau mesin motor benar-benar bisa dibelah. Lalu kamu memastikan semua rencana kamu untuk menyiapkan motor untuk kebutuhan saya sehari-hari nanti setelah menikah, berjalan sesuai dengan harapan kamu. Sampai kamu sendiri yang ikut membelah mesin motor. 


Rencana dan tujuan, itulah yang sibuk kami siapkan dan lakukan. 

Beberapa bulan lalu, saya pernah sakit karena seharian hunting dan janjian dengan beberapa vendor catering untuk test food. Saat itu kerjaan saya di kantor lagi super duper padat. Iya, saya tahu, pekerjaan kamu pun. Hingga kamu harus stay di Solo sekian hari. Saya lupa berapa hari. Karena yang saya ingat selama kamu di sana, kamu mengejar kabar dari saya, memastikan segala urusan terkait pernikahan kita yang kamu serahkan ke saya, aman terkendali setelah ter-pending satu minggu karena kesibukan saya di kantor. Sepulang dari Solo, kamu langsung gegap gempita menagih jadwal meeting dengan vendor-vendor catering yang saya temui sebelumnya. Pertengkaran kerap terjadi. Tapi saya dan kamu memutuskan untuk stay, mengingat apa yang sedang kita siapkan, apa yang sedang kita lakukan adalah hal-hal yang berhubungan dengan tujuan kita; menikah, dan bermasa depan bersama. 


Sebuah perasaan tak terlupakan yang hadir pada pertemuan ke-empat. 

Pada pertemuan kita ke-empat, saat segala sesuatu yang kita siapkan untuk rencana menikah, belum ada yang fiks saat itu. Tapi diam-diam, kamu sudah sibuk mencari rumah demi mengamankan hidup saya dan kamu nanti setelah menikah. Sepulang dari rumah kamu, setelah perkenalan saya dengan keluarga kamu, kamu mengajak saya melihat kondisi rumah yang kamu cari di OLX.  Pada saat itu, benar-benar hati saya terjun bebas entah seberapa jauh jaraknya. Saya mungkin baru saja membuat keputusan akan terus jatuh cinta berkali-kali kepada kamu. Bukan karena rumah hasil pencarian OLX, tapi karena rencana (matang) kamu satu demi satu kamu wujudkan, kamu buktikan, tentunya saya menjadi alasan dan orang yang ada dalam usaha kamu membuat rencana (se)besar; menikah. 


Kalimat sakti di penghujung pertemuan pertama kami.

31 September 2015, adalah pertama kalinya kita bertemu. Untuk sebuah alasan yang sama-sama tidak masuk dalam plan kita. Di akhir pertemuan pertama yang berlangsung selama kurang lebih satu jam setengah itu, kita terlibat dalam arus topik yang deras. Kamu bukan orang yang basa-basi dan suka membuai. Pada saat itu saya juga sedang tidak mood untuk dibuai. Di penghujung pertemuan yang bisa disimpulkan, kamu bilang "Semua yang saya cari ada di kamu. Dan semua yang kamu cari ada di saya." Kamu berhasil membuat saya mengingat betapa pertemuan kita benar-benar bermakna di samping "niat karena Allah" yang selalu terngiang sepanjang pembicaraan kita saat itu. Saya pikir, mungkin plan-plan selanjutnya seperti yang sudah kamu wujudkan di atas, adalah buah pemikiran saat kamu berjalan pulang setelah pertemuan pertama kita. Hingga ada pertemuan ke dua, kamu dan saya sama-sama kembali meyakinkan diri. Dan kamu bilang, "tugas kamu sekarang tunggu saya ketemu Bapak kamu." 


Satu hal yang hanya kamu yang melakukannya. Dan saya tak punya alasan untuk bilang "tidak".

Hari itu dipilih, karena weekend. 11 Oktober 2015, kamu berhasil menemukan jalan ke rumah saya. Meskipun kamu harus main jemput-jemputan dengan kakak saya di depan gang. Hari itu merupakan pertemuan ke-tiga antara saya dan kamu. Saya tidak terlalu tahu persis kalimat pamungkas apa yang kamu sampaikan ke Bapak saya. Karena saya sibuk meracik cocktail untuk kamu di dapur. Dan kamu bilang, saya tidak perlu tahu sekarang. Nanti setelah menikah, baru kamu akan beritahu. 
Pada akhir acara makan siang, kepada Bapak, kamu meminta izin untuk berkomunikasi dengan saya. Iya, untuk chatting. "Silakan" adalah kata yang akhirnya keluar dari bibir Bapak yang tersenyum. Karena sejak pertama bertemu, kita sama-sama tidak pernah berhubungan lewat media apa pun. Mungkin hanya lewat doa. Dari situ, dengan restu Bapak saya, kamu mulai menghubungi saya lewat telepon. Dan kita selalu membahas rencana kita; menikah. Saya tidak pernah bisa bilang tidak untuk semua yang kamu rencanakan untuk kita. Saya setuju dengan kalimat yang kamu ucapkan di pertemuan pertama kita, "Semua yang saya cari ada di kamu. Dan semua yang kamu cari ada di saya".


Perjalanan kita begitu singkat untuk sampai di hari ini. Hari yang sungguh disibukkan oleh rencana kita; menikah. 

Pada satu lelaki, 
Saya memilih, menerima, bersedia, dan siap untuk menikah dengan kamu, Yusuf Kharisma Putra. Mari tetap berdoa untuk kelancaran seluruh rencana kita. 

Minggu, 22 Maret 2015

Kepada Diyan



Jari-jarimu itu sedang menulis tentang kisah dari sebuah nama. Aku duduk di depanmu sambil sesekali pura-pura tak tau kalau matamu hampir meneteskan air mata. Air mata yang kali ini tak hanya turun dari matamu, tetapi juga turun dari mata langit di atas kafe hitam putih tempat kau menghabiskan Kopi Toraja kesukaanmu. 
Kenapa kau takut menangis? 
Menangislah, adik kecil. Kau akan tetap menjadi adik kecil bagi kakak-kakakmu walau mereka begitu jauh. Kau tak pernah boleh dewasa kalau takut menangis hanya karena dibilang umurmu sudah berkepala dua dengan angka lima di belakangnya. 

Dari aku; bayanganmu. 

Senin, 24 Maret 2014

Bahagia Itu...

Ulang taun kemarin, saya dapet banyak cinta. Berupa ucapan, doa, dan kejutan. Yap, kejutan. Karena itu tadi, saya nggak ekspek apa-apa. Alhamdulillahirabbil alamin saya dikelilingi orang-orang yang sayang sama saya. Mereka gila! Saya cinta! :* 

Foto seadanya yah, diambil serabutan sama entah siapa, yang ulang taunnya masih jetlag.
Terima kasih, Malam Puisi Depok. Saya jatuh cinta sama kalian :) 
Terharunya nggak karuan. Apalagi pake ada typo :') Coba dicari mana typonya #yaelahdiyan

Ternyata, saya baru ngeh, mereka ini, sahabat-sahabat saya dari jaman di kampus, yang bikin dunia kampus berwarna dengan traveling ke mana-mana, mulai dari main ayunan, ngalay di jembatan video klip Cakra Khan di kampus, sampai nyasar-nyasar di Bandung, dari nonton Payung Teduh menuju senja, sampai ngopi cantik ala sosialita, sama merekaaa!! Saya punya hutang sebanyak dosa saya karena belum pernah ngomongin mereka di blog ini. Ya, karena kami terbiasa bersama. :) 

Hana, Vindy, Viena. Mereka tauk saya suka blueberry. Yang asem-asem. Soalnya kalo sama mereka, dunia saya udah manis. Jadi saya butuh penyeimbang rasa supaya nggak diabetes penuh kemanisan. #eaaaa. Hahaha. Tapi katanya, yang blueberry-nya abis, jadi dibawain yang stroberi. Saya merasa sangat princess dikasih kue seunyu itu. Hanya mereka yang bikin saya merasa begitu. Hahak. Butuh waktu lama buat akhirnya itu kue dipotong. Sayang, maunya dipajang ajaaaaaa.
Liat nggak? Mereka udah bisa ketawa setelah saya memutuskan "Oke, kita potong kuenya!!!" *one of the hardest thing, yesterday* Wkwkwkwk.

Yap. Alhamdulillahirabbil alamiin. 

Terakhir, saya hanya mau bilang makasih atas kasih sayang yang melimpah dari kalian. Kegeeran yah? Hihi. Saya bisa ngerasain kasih sayang itu di mata kalian, loh. Sungguh! 
Semoga kebahagiaan ini bukan hanya milik saya, tapi mereka. Mereka yang berusaha menjadi sumber kebahagiaan saya. Terima kasih sebanyak dosa-dosa saya. :')

I think i'm in love with surprise. Hahaha. 

Kamis, 20 Maret 2014

Dua Puluh Empat

Ternyata, semakin sederhana (perayaan) ulang tahun, semakin terasa di dalam hati maknanya.

Selamat ulang tahun, Diyan. 

Terima kasih kepada semua yang bersedia mengucapkan dan mendoakan. Semoga semua doa yang baik-baik, akan berbalik ke kalian juga.

Saya orangnya gampang terharu. lho. Lain kali hati-hati, yah, kalo mau bikin surprise. Hehehe

Selasa, 19 Maret 2013

19 Maret 2013

Masih menikmati. 

Pernah merasakan bahwa keberkahan tumpah ruah di hari ulang tahun kamu? Itulah yang saya rasakan. Seharian ucapan alhamdulillah berdesir sampai di sela-sela pembuluh darah. Nikmat Tuhan itu selalu tak bisa didustakan.

Sungguh, terlalu banyak cerita yang sulit untuk diceritakan dengan menulis di sini. Semua itu saya pilih  dirasakan di dalam hati dan menjadi moment yang tersimpan di folder 19 Maret 2013 di dalam pikiran.

Media sosial berkali-kali (hampir selalu) memiliki peran penting. Saya mendapat nilai A dalam Tugas Kuliah Akhir, mendapat ucapan selamat dari dosen-dosen penguji karena data-data saya lengkap tentang tema media sosial sebagai sarana peningkatan penjualan dan citra perusahaan. Kali ini, meskipun berbeda tema, pun begitu. Media sosial berperan sebagai penghubung saya dengan teman-teman saya yang sudah berpisah pandang cukup lama dengan saya. Meskipun SMS dan telepon sebenarnya sarana yang paling saya suka. Hehe.

Terima kasih, semuanya. Selalu ada cerita dalam setiap waktu. Pada waktu ini, cerita ini menjadi sangat berharga. Melihat betapa banyak orang yang menyempatkan waktunya mengucapkan, mengingatkan, dan mendoakan yang terbaik untuk saya.  

Bless them, God :)

*posting sambil makan pizza dan nyicip-nyicip lasagna PHD dari kakak saya yang ternyata lebih enak dari Pizza Hut itu sendiri